Kekhawatiran Kirana

1220 Kata
** Sesampainya di kantor, para bawahan Arlan memberikan salam padanya. Namun Arlan hanya menganggukkan kepalanya tanpa sekalipun membalas. Sikapnya yang tegas dan terlihat sombong memang selalu melekat padanya karena selalu saja dingin pada semua karyawannya. Dia lalu masuk ke dalam ruangnya yang berada di lantai 25. Tidak ada libur ataupun cuti baginya setelah kemarin selesai menggelar acara pernikahan dan sekarang ini sudah siap lagi bertempur dengan banyaknya berkas di kantor. Bagi Arlan kehidupannya sudah tidak berwarna lagi setelah kecelakaan yang membuat kekasihnya kini berbaring lemas di ruang perawatan. Dia merasa frustasi karena sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi antara dirinya dengan Lia, setelah resmi menyandang status pernikahan dengan wanita lain. Tapi Arlan bersumpah pada dirinya sendiri jika nanti Lia sadar, dia akan segera mengurus perceraian nya dengan Kirana lalu menikahi sang pujaan hati. Pikirannya kini tertuju pada sang kekasih, Arlan segera menghubungi Bu Wati mama Lia untuk menanyakan bagaimana perkembangan kondisi Lia saat ini. "Assalamualaikum, hallo Bu.." ucap Arlan. 'Walaikum salam.. iya nak arlan' "Bagaimana dengan kondisi Lia? apa sudah ada kemajuan?" tanya Arlan. 'Untuk saat ini masih saja seperti kemarin belum ada perkembangan. Jika ada apa-apa ibu akan segera menghubungimu nak, kamu tidak perlu khawatir ya. Tapi kalo nak arlan masih ingin melihat keadaan Lia, nak arlan masih boleh ko untuk datang atau menjenguk Lia kemari.' ucap Bu Wati. "Oh ya sudah Bu nanti pulang kerja saya akan menyempatkan untuk mampir dulu ke rumah sakit. Kalau begitu saya tutup dulu panggilan ini" ucap Arlan begitu melihat Cakra, kakanya malah tiba-tiba datang ke ruangannya. 'Iya nak.. Assalamualaikum..'. "Walaikum salam.." Setelah nya Arlan lalu meletakkan ponselnya diatas meja. "Telepon dari siapa itu? baru saja kakak datang kemari, langsung diakhiri begitu saja." kata Cakra yang sudah duduk di kursi kerja milik sang adik. "Bukan urusanmu..!" "Ataukah itu dari selingkuhan mu?" tanya Cakra begitu mendengar ucapan sang adik yang terdengar membentak itu. "Selingkuhan? Lia maksudmu?" "Siapa lagi. Kau kan sudah menikah, dan jika benar barusan yang menelpon itu dia berarti selingkuhan mu itu sudah sadar dari komanya?" pertanyaan Cakra malah membuat Arlan semakin naik darah. Dia lalu mencengkeram kuat kerah baju kakaknya. "Jaga ucapan mu!, Lia bukan selingkuhan dia itu masih kekasihku. Kalian lah yang membuatnya menjadi wanita lain di hidupku..!" "Bug.. bug.. bug" dengan emosi arlan meninju pipi kiri kakaknya sebanyak 3 kali hal itu membuat sudut bibir Cakra mengeluarkan darah. "Arlan sadar, aku ini hanya mengingatkan mu. Jangan sampai kamu menyesal karena menyia-nyiakan istrimu sendiri demi mengharapkan wanita lain..!" ucap Cakra melepas paksa cengkraman kuat Arlan. "Demi wanita itu kamu saja sudah berani memukuliku seperti ini. Aku yakin tindakanmu ini akan membuatmu menyesal karena tidak menghiraukan nasehatku." ucap Cakra sebelum berlalu meninggalkan Arlan yang sedang emosi. Cakra bahkan lupa maksud kedatangannya itu untuk mendiskusikan bahwa proyek yang sedang dikerjaan Arlan akan segera diambil alih olehnya atas perintah sang ayah. Karena kedua orang tuanya meminta Cakra agar mau membujuk Arlan untuk segera pergi berbulan madu. Karena perkelahian itu, Cakra bahkan tidak sempat untuk mengatakannya. Dia sendiri ikut tersulut emosi karena Arlan yang keras kepala itu. ** "Tante-tante... bagus tidak gambal aish" ucap aish. "Wah, cantik sekali. Ini aish yang gambar sendiri?" tanya Kirana. "Bukan tante.. ini yang menggambal om Allan." "Hah.. om Arlan yang gambar ini? ko jelek sekali.." ucap Kirana tanpa sadar. "Kata Tante cantik.. ko jadi jelek si?" aish terlihat sedih mendengar ucapan Kirana. Kirana panik karena aish malah terlihat akan menangis. "Eh bukan begitu sayang, maksud Tante ini akan terlihat jauh lebih cantik ketika diberi warna yang cocok. Ayo sini kita coba.." ucap Kirana yang membuat aish kembali mendekati nya. Kirana lalu memangku aish dan membantu ponakannya itu untuk memberi warna pada semua gambar yang ada didalam buku. Vina mengetuk pelan pintu