**
Waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Namun Kirana baru saja mandi dan tak lupa mencuci rambutnya yang lepek menggunakan sampo milik suaminya. Aroma mint dan maskulin itu tercium kala Kirana menggosok rambutnya. Dia juga membersihkan seluruh tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat.
Setelah selesai, Kirana mencari handuk. Namun dia baru ingat kalau tidak membawa handuk saat masuk ke kamar mandi. Dia merasa bingung bagaimana caranya bisa segera keluar.
Saat Kirana membuka sedikit pintu kamarnya untuk mengintip keadaan kamar, ternyata Arlan masih belum tidur. Suaminya itu sedang bersender di sofa sambil membaca buku.
Hal itu membuat Kirana mengurungkan niatnya untuk keluar secara diam-diam dengan hanya menutupi tubuhnya menggunakan gaun yang tadi sempat dia pakai. Sebenarnya dia merasa tidak enak hati jika harus meminta bantuan pada suaminya. Sehingga dia terus berdiam diri di dalam kamar mandi.
Selama kurang lebih setengah jam berada di kamar mandi itu Kirana mencoba mengintip suaminya di balik pintu. Namun Arlan masih saja diam ditempatnya.
"Mas.. mas Arlan" Kirana akhirnya menyerah dan memanggil-manggil suaminya.
"Ya ada apa?" ucap arlan yang masih fokus pada buku yang dipegangnya.
"Apa saya boleh minta tolong?" tanya Kirana dengan canggung.
"Ada apalagi?" ucapan itu membuat kirana membisu.
"Aku tanya ada apa?" sambungnya
"Anu mas.."
"Katakan yang jelas" ucap Arlan lalu menaruh bukunya diatas meja.
"Saya lupa membawa handuk ke dalam. apa boleh saya minta tolong mas mengambilkan handuk untukku" ucap Kirana ragu-ragu.
Kirana nampak cemas, Karena Arlan tak meresponnya lagi. Namun setelah beberapa menit Arlan mengetuk pintu kamar mandi agar Kirana lekas membuka pintu itu.
"Terima ini" ucap Arlan ketika pintu itu mulai terbuka sedikit.
"Makasih mas"
Arlan langsung kembali membaca bukunya.
Saat Kirana keluar dan hanya memakai handuk diatas lutut, Arlan tidak sengaja menengok kearah Kirana.
Buru-buru arlan memalingkan pandangannya kembali ke buku yang dia baca.
Kirana membuka lemari kecil yang berada di pojok kamar sang suami, ia mengira pakaian untuknya tersimpan disana karena Arlan tidak memberitahu dimana letak pakaian yang dimaksud . Ternyata didalamnya hanya terdapat buku-buku milik sang suami.
Arlan yang menyadari itu lalu berkata.
"Jika kamu mencari baju, bajumu ada di sana" Arlan menunjukan sebuah ruang dan Kirana hanya mengikuti langkahnya. Di sana terdapat banyak koleksi kemeja, jas, jam tangan juga sepatu milik suaminya.
"Pakaianmu ada di sini, kamu boleh memakai yang mana saja asal bukan pakaian ku " ucap Arlan menunjuk lemari yang cukup besar menurut Kirana.
Kirana segera memilih pakaian yang sedikit tertutup walaupun sepertinya ibu mertua nya sudah menyiapkan banyak pakaian yang sangat terbuka untuknya.
Kirana lalu keluar dari walk in closet setelah memakai pakaiannya, dia melihat Arlan sudah berbaring di atas sofa dengan memakai selimut tebal. Dia memperhatikan paras suaminya ketika tertidur terlihat begitu tampan. Hingga membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, mungkinkah dia mulai memiliki rasa pada sang suami karena Arlan banyak membantu nya sejak tadi.
**
Esok harinya Kirana bangun pukul 4 subuh, ia bergegas untuk mandi dan segera menunaikan sholat subuh. Sampai Kirana selesai sholat pun, Arlan masih saja terlelap.
Kirana menggoncang pelan tubuh suaminya agar Arlan membuka mata dan segera menunaikan ibadah. Namun arlan yang terusik merasa marah karena sang istri mengganggu waktu tidurnya.
"Urus urusanmu sendiri..! aku akan bangun sesuai jam kerjaku! Dan ingat jangan harap aku sudah menganggap mu sebagai istri. camkan itu" bentak Arlan. Dia kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Hal itu membuat kirana terkejut dan merasa kesal karena perkataan suaminya itu sangat kasar. Padahal semalam ia mengira jika sikap arlan baik karena mau membantu nya tanpa syarat. Dia akhirnya beranjak dari sana membiarkan suaminya itu tetap tidur di sofa.
Dia turun, dan berjalan menuju dapur. Di sana ada para pelayan yang sedang membantu Bu dini untuk menyiapkan sarapan.
"Loh ko kamu sudah bangun sayang?" ucap Bu dini.
"Iya Bu saya sudah biasa bangun jam segini"
"Apa kamu tidak lelah?" kata Bu dini seraya tersenyum jahil.
