Tersedak

1122 Kata
** Arlan mengintip wajah Kirana, Untuk memastikan jika dirinya tidak tertangkap basah. Untung saja istrinya masih terlelap. Ia merutuki diri, Bisa-bisanya tangan itu malah asik menyentuh daerah sensitif seorang wanita. Tapi tunggu kenapa begitu lembut dan empuk. Apakah istrinya itu tidak memakai bra?. pikirannya sudah kemana-mana. "Dasar cereboh.." ucapnya sambil menatap wanita yang masih pulas di sampingnya. Ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Ketika mendengar pintu kamar mandi sudah tertutup, Kirana merasa lega. Ia segera membuka mata. Wajahnya nampak memerah membayangkan apa yang terjadi barusan. Suaminya meraba d**a nya?. Ia merasakan bagaimana tangan kekar itu menyentuhnya beberapa detik hingga membuatnya terusik. Dan tunggu, dia bilang Kirana yang ceroboh?. Bukankah Arlan sendiri yang lancang menyentuhnya? Meskipun tidak disengaja tapi rasanya cukup tidak sopan! pikir Kirana. "Kenapa aku sampai kesiangan? apa aku pura-pura tidur lagi saja ya" gumamnya. Diliriknya waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 pagi. Seharusnya Kirana sudah siap dan mengurus keperluan aish. Ya sepeninggalan Vina, semua kebutuhan aish akan dipersiapkan olehnya. Tak terkecuali dengan suaminya, ia lalu bangun dan berjalan kearah walk in closet. Ia menyiapkan keperluan suaminya seperti kemeja, celana, jas dan dasi. Namun tidak dengan pakaian dalam, suaminya itu pasti akan sangat marah jika tau. Entah sedikit saja menyentuh barang-barang yang terlarang itu, maka kata-katanya akan terasa tajam di telinga. Sudah beres semua, Kirana berjalan keluar. Namun malah menabrak d**a bidang Arlan. Tak lupa tangannya kini telah lancang menyentuh otot-otot perut sang suami. Dilihatnya Arlan hanya memakai handuk dari pinggang hingga ke lutut. Menunjukan betapa jelasnya roti sobek itu. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Arlan. Istrinya masih diam, tidak mundur atau menyamping. "Kamu menikmatinya ya?" ucapan arlan ternyata berhasil menyadarkan Kirana. "Maaf mas.. aku tidak sengaja.." Arlan lalu menghimpit tubuh Kirana sampai menyender di tembok. "Akhir-akhir ini sepertinya kamu sedang mencoba menggodaku. iya kan?" tanya pria itu. Kirana mendongak, melihat suaminya itu. Tinggi badannya masih kalah jauh dengan Arlan. Ia hanya sebatas d**a Arlan. "Ti-tidak.. mas bicara apasih?" Kirana mencoba melarikan diri dari situasi yang membuat dirinya semakin panas. "Masih tidak mau mengaku?" Arlan membungkukkan badannya. Menatap wanita yang kini berstatus sebagai istrinya. Semakin lama semakin mendekat, hingga meninggalkan jarak beberapa senti. Secara tidak sadar Kirana menutup mata. "Hahaha.." tawa Arlan langsung menyadarkan Kirana untuk membuka mata. Sepertinya Arlan sedang mencoba mempermainkannya. "Kamu pikir aku ingin menciummu?" tanya Arlan. "Mendekati mu saja membuatku mual. Kamu bau, sana bergegaslah ke kamar mandi" ucapnya sambil melepaskan istrinya. Untung aku selamat, hampir saja aku kehilangan ciuman pertamaku. batin Kirana. Ia mengambil handuk lalu dengan cepat berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Arlan mencoba menetralkan hawa panas yang menyerang tubuhnya. "Ada apa denganku.. hey arlan. Ingatlah kekasihmu, dia sedang berjuang untuk membuka mata. kamu tidak boleh menghianatinya" ucap Arlan pada dirinya sendiri. Ia segera memakai pakaiannya karena waktu juga sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sudah sangat siang. Setelah beberapa menit, Arlan sudah siap. Ia keluar dari kamarnya dan buru-buru melangkah turun. "Mama pikir kamu tidak masuk kerja. Ayo sarapan dulu nak.. dan mana istrimu?" tanya Bu dini. "Dia masih mandi mah, Arlan buru-buru nanti sarapan di kantor saja." ucapnya sembari menyalami tangan mamanya sedangkan sang papa dan kakaknya entah kemana. Tak berapa lama Kirana juga turun menemui anggota keluarga yang sedang sarapan, namun dia hanya mendapati mama mertuanya duduk sedang menikmati nasi goreng