itu, hingga membuat Kirana maupun aish menengok kearah sumber suara. Dia lalu menghampiri mereka, setelah beberapa menit memperhatikan interaksi mereka berdua dibalik pintu kamar anaknya yang sedikit terbuka. Sejak awal dia memang merasa jika Kirana adalah gadis yang baik terlihat dari sikapnya yang apa adanya tanpa dibuat-buat. Sehingga keluarga ini bersikeras menikahkan Arlan dengan gadis itu. "Mami.." ucap aish. "Lihat ini mi.. cantik kan?" tanya aish. "Wah cantik sekali, siapa ini yang mewarnainya?" kata Vina. "Aish mami.. " ucap sang anak dengan begitu bangga. "Sebental, Tante tunggu di sini ya.. aish mau kasih sesuatu buat Tante" ucapnya. "Maaf ya, aish mengganggumu ya?" ucap Vina. "Tidak ko mba.. dia anak yang pintar dan menggemaskan." ucap Kirana lalu menatap perut Vina yang membuncit. "Sudah jalan berapa bulan mba?" tanya Kirana. "Sudah 7 bulan, perkiraan melahirkan pertengahan bulan Juli. Tapi sekarang ini perut mba sudah sering merasakan kontraksi palsu.." ucap Vina sambil meringis menahan sakit. "Mba kenapa? merasa sakit lagi?" tanya Kirana. "Sudah tidak apa-apa ko." ucap Vina mengusap lembut perutnya. "Tante telima ini," ucap aish begitu datang menghampiri kirana Dia memberikan sebuah boneka kecil miliknya. "Wah benarkan ini untuk Tante?" kata Kirana dengan senyuman. "Iya Tante.." "Terima kasih ya sayang.." Tidak lama ponselnya berdering, terlihat nomer telepon dari salah satu pihak kampus. "Tante turun dulu ya sebentar.." ** Setelah menerima panggilan masuk itu, Kirana bergegas untuk pergi ke kampus. Dia sempat mendapat berita jika sudah lolos mendapatkan beasiswa selama 4 tahun untuk melanjutkan kuliahnya tanpa biaya sepeserpun. Hal itu membuatnya senang karena impiannya sebagai seorang guru akhirnya bisa terkabul. Namun kirana bingung untuk mengambil keputusan nya saat ini karena statusnya yang sudah menjadi istri Arlan. Dia takut jika suaminya tidak akan mengizinkannya untuk melanjutkan kembali pendidikannya. Kirana memutuskan untuk pergi ke kampus untuk meminta pertimbangan karena dia tidak bisa langsung menerima hal itu. Sebelum pergi dia pun meminta izin pada ibu mertuanya untuk pergi sebentar tanpa memberitahu arah tujuannya dengan diantar oleh pak Lukman. Setelah kepergian Kirana itu, Vina kembali merintih menahan kesakitan karena perutnya semakin tidak karuan di dalam kamar anaknya. Hal itu disadari oleh aish. "Mami..mami kenapa? Perut mami sakit?" tanya aish. "Aduh.. sakit.. sakit sekali. Ini kenapa lebih sakit dari biasanya," Vina terus memegangi perutnya. "Eyang.. Eyang.." Teriak aish sambil menangis, namun sampai detik ini tidak ada orang yang mendengar teriakannya. "Aish, kamu kenapa sayang?" ucap Kirana. Untung saja ada yang tertinggal sehingga membuat Kirana kembali lagi kerumah. "Mami, mami sakit Tante. Mami ada di kamar aish.." ucap aish sambil menangis di gendongan kirana. Kirana lalu naik ke lantai atas. Ia mendapati kakak iparnya itu sudah pingsan dengan darah segar yang mengalir dari s**********n nya. "Mba kenapa? mba.. mba.. Ya Allah.." Kirana merasa panik dan tidak tau harus berbuat apa. "Sebentar ya sayang.. Tante kebawah dulu untuk mencari pertolongan. Kamu jagain mami dulu ya.." ucap Kirana. Dia segera menuruni tangga mencari keberadaan mertuanya yang berada di taman. "Ibu.. ibu.." ucap Kirana dengan tergesa. "Kenapa nak? ada apa? kamu sampai panik seperti itu.." tanya Bu dini. "Mba Vina.. mba Vina mengalami pendarahan dia sekarang pingsan dan berada di kamar aish" kata kirana dengan nafasnya yang terengah-engah. "Kamu bilang sama pak Lukman untuk segera menyiapkan mobil, kita harus segera membawa Vina ke rumah sakit." ** Sesampainya dirumah sakit, Vina langsung di tangani oleh para dokter diruang UGD. Kirana sangat merasa khawatir jika terjadi hal buruk pada kakak iparnya. Dia duduk di bangku lobby sambil menggendong dan menenangkan aish. Namun tak sengaja Kirana melihat Bu sinta, bibinya sendiri berada di sana. Sempat dia memanggil-manggil namun Bu sinta tidak mendengarnya dan masuk kedalam sebuah ruangan. Hal itu membuat kekhawatiran Kirana karena seperti ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh bibinya itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN