**
Arlan membuka pintu kamarnya mendapati ponakan dan sang istri terlelap. Ia melangkah ke walk in closet untuk sekedar mengganti bajunya yang basah. Karena rasa lelah dan kantuk yang sudah menyerang, akhirnya Arlan pun ikut berbaring di sebelah aish.
Ia tidak sudi jika harus tidur lagi di sofa, disana hanya akan membuat tubuhnya terasa pegal dan sakit.
Mumpung ada aish, jadi tidak membuatnya seperti tidur berdua dengan kirana.
Aish berada ditengah mengapit pengantin baru itu. Kirana memeluk tubuh mungil itu dan Arlan menghadapnya.
Beberapa menit setelah Arlan tertidur, Aish bangun. Ia mengendap-endap turun dari ranjang tempat tidur. Ia meninggalkan sepasang suami istri yang masih pulas dan berlari mencari papinya.
Membuka pintu pun dengan perlahan tanpa menimbulkan suara hingga menutup nya kembali.
Begitu sampai diluar kamar, aish mencari-cari keberadaan papinya. Ia menengok kesana kemari di dalam kamar orang tuanya.
Tidak ada orang di sana.
Ketika keluar,
"Aish.." suara sendu terdengar di telinga bocah berumur 5 tahun itu.
Cakra berjongkok merentangkan tangannya.
"Papi.."
Gadis kecil itu berhambur memeluk papinya.
Tangis Cakra pun kembali pecah tatkala aish mendekapnya, anak sekecil ini harus kehilangan kasih sayang seorang ibu.
Aish menengok, menatap wajah papinya yang sudah basah karena air mata.
"Papi jangan nangis telus.. kasihan mami disana." ucapnya, hingga membuat Cakra membisu seketika.
Ia melihat manik mata bening itu, setegar inikah anaknya. Pikir Cakra.
"Mami sudah bahagia di sana, jika papi telus menangis mami juga ikut sedih."
Cakra mendekap lagi anaknya. Sungguh rasanya teriris. Bibir mungil itu mengucapkan kalimat seolah tegar menghadapi cobaan ini, sedangkan dirinya masih belum rela.
"Papi,."
"Iya nak" Cakra melepas pelukannya.
"Aish lapar"
"Ayo kita makan dulu ke bawah" ucap cakra.
Ia menggendong anaknya berjalan menuju dapur.
**
Pukul 11 lewat, Kirana mulai membuka mata. Ia merasa terusik karena tubuhnya serasa di tindih oleh sesuatu.
Ia memekik kaget sambil menutup mulutnya rapat-rapat, mendapati sang suami sedang tidur dengan kedua tangan mendekapnya.
Setahunya tadi kirana hanya tidur berdua dengan aish. Sejak kapan suaminya itu berbaring disisinya. Lalu kemana perginya gadis kecil yang tidur bersamanya ? pikir Kirana.
Saat makin terasa pergerakan tubuh arlan, Kirana kembali menutup mata. Takut jika suaminya itu akan memaki lagi. Ia akan pura-pura tidur saja.
Arlan sendiri tak kalah terkejutnya ketika mendapati seseorang yang ia peluk bukanlah aish melainkan sang istri. Ia melepas dekapannya itu, merutuki dirinya karena menyentuh perempuan selain Lia. Meskipun itu hanya sebuah pelukan.
Ia buru-buru bangkit sebelum Kirana menyadari jika mereka tidur bersama. Arlan melihat jam di meja kecil tepat di samping tempat tidurnya. Dilihatnya waktu sudah siang bolong pantas saja cacing di perutnya sudah berteriak meminta asupan.
Ia berjalan ke kamar mandi hanya sekedar mencuci wajah dan menyikat gigi.
Saat kirana merasa situasinya sudah aman, ia mengira suaminya sudah keluar kamar. Ia pun bangun, lalu duduk di ranjang mengusap dadanya yang lancang berdetak tak beraturan ketika Arlan memeluknya.
Ia lantas berjalan mendekati pintu dan menguncinya. Kirana melepas semua pakaian yang sudah membuatnya kegerahan seharian ini walaupun ada pendingin ruangan. Mungkin karena matahari yang sudah mulai naik.
Ia berjalan kearah walk in closet untuk menaruh pakaian itu. Lalu berjalan ke kamar mandi dengan hanya menggunakan tentop dan celana pendek.
Saat membuka pintu, Kirana terkejut mendapati suaminya masih berada dikamar atau lebih tepatnya di kamar mandi.
"Ahh..!"
Arlan yang saat itu masih menggosok gigi, segera menutup mulut istrinya dengan satu tangan.
"Kamu ini apa-apaan si?" tanya Arlan.
"Kamu ingin membuat seisi rumah heboh mendengar teriakanmu yang cempreng itu?" Lanjutnya.
Tanpa sadar Arlan malah memperhatikan lekuk tubuh istrinya.
"Aku pikir mas Arlan sudah keluar" ucap Kirana sambil menutupi d**a dan pahanya.
Meskipun semua yang ada pada diri Kirana adalah hak suaminya, namun Kirana masih belum siap jika Arlan melihatnya dengan tatapan seperti itu.
Arlan memalingkan wajahnya dan buru-buru berkumur. Dia masih pria normal yang bisa menyerang Kirana kapan saja.
"Kalau mau masuk ketuk dulu kan bisa" ucapnya ketus.
"Aku.. aku tidak tau jika mas Arlan masih disini."
"Alasan.. Kamu sengaja sedang menggodaku kan?"
"Ti..tidak." ucapnya terbata.
Lihatlah wajahnya yang gugup, sudah terlihat jelas jika dia memang ingin menggoda dengan tampilannya yang sok polos itu. Pikir Arlan.
Ia berlalu, melewati istrinya yang masih berdiri diambang pintu kamar mandi. Arlan melangkah meninggalkan kamarnya, jika lama-lama di sini akan membuatnya terbakar karena melihat kirana yang seperti itu.
Kirana benar-benar merasa lega akhirnya lelaki itu pergi juga dari kamarnya, ups kamarnya? kamar suaminya. ucapnya dalam hati.
**
Di hari weekend seperti saat ini biasanya Arlan akan pulang kerumah saat menjelang siang, setelah menginap di rumah sakit karena menunggui kekasihnya.
Ia melangkah kearah dapur, dan mendapati para pelayan di rumahnya sedang sibuk mempersiapkan acara tahlilan meninggalnya kakak ipar.
Ia pikir mamanya akan memesan catering makanan dari luar, Sehingga tidak membuat seisi rumah sibuk.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan disana. Ia melihat tuannya itu sibuk sendiri mengambil nasi dan lauk pauk.
"Tidak bi, saya bisa sendiri. Bibi lanjutkan saja tugas bibi" ucapnya.
Sambil memakan makanannya. Arlan melirik banyaknya besek yang dipersiapkan untuk acara nanti malam. Ia terus makan, dan sesekali melirik tanpa mengucap sepatah katapun
Dari arah tangga, Kirana datang dengan tampilannya yang sudah fresh. Ia menghampiri para pelayan yang masih sibuk.
"Bi, sini biar saya bantu.." ucap Kirana.
"Eh.. tidak usah nyonya muda.." ucap Bi Ijah sambil melirik kearah Arlan yang sedang makan.
Ia takut jika Arlan akan marah melihat istrinya itu berbaur dengan para pelayan.
Namun yang dilirik nampak cuek saja.
"Tidak apa bi.." Kirana membantu memasukkan makanan ke dalam kotak bingkisan. Ia tampak cekatan, hal yang sudah biasa Kirana lakukan dikampung selalu membantu para tetangga atau temannya jika sedang ada acara di rumah.
Arlan meletakkan piring beserta gelas di tempat pencucian piring. Ia lalu melangkah meninggalkan istrinya tanpa memperdulikan apa yang sedang dilakukan Kirana.
"Sudah.. sudah nyonya muda.. nanti tuan Arlan marah pada kami" ucap Bi Ijah dengan dikuti anggukan para pelayan yang lain.
"Tidak bi.. tidak akan. Percaya saja sama saya. Ada lagi yang masih butuh bantuan?" ucapnya pada pelayan yang lain.
**
Tak terasa hari begitu cepat berlalu, tepat seminggu sudah menantu pertama di rumah ini meninggal, meninggalkan banyak kenangan.
Cakra, suami Vina sudah bisa iklas melepas kepergian istrinya. Namun ia lebih banyak diam, canda dan tawanya seolah lenyap.
Kini ia sedang memangku anak sulungnya sambil membacakan doa-doa dan tahlilan mengingat 7 hari kematian istrinya.
Banyak saudara, kerabat, serta rekan bisnis keluarga Wijaya yang datang menghadiri. Hampir mencapai 100an orang yang berbondong-bondong datang demi mendoakan almarhumah vina. Tak lupa Arlan juga duduk di samping papanya dan pak Bram, ya ayah Lia juga turut datang.
Rangkaian pengajian itu berjalan dengan lancar. Sampai aish tertidur dipangkuan papinya, namun setelah acara selesai Cakra malah sibuk berbincang dengan para koleganya tidak menyadari.
Lagi-lagi Arlan mengambil alih bocah itu dari pangkuan papinya.
"Kak.. sepertinya aish sudah lelah, biar aku saja menggendongnya keatas." ucap Arlan.
Cakra yang sudah biasa dengan hal itu, langsung memberikan anaknya pada sang adik.
Sudah seminggu ini setiap malam aish akan tidur ditempat Arlan, Tidur seranjang bertiga bersama kirana. Ya Arlan sengaja melakukan itu agar dirinya tidak harus tidur di sofa. Aish akan menjadi alasan baginya agar tetap tidur diatas ranjangnya sendiri jadi tidak hanya berdua saja dengan Kirana.
**
Pagi hari,
Kali ini aish bangun lebih cepat dari kedua orang dewasa yang tidur disampingnya. Ia mengendap-endap turun dan keluar dari ruangan itu.
Sedangkan Kirana untuk pertama kalinya ia bangun kesiangan. Mungkin efek lelah semalaman karena membantu para pelayan membereskan sisa acara semalam.
Dan Arlan, ia pikir aish masih terlelap seperti biasanya. Ia sampai meraba-raba seseorang disampingnya. Tanpa sengaja Arlan malah meraba hal yang tak seharusnya disentuh.
Kenyal? apa ini? batinnya saat masih memejamkan mata.
Arlanpun sedikit membuka matanya, kini tangannya malah nakal meraba-raba d*d* istrinya sendiri.
"Astaga..!" ucap Arlan saking kagetnya.
"Apa yang aku lakukan padanya?" ucapnya dengan nada yang sangat pelan.
***