dengan telur mata sapi yang setengah matang. "Bu, apa mas Arlan sudah berangkat?" tanya Kirana. "Baru saja, memang dia tidak pamit sama kamu?" tanya bu dini. "Hmm.. tadi aku sedang mandi bu, Oh iya aish kemana. Apa dia sudah berangkat juga ke sekolah?" "Iya tadi Cakra yang mengurus dan mengantarnya ke sekolah.. " kata Bu ayu. "Maaf ya bu, tadi Kirana kesiangan. Jadi tidak bisa memandikan dan menyiapkan keperluan aish" "Sini duduk nak, kita sarapan dulu" ajak Bu dini "Tidak apa-apa nak. Kamu tidak usah merasa terbebani. Sebentar lagi cakra akan mencari pengasuh untuk aish. Jadi kamu bisa fokus dengan Arlan, kalian kan pengantin baru. Pasti ingin berdua-duaan." sambungnya. "Tidak perlu mencari pengasuh untuk aish Bu, aku sanggup ko mengurusnya seperti anakku sendiri. Aku dan mas Arlan setuju untuk mengurus aish bersama-sama. Jadi ibu tidak usaha merasa khawatir." "Tapi nak" "Aku mohon bu.. katakan pada kak Cakra, aku yang akan mengurus anaknya. Tidak perlu sampai mencari pengasuh. Hitung-hitung sebagai latihan untukku menjadi ibu dari anak-anakku nanti." kata Kirana. "Ya tuhan.. mulia sekali hatimu sayang. Nanti ibu coba bantu bicara pada Cakra. Semoga saja dia mau mempercayakan aish untuk kamu jaga ya" "Ayo sekarang makan dulu. Kamu pasti lapar bukan? Semalam habis berapa ronde sampai kamu kesiangan?" tanya Bu dini hingga membuat Kirana tersenyum kikuk. Berapa ronde apanya? Sampai sekarang kan Arlan belum juga menyentuhnya. Mencium saja tidak pernah. Batin Kirana. "Ah.. iya iya mama paham. Kamu pasti malu mengatakannya. Sudah jangan dipikirkan," Tak berselang lama pak Bambang datang menghampiri mereka berdua. Dan Bu dini segera menyiapkan makanan untuk sang suami. Mereka bertiga makan bersama ** Sampai kantor, Arlan segera menelpon sekertaris nya untuk menanyakan schedule hari ini. Ternyata Ada acara pertemuan dengan para direktur perusahaan ternama untuk melakukan kerjasama dan kolaborasi. Arlan sendiri juga akan menanamkan sahamnya pada perusahaan yang terpilih. Namun untuk saat ini, dia akan melakukan rapat dulu dengan para karyawannya. Saat datang pun sepertinya memang Arlan sudah kesiangan. Janji pertemuannya melantur sampai satu jam lamanya. Mungkin sudah sangat membuat bosan para karyawan menunggu kedatangan Arlan. Sampai akhirnya rapat itu selesai dalam waktu 2 jam yang berarti waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ia belum juga sarapan, pantas saja sejak tadi perutnya sudah merasakan perih dan berbunyi terus. Untung saja para karyawan tidak ada ada yang mendengarnya. Arlan masuk keruangan dan menelpon viola, sekertarisnya untuk memesankan makanan untuknya dengan segera. Haduh rasanya seperti belum makanan seharian!. Tok.. tok "Permisi pak, " ucap viola dengan membawa kotak nasi ditangan nya. "Iya masuk saja" kata Arlan setengah berteriak. Viola berjalan masuk. Ia meletakkan makanan itu di meja tamu yang berada di depan meja kerja Arlan. "Ya , letakkan saja disitu. Kau boleh langsung keluar." ucap Arlan secara tidak langsung mengusirnya. Ketika makanan itu datang, arlan seolah cuek. Namun setelah sekertaris nya pergi. Ia bergegas untuk menyantapnya. Seorang direktur muda yang punya banyak kekayaan, namun saat ini makan pagi dan makan siang menjadi satu waktu. Bukan karena tidak mampu membeli makanan melainkan terlalu sibuk. Ia makan dengan lahap, tanpa mengetahui jika sekertarisnya kembali mengetuk pintu hingga membuat tersedak dan batuk-batuk. Tidak etis sekali, pria setampan Arlan tersedak makanan. Apalagi saat ini sedang makan nasi Padang dengan sambal rendang. Ia merasa kaget karena seseorang yang datang lagi dan mengetuk pintu ruangnya. "Pak Arlan.." terdengar suara viola dari seberang sana. "Jangan ganggu acara makan siangku, kembali lagi saja setelah aku menelponmu" ucap Arlan setelah menenggak air di gelasnya. Ia kembali memakan makanannya setelah sang sekretaris sudah pergi menjauhi ruangnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN