Tangis Duka

1176 Kata
Pak Bambang masih sibuk mengurusi administrasi dan keperluan untuk pemakaman Vina. Sedangkan Bu dini sedang merasa sedih yang mendalam duduk di samping cakra, Ia sudah menelpon Arlan untuk segera datang. Namun lupa untuk memberi kabar duka itu pada Kirana. Apalagi cakra masih belum sadarkan diri. "Ma.. " ucap Arlan membuka pintu ruangan menghampiri mamanya. Baru saja di hubungi anak bungsunya itu sudah datang menemuinya. Tanpa curiga, mama langsung memeluk Arlan. Lalu bagaimana dengan lia? Arlan sudah meminta seorang perawat menjaga dan memantaunya sampai ibunya Lia datang. "Arlan.. Vina, Vina meninggal.." ucapnya sambil terus menangis. "Kak Cakra kenapa?" tanya Arlan sambil menatap Cakra yang terbaring di ranjang rumah sakit. "Dia syok setelah mendengar bahwa Vina tidak selamat." "Lalu bagaimana dengan kondisi bayinya?" "Dia sudah masuk ke inkubator. Kamu bisa melihatnya di ruangan anggrek 5." "Aku ingin melihat kak Vina dulu ma" "Papamu sudah mengurus jenazah Vina agar bisa segera dipulangkan, kamu bisa melihatnya nanti di rumah" ucap mama. ** Pukul 3 dini hari, ketika Kirana dan aish masih terlelap. Terdengar beberapa mobil yang masuk ke garasi. Suara bising mobil ambulan akhirnya berhasil membangunkan Kirana. Ia penasaran, mengintip dari jendela kamarnya untuk memastikan apa yang terjadi. Banyak mobil yang sudah terparkir di halaman rumah mertuanya itu. Jantungnya hampir saja lepas saat seseorang masuk kamarnya begitu saja. Ia lupa semalaman ini tidak mengunci pintu. "Mas Arlan.." ucapnya pelan. Dilihat dari raut wajahnya yang sendu membuat Kirana merasa khawatir jika sesuatu yang buruk telah terjadi. Arlan tidak menghiraukan panggilan istrinya, tatapannya hanya fokus pada tubuh mungil yang masih meringkuk diatas tempat tidur. "Aish.. " Arlan mendekapnya dengan lembut. Makin penasaran saja Kirana dibuatnya. "Mas.. mas Arlan. Apa yang terjadi?" tanya Kirana mencoba memecahkan keheningan di ruangan itu. Arlan memandangnya dengan tatapan sinis. "Kak Vina meninggal" "Apa? apa aku tidak salah dengar?" tanya Kirana. "Kalau tidak percaya. Kamu bisa turun kebawah untuk memastikan nya." ucap Arlan dengan dingin. "Innailaihi wainnailaihi rojiun.. kak Vina." ucapnya menutup mulut. Kirana berlari ke luar kamarnya dengan masih mengenakan piyama tidur. Ia melihat dari atas balkon saat jenazah Vina sudah dibaringkan di ruang keluarga. Ia merasa sangat kehilangan. Baru saja dua hari ini mengenal sosok perempuan itu, tapi takdir berkata lain. Ia merasa kasian dengan ponakannya karena harus ditinggalkan sang ibu diusianya yang masih sangat kecil. Saat akan memasuki kamarnya, Kirana malah tidak sengaja menabrak d**a bidang suaminya yang baru saja akan keluar kamar. "Kalau punya mata itu di pake!" ucapnya. Dilihatnya sang suami sudah berganti pakaian muslim juga memakai peci. Kirana sempat terpesona namun buru-buru menggeser tubuhnya agar Arlan bisa melanjutkan langkahnya. "Perlu kamu ingat jangan bangunkan aish, biarkan dia tetap tidur" Namun baru saja Arlan melangkah, ia terkejut dengan suara mungil ponakannya. "Om.. Allan" ucap aish, ia berlari menghampiri Arlan. Sontak saja Arlan menatap tajam wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu. Kirana hanya bisa menggelengkan kepala. Tanda jika dia memang tidak tau karena aish tiba-tiba saja bangun. "Aish ikut.. " ucap anak kecil yang sedang memegangi kakinya. Tanpa pikir panjang, Arlan pun menggendong ponakannya dan melangkah turun ke bawah. Kirana sendiri segera bergegas untuk mengganti pakaiannya dan tidak lupa berwudhu. ** Bu sinta yang mendapat kabar duka itu bergegas datang ke kediaman tuan Wijaya. Sedangkan suaminya tidak bisa ikut karena masih sakit. Begitu sampai di depan rumah mewah itu. Banyak kerabat juga keluarga jauh tuan Wijaya sudah datang, itu semua terlihat dari banyaknya mobil yang terparkir sampai di jalanan. Bu sinta yang baru saja masuk ke rumah besannya, sudah mendengar tangis pilu. Cakra, Kakak kandung Arlan seolah masih tidak terima dengan kematian istrinya. "Sabar nak.. sabar.. lihat anakmu perlu perhatian