"Tidak ko Bu.. oh ya ada yang bisa saya bantu?" tanya Kirana.
"Sepertinya tidak ada nak, semuanya hampir selesai." ucap Bu dini.
"Kamu bangunkan saja dulu suamimu agar kita bisa sarapan bersama" sambungnya.
"Sepertinya mas Arlan kelelahan. Jadi masih tidur, tapi mungkin sebentar lagi dia akan bangun." kata kirana asal.
"Ya sudah kita ke taman belakang saja yuk, Nanti urusan ini para pelayan yang akan menghidangkannya" ajak Bu dini.
"Mama punya banyak tanaman hias dan bunga-bunga yang cantik, bantu mama merawatnya ya" Bu dini menggandeng tangan menantunya berjalan ke taman yang dimaksud.
"Iya Bu," kata Kirana mengikuti langkah ibu mertua nya.
**
Arlan membuka mata, saat alarm di handphone berbunyi cukup nyaring. Dia bangun dan merasakan seluruh tubuhnya sakit karena tidur di sofa. Dia melirik kearah tempat tidurnya yang ternyata sudah kosong namun terlihat rapi.
Arlan merentangkan tangannya sebelum akhirnya menyambar handuk yang dijemur diruang walk in closet. Dia memperhatikan ruangan itu menjadi rapi karena kedatangan Kirana.
Setelah mandi dan siap dengan pakaian kerjanya , Arlan menuruni tangga lalu berjalan menuju tempat makan. Di sana sudah ada papa, kak Cakra dan istrinya serta ponakannya yang menggemaskan.
"Pagi om Allan" sapa aish.
"Pagi juga cantik" ucap Arlan sembari mengecup pipi tembem ponakannya.
Arlan mengedarkan padangan mencari sosok lain.
"Kenapa? Kau cari istrimu?" tanya Cakra.
"Tidak" ucapnya singkat.
"Mama dan istrimu sedang di taman belakang melihat tanaman hias. Sana susul mereka, agar kita bisa sarapan bersama" perintah pak Bambang.
Arlan yang merasa malas itu hanya menurut dan berjalan ke arah belakang.
"Mam..!" teriak Arlan sembari jalan mendekati kedua wanita yang sedang mengumpulkan bunga-bunga untuk ditaruh ke dalam vas.
Arlan merasa heran ibunya itu terlihat akrab bersama Kirana, padahal mereka baru saja berkenalan setelah acara ijab qobul yang diadakan kemarin. Sikap Bu dini biasanya akan dingin pada setiap wanita yang Arlan kenalkan padanya tak terkecuali juga dengan lia. Namun kali ini terasa berbeda, ibunya sangat ramah dan terlihat baik hanya pada Kirana seperti selayaknya menantu idaman.
"Lihat suami mu baru saja ditinggal sebentar sudah mencari-cari kamu nak" ucap Bu dini memberitahu tingkah anaknya pada Kirana.
Namun kirana hanya bisa tersenyum tipis karena dia tahu Arlan masih belum menerimanya.
"Sedang apa kalian? Papa sudah memanggil untuk sarapan bersama." ucap arlan.
"Ayo nak, kita sarapan dulu" ajak Bu dini, Dia menggandeng tangan Kirana lalu berjalan melewati Arlan.
Sesampainya di tempat makan, Kirana duduk disebelah Arlan dan Bu dini di samping sang suami.
Sebelum arlan mengambil nasi serta lauk, kirana sudah lebih dulu menyendokkan nasi dan lauk kesukaan Arlan di piring suaminya.
Ingin rasanya Arlan kembali membentak Kirana untuk tidak perlu melakukan tugasnya. Namun diurungkan karena masih ada kedua orang tuanya disana.
Saat sedang makan, Arlan maupun Kirana disinggung tentang bulan madu oleh mama nya. Hingga membuat Arlan tersedak karena terkejut dengan pertanyaan sang ibu. Arlan menerima air yang disuguhkan oleh Kirana.
"Untuk sekarang, aku belum bisa mah, pah.. pekerjaan ku sedang banyak. Mungkin setelah menyelesaikan proyekku ini. Kami akan langsung terbang ke Jepang" ucap Arlan beralasan.
"Kan ada Cakra yang bisa menghandle nya" ucap pak Bambang.
"Tidak pah.. ini proyek penting ku. Aku sendiri yang harus menyelesaikannya." kata Arlan lalu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ya sudah terserah kamu saja" ucap pak Bambang.
Setelah mereka selesai makan, aish ponakan arlan turun dari bangkunya dan mendekati kirana. Ia memegang tangan Kirana untuk mengajaknya bermain bersama.
"Tante aku pengen main baleng Tante boleh?" tanya aish.
"Boleh dong.. ayo" ajak Kirana.
Aish menarik tangan Kirana berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Arlan sendiri pamit kepada kedua orang tuanya untuk segera ke kantor.
"Kamu tidak menemui istrimu dulu?" tanya Bu dini.
"Aku buru-buru, nanti saja aku menghubunginya" ucap arlan berlalu setelah menyalami kedua orang tuanya.
***