Malam Pertama

1114 Kata
** Arlan memasuki kamar mandi setelah melepas sepatu dan jas pernikahan nya. Tidak lupa dia membawa handuk yang berada di ruangan walk in closet dan masuk kedalam kamar mandi tanpa memperdulikan Kirana yang masih terlihat canggung. Kirana merasa sangat tegang dengan keadaan saat ini. Mungkinkan malam ini Arlan akan meminta haknya sebagai suami. Membayangkan nya saja sudah membuat Kirana bergedik ngeri, apalagi dia pernah mendengar cerita dari teman-temannya yang menikah muda bahwa malam pertama bukanlah malam yang manis melainkan malam yang sangat menyakitkan bagi para wanita. Kirana sampai menggigit-gigit jarinya sendiri saat memikirkan hal itu. Ia merasa harus mencari alasan untuk bila nanti Arlan meminta haknya. Kirana merasa belum siap memberikan mahkotanya pada sang suami yang baru saja dikenalnya setelah acara ijab qobul itu. Suara kucuran air yang terdengar dibalik pintu kamar mandi semakin membuat kirana gelisah. "Apa yang harus aku lakukan? haruskah pura-pura tidur saja ya?" ucap Kirana. Tanpa pikir panjang, kirana melangkah menuju ranjang lalu segera merebahkan diri di atas kasur sebelum Arlan keluar dari kamar mandi. Kirana menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan hanya menyisakan kepalanya yang terlihat. Kirana pun segera menutup matanya rapat-rapat. Tak berselang lama, arlan keluar hanya dengan mengenakan handuk diatas pinggang hingga memperlihatkan bagian tubuhnya atasnya yang atletis. Tapi sayangnya hal itu tidak terlihat oleh Kirana, karena dia sudah berbaring sambil memunggungi Arlan. Arlan berjalan ke arah walk in closet namun sempat melirik sekilas istrinya yang sudah berbaring tanpa melepaskan sanggulnya serta baju pengantin yang masih dikenakannya. Setelah berganti pakaian, Arlan kembali lagi ke kamarnya. Dia melihat istrinya itu masih dalam posisi memunggungi. 'Apa dia bisa tidur sepulas itu tanpa mandi atau mengganti pakaiannya?' pikir Arlan. Dia mengambil bukunya yang tergeletak diatas meja lalu berjalan ke luar kamar tanpa memperdulikan istrinya. Sedangkan Kirana saat ini benar-benar telah tertidur lelap karena rasa lelahnya seharian ini. ** Bu dini bermaksud ingin mengajak Arlan serta menantunya untuk makan malam bersama. Ia lalu naik ke lantai atas karena keduanya belum juga memperlihatkan batang hidung sejak datang. Bu dini sempat meragukan untuk mengajak pengantin baru itu untuk berbaur bersama mereka seperti sekarang. Dia tidak ingin menantunya itu merasa canggung karena pernikahan yang mendadak ini. Bu dini pun sampai antusias sekali mempersiapkan berbagai hidangan untuk menyambut anggota keluarga mereka yang baru. Dia mengetuk pelan pintu kamar arlan, namun tidak ada respon disana. Sampe ketiga kalinya akhirnya menyerah dan turun lagi ke lantai bawah menemui anggota keluarnya yang lain. "Mama kenapa? ko murung begitu?" tanya pak Bambang. Bu dini hanya diam, memperlihatkan rasa kecewanya. Cakra dan istrinya saling melirik, dengan sikap ibunya yang tiba-tiba hilang semangat. "Lalu mana Arlan dan Kirana? kenapa mereka tidak ikut turun?" "Sepertinya mereka tidak ingin makan bersama kita pah, padahal mama sengaja menyiapkan banyak makanan kesukaan anak mu dan menantu kita. Tapi mereka malah mengabaikan mama." ucap Bu dini dengan raut wajahnya yang kecewa. "Ma, mama lupa kalau malam ini kan mejadi malam pertama mereka sebagai suami istri. Mungkin saja mereka berdua sedang melakukannya. Mereka mungkin sedang bermain permainan panas.. contohnya.." kata Cakra "Mas..!" Vina melotot mendengar ucapan suaminya itu karena aish masih berada disana. buru-buru ia menutup telinga sang anak, takut suaminya itu akan bicara lebih vulgar lagi. "Hmm" pak Bambang ikut mencairkan suasana yang sempat hening tadi. Sedangkan Bu dini baru menyadarinya, ia tampak senyum-senyum sendiri. Dalam pikirannya ternyata sikap Arlan tidak jauh dari papanya. Hingga membuatnya mengingat masa lalu ketika suaminya langsung mengajaknya malam pertama padahal kala itu sedang merasa sangat lelah karena pesta yang diadakan semalaman. "Mama kenapa?" tanya pak Bambang yang melihat istrinya tersenyum lalu setelah nya menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak apa-apa pah, mama hanya merasa sedikit pusing" ucap Bu dini. "Ya sudah ayo kita mulai makan" ajak pak Bambang. Di sana hanya terdengar denting sendok yang saling beradu tanpa adanya pembicaraan lagi. Mereka bergelut dengan pikirannya masing-masing. ** Pukul 11, Arlan telah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja pribadi yang berada di ruangan sebelah. Awalnya dia hanya ingin membaca buku saja untuk menghindari Kirana yang saat ini berada di kamar. Namun dia teringat banyak email masuk yang belum sempat diperiksa. Hingga membuatnya mengerjakan itu semua. Dia sengaja menghindari istrinya karena tidak sudi jika harus menyentuh perempuan lain, apalagi seseorang yang asing baginya meskipun mereka sudah berstatus sebagai suami istri. Perutnya sudah mulai terasa perih. Arlan baru menyadari jika sejak sore tadi, dia belum memakan apapun. Dia pun beranjak dari tempatnya lalu berjalan ke lantai bawah yang sudah terlihat sepi juga dengan penerangan yang minim. Sesampainya di dapur, Arlan mendapati seseorang yang memakai dres berwarna putih itu sedang duduk memunggungi nya. Dia hampir saja ingin berteriak jika wanita itu tidak memanggil namanya. "Mas Arlan." ucap Kirana. "Kamu sedang apa di sini?" tanya Arlan. "Aku merasa lapar karena tadi siang belum makan apapun" "Lalu kenapa kamu masih memakai baju itu dan..?" tanya Arlan terus memperhatikan kondisi istrinya dengan rambutnya yang acak-acakan. "Sulit sekali membuka sanggul ini, dan baju ini juga terlalu ketat. Jadi aku tidak berhasil menarik resletingnya." Arlan mengambil sendiri piring lalu menyendokan nasi diatasnya. "Mas biar saya saja yang melayanimu" ucap Kirana. "Tidak usah, lanjutkan saja makanmu, Nanti akan saya bantu melepas semua bebanmu itu" Perkataan Arlan membuat Kirana melotot dan tersedak. Dia memukul-mukul dadanya sendiri, Arlan memberikan air minumnya pada Kirana, agar istrinya tidak terbatuk-batuk hingga membangunkan seisi rumah. "Jangan berpikir macam-macam, aku hanya ingin membantu mu. jika kamu mengharapkan lebih, kamu urus sendiri saja masalahmu itu." kata Arlan sebelum menyantap makanan didepannya. ** Mereka berdua kembali ke kamar arlan setelah menyelesaikan makan malam. Arlan lalu menutup pintu kamarnya dan berjalan mendekati Kirana yang sedang duduk di depan meja rias. Tanpa permisi, Arlan membantu Kirana melepas aksesoris yang masih menempel di kepala istrinya. Walaupun Arlan seorang pria, namun dia bisa melakukan dengan perlahan tanpa membuat sehelai rambut Kirana putus. Dalam jarak yang sangat dekat ini Kirana dapat melihat jelas raut wajah suaminya. Sungguh sangatlah sempurna pikirnya. lelaki didepannya ini mempunyai alis hitam tebal dan rapi. Bulu mata yang lentik seperti perempuan. Hidungnya yang mancung dan terakhir bibirnya yang tipis kemerahan seperti anak kecil. Imut dan menggemaskan. "Saya sudah bilang, jangan berpikir macam-macam" ucap Arlan yang masih tetap fokus pada aksesoris rambut bagian depannya. Kirana merasa malu karena Arlan tau jika dirinya terus saja memperhatikan wajah tampan suaminya. Kirana buru-buru membuang muka kearah lain agar suaminya itu tidak melihat wajahnya yang memerah karena menahan malu. "Nanti kamu tidur diatas ranjang, aku akan tidur di sofa. Oh ya untuk baju-baju mu sepertinya mama sudah mempersiapkannya. Kamu cari saja di sana. Sudah tuh" ucap Arlan. "Sana mandi.." sambungnya. "Tapi mas, gaunnya?" tanya Kirana. Arlan lalu mendekat dan menarik resleting gaun kirana ke arah bawah. Dia langsung membalikkan badan memunggungi istrinya. "Sudah sana.." ucap Arlan "Terima kasih mas" Kirana berbalik badan dan segera berjalan menuju kamar mandi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN