Perlahan mobil memasuki halaman rumah tua yang masih sangat terawat itu, berhenti di samping mobil yang biasa dikendarai Jenny.
“ Ayo …" Arfa berputar membukakan pintu buat Ayu saat melihat gadis itu tampak ragu.
Mengapa aku tidak bisa menganggapnya berkunjung ke rumah opa …
Arfa meraih bahu Ayu ,” Gak usah gugup gitu, yang didalam sana kamu kenal semua.”
Ayu menghembuskan nafas ,” Akan lebih mudah kalau saya datang sendiri atau tadi bareng Pak Rayyan.”
Arfa tersenyum, perlahan mendorong punggung Ayu ,” Anggap saja aku tidak mengatakan apa apa padamu sebelumnya. Aku hanya Buyung, cucu opa.”
“ Udah terlanjur.”
“ Itu mulut gak usah manyun gitu. Bikin gemes tahu ?” diraihnya tangan Ayu dan membawanya masuk melalui pintu samping yang langsung ke ruang tengah ,” Oma … Mama … Nih Ayu sudah datang.”
Oma meletakkan gulungan benangnya ,” Ah, sini sayang. Sudah gak ada kuliah akhir semester begini kan ?” dipeluknya gadis yang masih berdiri kikuk disamping Arfa.
Mama keluar dari dapur ,” Ayu …. dijemput Arfa tadi ?”
“ Iya, Tante. Apa kabar ?”
“ Baik.” dibimbingnya gadis itu duduk di sofa, sementara Arfa beranjak ke ruang makan ,” Tadi mau bilang bareng Rayyan aja, tapi ternyata Arfa sudah di kampusmu.”
“ Tadi ketemu Pak Rayyan”
“ Panggilnya jangan pak dong, kalau diluar kampus. Tante berasa tua nih .”
Ayu tertawa ,” Kebiasaan, tante.”
“ Bandel emang anak ini ma ….” Jenny turun dari lantai dua sambil menggendong lelaki kecil dan diikuti perempuan berambut cepak ,” Kamu sudah pernah ketemu Kak Novi kan ?”
Ayu mengangguk ,” Iya pas nyerahin tugas kerumah Pak Rayyan.”
“ Kakak … Ayu. Kakak.” sergah Jenny jengkel.
Ayu memasang tampang jahil Emang kalian aja yang bisa bikin jengkel …
Arfa tersenyum, mengulurkan segelas air ,” Minum dulu.”
“ Makasih.”
“ Fine, kalau kamu panggil bapak ama ibu diluar kampus, aku panggil kamu kakak ipar di kampus.”
Huk ….. Ayu tersedak.
Arfa menepuk pelan punggungnya sampai Ayu bisa bernafas normal ,” Hati hati, Jenny suka beneran kalau mengancam.”
Ayu memajukan bibirnya dan segera menariknya kembali saat Arfa menatapnya dalam.
Jenny dan mamanya bertukar pandang, memberi kode agar Arfa meninggalkan mereka.
“ Aku kedalam dulu ketemu papa.” Arfa mengusap bahu Ayu sebelum meninggalkan ruang tengah, memberi ruang pada Ayu untuk sedikit lebih nyaman tanpa kehadirannya
Ayu duduk di sofa, tersenyum ketika lelaki kecil digendongan Jenny mengulurkan tangannya ,” Sini. Sayang.” tertawa ketika lengan kecil yang gempal itu memeluk lehernya dan mempermainkan tali rambutnya.
“ Kakek nenekmu sehat, Ay ?”
“ Sehat Oma.”
“ Kamu ikut hari minggu nanti ?”
“ Iya, nenek minta ditemani. Karena kalau sudah mancing pasti kakek asik sendiri.”
“ Biar nanti nenek sama oma, kamu temani Arfa aja.” tersenyum ketika Ayu menatapnya dengan kening berkerut ,” Tenang saja, kami hanya ingin kalian terbiasa dan saling mengenal. Sudah berapa tahun kalian gak ketemu.”
“ Oma …....” Ayu mengatur nafasnya ,” Emang bener yang Pak Arfa bilang, Opa ama kakek akan men …..”
Oma tersenyum lembut mendengar gadis disampingnya berterus terang ,” Kami hanya ingin memberikan pilihan yang baik untuk kalian. Keputusan ditangan kalian.”
“ Kenapa ? Keberatan ?” Mama menatap Ayu yang menyibukkan diri dengan Niel, anak Rayyan , yang tertidur dipelukannya. Tak menyembunyikan kekagumannya melihat gadis itu berani menanyakan langsung pada oma.
“ Bukan seperti itu, tante.” Ayu mencoba menjawab tenang ,” Hanya saja apa perlu sampai begini ? Pak Arfa gak akan kesulitan menemukan yang mau dan cocok dengannya. Sementara saya …. sama sekali tidak memikirkan hal selain cepat selesai dan bekerja untuk kemudian bisa membawa kakek nenek jalan. Hanya sejauh itu.”
Mama tersenyum ,” Yang dibilang Rayyan dan Jenny benar, kamu bisa menghadapi ini lebih baik dari Arfa. Itu sebabnya mereka meminta Arfa melihatmu dan mengenalmu tanpa memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.”
Ayu menatap Jenny dengan pandangan bertanya.
“ Ayu … ketika aku dan kak Rayyan tahu yang dimaksud Opa adalah kamu, jujur kami gak percaya. Usiamu masih dua puluhan awal, kami gak yakin kamu dan abang bisa connect. Dan sepanjang kami tahu, Abang bisa dengan mudah menyakiti seseorang saat ia tidak berkenan dengan sesuatu atau seseorang, terutama yang menyangkut hubungan seperti ini.” digigitnya bibir.
Ayu menahan diri untuk tidak bertanya.