Kantin cukup lengang karena belum jam makan siang. Ayu baru saja menyelesaikan sarapannya yang terlambat saat Rani dan Rika bergabung dengannya.
“ Tumben siang gini baru ke kampus, Ay ?” Rani meletakkan piring siomaynya.
“ Lagi males. Lagipula udah gak ngapa ngapain, tinggal nunggu nilai lengkap.”
“ Kamu tadi dapat salam.”
“ Dari ?”
“ Pak Rayyan …. tadi ketemu di depan.”
“ Pak Rayyan ?” Ayu mendorong piring kosongnya.
“ Iya …" sahut Rika antusias ,” Sudah hafal kalau kita selalu barengan kali ya … begitu cuma ada aku sama Rani nitip salam ke kamu.”
Ayu cuma mengguman, berlagak sibuk dengan es campurnya Satu lagi datang …..
Arfa : Lagi dimana ?
Ayu : Kampus
Arfa : Rayyan sudah pulang, mama mengundang makan siang
Ayu : Kapan ?
Arfa : Siang ini. Aku tahu sudah gak ada kegiatan lagi, jangan cari alasan
Ayu : Dimana ?
Arfa : Aku berangkat ke kampusmu sekarang
Ayu : Bilang aja dimana, saya bisa pergi sendiri Pak
Arfa : Tunggu nanti aku telepon kalau sudah di parkiran.
Arfa : Jangan aneh aneh menghindar,
Arfa : atau aku bakal minta setiap mahasiswa yang lewat untuk mencarimu
Ayu mendengus kesal, memasukkan ponsel ke saku dan menghabiskan es campurnya dengan semangat empat lima.
Rani dan Rika berpandangan ,”Ada apa ?” tanya mereka bersamaan.
“ Pak Arfa.”
“ Rika, berarti apa yang kita pikirkan benar ya …" Rani toss dengan Rika.
“ Kalian mikir apa ?”
“ Kami awalnya sempat berpikir Pak Arfa naksir kamu, tapi kemudian berpikir kalau itu ternyata salah setelah mendengar yang kamu ceritakan dikantornya,”
“ Lalu …. kalau menurut ceritamu Bu Jenny itu adiknya, artinya tebakan kami benar.” Sahut Rika, mendekatkan diri pada Ayu ,” Kayaknya bukan sekedar menggodamu sebagai anak kecil deh …. “
“ Aaa.... mereka semua menyebalkan.” Ayu mendorong mangkuknya dengan tampang kesal.
“ Termasuk aku ? Boleh aku minta maaf duluan ?” Rayyan bergabung duduk di meja mereka ,” Apa kabar Ayu ?”
“ Kabur, Pak .” Ayu masih kesal ,” Udah ngantor aja ?”
Rayyan menggeleng ,” Hari ini cuma lapor dan menyerahkan berkas aja. Bareng pergi makan siang ke tempat mama ?”
Ayu tergoda untuk mengiyakan tapi takut Arfa bakal melaksanakan ancamannya ,” Gak usah, Bapak. Terima kasih.”
Tertawa mendengar Ayu menekankan kata Bapak dengan kejengkelan yang tidak ditutupi. Dengan senyum lebar menerima kopinya ,” Terima kasih, kopi tubruk ini bikin kangen.”
“ Jadi benar kalau keluarga Bapak, bu Jenny dan Pak Arfa itu sahabat keluarga Ayu ?” tanya Rika.
“ Ya. Dan dia masih ngambek aja karena kita tidak memberitahu dari awal.”
“ Anak kecil sih bisanya cuma ngambek.” gerutu Ayu disambut tawa kedua temannya ,” Mau ngelawan takut kualat ama orang tua.”
“ Orang tua ….” Rayyan tergelak melihat Ayu cemberut ,” Dan orang tua itu sudah telepon.” ujarnya mendengar ponsel Ayu berbunyi.
Ayu mendesah ,” Aku duluan. Permisi Bapaaaak.”
“ Pergilah.” ujarnya memberi tanda Ayu untuk segera pergi ,” Biar aku yang bayar.” lanjutnya melihat Ayu meraih dompet.
Ayu melambaikan tangan dan bergegas pergi ,” Iya …..” diangkatnya telpon.
“ Aku di tempat parkir Jenny.” Suara berat itu terdengar geli mendengar nada kesal dan terburu buru.
“ Ok.” Ayu mematikan ponsel dan bergegas ke tempat parkir. Mendesah jengkel melihat Arfa berdiri dengan tenang disamping mobilnya.
“ Good girl.” Arfa tertawa melihat Ayu buru buru masuk dan menutup pintu. Dianggukannya kepala sekilas pada beberapa mahasiswa yang menyapa.
“ Kenapa mesti nunggu disini sih ? Pake keluar segala.” omel Ayu sambil mengatur nafas.
“ Nih, minum dulu ?”
“ Gak usah, ayolah cepat keluar dari sini. Seneng banget sih jadi perhatian orang.”
Arfa tersenyum, menyalakan mesin dan menjalankannya pelan. Dibiarkannya Ayu menggerutu sambil membuang pandangan keluar jendela. Pasti ia risih dengan tatapan ingin tahu yang dilontarkan orang yang lalu lalang di parkiran tadi Isssh …. tolong bibir manyun itu dikondisikan, apa kamu nggak sadar itu sangat menggemaskan ?
Ayu menghembuskan nafas setelah cukup jauh.
“ Masih ngambek aja.”
“ Nggak.”
Arfa tertawa, mengacak rambut Ayu sampai ikatan rambut longgarnya berantakan.
“ Aaah …. berantakan deh, Pak.”
“ Pak ….?”
Ayu mencibir ,” Iya, keberatan ? Atau paman ?”
Arfa menghela nafas ,” Apa aku benar benar terlalu tua menurutmu ?” memelankan suaranya ,” Atau memang aku tidak tahu diri …"
“ Nggak kok … bukan gitu. Maksudku …...” melotot melihat tampang Arfa kembali jahil ,” Aaah. Keterlaluan. Bapak sengaja mempermainkanku lagi ….” Ayu menghentakkan kaki sebelum melipat tangan di d**a dan membuang muka.
“ Iya … iya … maaf.” Arfa mengusap kepala yang masih berpaling itu ,” Tapi benar, jarak usia kita cukup jauh. Apa kamu lebih nyaman dengan yang seumuran ?”
Ayu memelihara diamnya ... bukan tua, tapi matang. Entahlah, apa rasa nyaman ini yang diperlukan untuk sebuah hubungan ?
Arfa menatap Ayu, dapat merasakan gadis itu tidak lagi jengkel … hanya sekarang tengah memikirkan sesuatu. Apakah kamu memikirkan tentang kita ? Aku akan memberimu waktu … dan tidak akan menyerah meyakinkanmu. Sampai pada saatnya kamu merasakan Pulang adalah saat kita bersama, seperti yang kurasakan saat ini.