darimu Cakra." ucap Bu dini menenangkan. Sedangkan Arlan memangku gadis kecil yang sudah tidur dalam dekapannya. Aish sudah tau bahwa sang mami telah pergi meninggalkannya. Ia menangis, meraung hanya Arlan lah yang dapat menenangkannya karena sang papi masih syok dengan keadaan yang sedang menimpanya. "Ibu.." ucap Arlan lalu mencium tangan Bu sinta. "Gimana kabar ayah? apa dia sudah baikan?" tanya Arlan. "Ayahnya ria tidak apa-apa ko, dia cuma merasa tidak enak badan dan kurang istirahat." "Bibi.. " Kirana menghampiri wanita paruh baya itu serta mencium tangannya. Bu sinta memperlihatkan senyum teramahnya pada Kirana, seolah-olah ia sangat sayang pada istri dari calon menantunya. Setelahnya wanita itu mengucapkan bela sungkawa pada Bu dini, dan Cakra yang duduk tidak jauh darinya. Arlan pamit, membopong aish yang tidur dalam dekapannya. Ia akan ikut ke pemakaman kakak iparnya karena sebentar lagi akan diadakan prosesi pemakaman. "Kirana.." panggil Arlan, Yang dipanggil pun menengok. "Ikut denganku" ucap arlan sebelum menaiki tangga. "Iya mas" Kirana mengekori suaminya yang berjalan menuju kamar mereka. Sampai kamar. "Jaga dia, kalau ada sesuatu langsung menghubungiku" ucapnya datar. "Iya mas," Terlalu posesif, sudah seperti anak sendiri saja. Pikir Kirana Arlan lalu bergegas keluar kamar bergabung dengan para rombongan keluarga yang sudah di depan rumah. Kirana ikut membaringkan tubuhnya rasa lelah kurang tidur mampu membuatnya pulas di samping aish. *** Upacara pemakaman Vina dilakukan secara singkat, karena angin yang berhembus makin kuat. cuaca tidak mendukung. Apalagi pagi ini terlihat gelap oleh awan. Dan benar saja, baru saja selesai mengirim doa dan tahlil singkat. Gerimis sudah berdatangan. Mereka yang hadir di sana berhamburan mencari tempat untuk berteduh. Arlan masih diam membisu, diam memperlihatkan kak Cakra menangis di pusaran istrinya. Mereka berdua ikut basah diguyur air hujan. Seperti itu kah rasanya kehilangan orang terkasih? Apakah Aku akan mengalaminya jika Lia tetap tidak bangun dan malah meninggalkan nya? Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh mengusik pikiran, Bisa-bisanya Arlan malah memikirkan hal buruk. Buru-buru arlan menggeleng kuat. Ia berjongkok menyetarakan diri dengan Cakra. Arlan membuang semua rasa benci yang kemarin sempat dilontarkannya pada sang kakak. "Bangun kak.. kakak harus mulai membuka lembar baru. Kak Cakra. aish di rumah sedang sedih. Tidakkah kakak sudah berpikir egois? Aish perlu perhatian kakak. Dan satu nyawa lagi yang masih butuh kecupan sayang kakak. Kakak harus segera bangkit. Ayo kita pulang." ajak Arlan setelah bicara panjang lebar untuk membuka mata Cakra. Cakra menatapnya dengan nanar, namun detik berikutnya menjadi sendu. "Kamu benar lan.. aku tidak boleh lemah seperti ini, Vina pasti disana ikut merasa sedih" Cakra mencoba menguatkan diri. Untuk saat ini, kedua anaknya lah yang menjadi penguat. Ia mengecup nisan Vina memberikan salam perpisahan, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan makam sang istri. Cakra pulang bersama Arlan. Selama perjalan ke rumah pun mereka hanya diam. Bergelut dengan pikirannya masing-masing. Tak terasa sampailah mereka di kediaman kedua orang tuanya. Bu dini dan pak Bambang nampak kaget dengan kedatangan kedua putranya yang basah kuyup. Mereka tidak ikut pergi ke pemakaman mengingat cuaca yang kurang bagus. "Kenapa kalian tidak memakai payung nak.." kata Bu dini dengan cemasnya. Mereka berdua hanya membisu, berjalan ke lain arah begitu sampai ke lantai atas. Hal itu membuat mamanya semakin merasa bersalah pada cakra karena memaksa segera mengambil keputusan hingga mengorbankan nyawa Vina. Hari ini menjadi tangis bagi semua orang yang berada di rumah mewah itu. "Ini salah mama pah.. ini salah mama. Kalau mama tidak memaksa keputusan Cakra mungkin Vina masih bersama kita" Tangis Bu dini semakin pecah. Pak Bambang memeluk erat istrinya, mendekapnya. "Semua ini memang sudah kehendak yang diatas, mama tidak boleh menyalahkan takdir." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN