Kabar Duka

1222 Kata
** "Kirana.." Kirana menoleh saat seseorang menepuk pundaknya. Baru saja Kirana ingin mengikuti jejak bibinya, langkahnya terhenti ketika seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri. Ia adalah Cakra, kakak iparnya. "Iya mas.." jawabnya "Dimana istriku?." tanya Cakra dengan raut wajahnya yang begitu cemas setelah mendapat kabar dari Bu dini. "Mba Vina didalam sedang ditangani oleh para dokter mas.." ucap Kirana sembari membetulkan tangannya yang sempat melorot karena sedang menggendong aish di bagian depan. Cakra yang melihat anaknya masih menangis di gendongan kirana langsung mengambil alih. "Papi.. aish takut kalo mami kenapa-kenapa.. tadi aish panggil-panggil, mami tidak mau jawab." rengek aish dalam dekapan papinya. "Kita doakan mamimu, semoga dia cepet sadar ya nak." ucap Cakra. "Kata mba Vina, akhir-akhir ini selalu merasakan kontraksi hebat.. dia sempat menceritakan nya padaku rasanya hilang lalu muncul lagi." ucap Kirana mencoba menjelaskan. Belum sempat menjelaskan secara detail, tiba-tiba ibunya datang menghampiri mereka. "Cakra.." panggil Bu dini. "Iya mah.. gimana kondisi Vina?" tanya Cakra. "Kata dokter, Vina harus segera dioperasi untuk menyelamatkan anak kalian dari kemungkinan terburuknya." kata Bu dini "Jadi maksud mama anak Cakra harus lahir Walaupun itu prematur? anak itu baru berusia kurang dari 7 bulan. Cakra takut dia tidak bisa bertahan lama setelah dilahirkan mah" ucap Cakra. "Kamu ingin membahayakan istrimu? Tetap mempertahankan kandungannya malah akan memperburuk kondisi Vina juga bayinya. Kamu tidak usah khawatir, bayi itu akan segera masuk ke inkubator begitu dilahirkan. Anakmu akan menjalani perawatan didalam inkubator meski harus memakan waktu paling lamanya 2 bulan." ucap Bu dini. Cakra bingung dengan keputusan. "Kamu harus mengambil langkah cakra, agar dokter bisa segera bertindak.." Bu dini gusar, anaknya hanya diam seperti memikirkan sesuatu. "Yasudah mah, Cakra titip aish dulu." ucap Cakra sambil memberikan anak sulungnya itu pada sang ibu. Cakra segera menemui dokter yang sedang menangani kondisi istrinya. Ia akan menandatangani surat persetujuan operasi sebagai pihak yang bertanggung jawab. ** Kirana akhirnya pulang kerumah karena untuk sementara harus menjaga keponakannya. Dia tidak mungkin membiarkan aish tetap menunggu didepan ruang operasi yang kemungkinan memakan waktu beberapa jam. Bu dini meminta Kirana untuk pulang lebih dulu dengan membawa aish yang sudah kelelahan dan tertidur. Kirana baru saja keluar dari pintu lift, pandangannya tertuju pada seorang pria yang sedang membawa sebuket bunga ditangan berjalan melewatinya. Kirana sangat yakin jika pria yang berpapasan dengannya itu Arlan, suaminya sendiri. "Mas Arlan" batin Kirana. Namun entah mengapa seperti orang asing. Ia pikir Arlan datang untuk menjenguk kakak iparnya sendiri. Tapi ternyata salah, karena suaminya itu malah masuk ke dalam ruangan VVIP yang tidak jauh dari tempatnya berada. Rasanya ingin sekali Kirana mengikutinya kalau saja ia tidak sedang menggendong aish yang terlelap. "Nyonya muda.." panggil pak Lukman. "Astaga" Kirana terkejut dengan kedatangan pak Lukman yang sudah berdiri disampingnya. "Maaf nyonya.." "Biar saya saja yang menggendong nona aish" pak Lukman segera mengambil alih bocah itu dari tangannya. Sambil berjalan mendahului dengan diikuti kirana. Di dalam perjalanan, Kirana masih saja memikirkan sesuatu yang mengganjal. Dia masih penasaran dengan keberadaan suaminya di rumah sakit. Apakah ada yang disembunyikan darinya ataukah memang sedang menemui wanita pujaan mengingat bunga yang sempat dipegang suaminya itu. Sampai tak terasa dia memegangi dadanya sendiri, rasanya cukup sesak jika mengingat pernikahannya itu bukan keinginannya sendiri ataupun Arlan. Namun hal itu cukup mengusiknya, belum apa-apa Kirana sudah merasa dihianati. "Aku kenapa? Itu haknya jika dia mencintai orang lain." batin Kirana. "Nyonya kenapa? apakah anda sakit?" tanya pak Lukman yang mengamati Kirana dari kaca spion. "Ah, tidak pak.. saya hanya sedang merasa haus saja" elaknya, tidak mungkinkan ia menceritakan perasaan nya. "Silahkan diminum, tenang saja ini masih tersegel kok" pak Lukman memberikan minumannya dengan satu tangannya masih memegangi kemudi. "Terima kasih pak" "Sama-sama nyonya" ** Sampai di kamar aish, pak Lukman segera membaringkan aish di tempat tidurnya. Lalu pamit pada Kirana. Kirana merogoh tasnya, mencari handphone yang sejak sore tadi diabaikan. "Banyak sekali pesan yang masuk" "Seharusnya aku menghubungi pak dekan dulu sebelum pergi ke rumah sakit" rutuknya. Kirana mengetik dan mengirim beberapa kalimat permintaan maaf pada bagian akademik karena tidak sempat memberi kabar jika ada sesuatu yang mendesak hingga membuatnya tidak bisa datang ke kampus. Setelahnya Kirana beranjak dari sana untuk sekedar membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Ia masuk kedalam kamarnya menyalakan pendingin ruangan dan berlalu ke kamar mandi. Baru saja 30 menit berlalu, aish sudah mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. "Ya ampun sayang, kenapa aish nangis?" tanya Kirana ketika pintu itu terbuka. "Aish mimpi mami ninggalin aish sendilian" ucap aish dengan nada yang masih sesegukkan. Kirana langsung membopong masuk gadis kecil itu kedalam. "Kamu tunggu dulu di sini, Tante ganti baju dulu ya" ucapnya lembut. Tidak berselang lama Kirana keluar dari walk in closet dan mendapati ponakannya sudah tertidur lagi. Sebenarnya Kirana sendiri yang akan menemani aish tidur di kamarnya. Ia merangkak naik ketempat tidur menyelimuti dirinya dan aish. Mungkin malam ini suaminya akan tidur di sofa. Pikirnya. ** "Maaf ya nak arlan, ibu jadi merepotkan," "kalau saja ayahnya Lia tidak sakit," ucap Bu sinta sambil membereskan beberapa baju kotor kedalam tas jinjing miliknya. "Tidak apa-apa Bu.. Ibu pulang saja, Lia biar saya yang jaga" ia meletakan sebuket bunga mawar di samping tempat tidur kekasihnya. "Sebenarnya ibu ngga enak, jika terus menerus merepotkan nak arlan. Apalagi nak arlan baru saja menikah" "Ibu bicara apa.. saya sudah berjanji pada Lia untuk selalu menjaganya apapun yang terjadi. Pernikahanku dengan Kirana juga hanya sementara, begitu Lia sadar saya akan segera menikahinya." Arlan menggenggam tangan Lia, membelainya dengan sangat lembut takut kalau-kalau menyakitinya. "Ya sudah ibu pamit dulu, besok pagi-pagi ibu datang." "Hati-hati lah di jalan" ucapnya pada perempuan yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri. Bu sinta berlalu sebelum akhirnya menutup pintu. Dan arlan baru saja memejamkan mata sejenak dengan posisinya masih yang duduk, namun dering ponsel terus saja mengusik. "Ya ada apa mah" "Anak durhaka bukannya salam dulu sama orang tua." Arlan hanya bisa menghela nafas. "Oh iya, Assalamualaikum mamaku yang cantik, bidadari surgaku" "Nah gitu, Waalaikum salam.. Kamu dimana?" tanya mama. "Ada apa si mah?" "Kalau ditanya malah nanya balik" mama sedikit menaikan nada suaranya. "Arlan masih diluar, ada hal yang harus diurus." "Kamu itu sudah menikah nak, hargai Kirana. Jangan pulang larut" ucap mama, merasa anaknya masih saja menyempatkan untuk bertemu Lia. "Iya.. iya ma" "Dan satu hal lagi. Jangan menginap, pulang!" perintah mama dini. Arlan hanya diam, mama paham jika dihari weekend seperti sekarang pasti Arlan selalu menginap di rumah sakit menemani Lia. "Arlan.. kamu dengar mama?" "Iya ma.. nanti Arlan pulang" Tak ingin mengambil pusing, ia hanya mengiyakan ucapan mamanya saja. "Kalau kamu ada waktu datang ke rumah sakit Harapan. Tengoklah Kakak iparmu, dia sudah melahirkan secara prematur." Deg, Berarti mamanya serta keluarganya yang lain berada di rumah sakit yang sama dengannya. Jangan sampai mereka melihat Arlan disini. "Iya ma.. Sudah dulu ya ma. Assalamualaikum" ucap Arlan lalu mematikan panggilannya sepihak. Arlan memandangi Lia, kondisinya masih tetap sama. Tidak ada kemajuan sampai detik ini. "Sayang kapan kamu membuka mata, aku sangat rindu" ucapnya mengelus dan mengecup puncak kepala sang kekasih. "Tahukah kamu.. aku sudah menyiapkan banyak hal untuk menyambutmu sayang. Maka lekaslah bangun." ** Di ruangan yang berbeda terdengar jerit tangis bayi mungil. Namun ada duka yang mendalam yang sedang dirasakan mereka diluar ruang operasi. "Selamat anak anda lahir dengan selamat, Tapi maaf pak ibunya tidak berhasil kami selamatkan" Ucapan itu terngiang-ngiang dipikiran lelaki itu. Bukan kabar duka ini yang dia inginkan. Tanpa sadar ia pingsan. "Cakra.. Cakra" teriak sang ibu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN