Nyonya Arlan

1154 Kata
Tanpa disadari arlan merasa terpesona dengan perempuan yang kini duduk disampingnya. Dia sampai tak berkedip saat pertama kali melihat kedatangan calon istri yang duduk bersanding disampingnya. "Ehhmm.. " Cakra membuyarkan lamunan arlan seketika. Tatapan Arlan pada kirana Ternyata diperhatikan oleh kakaknya sendiri. Buru-buru Arlan membuang muka kearah samping kanan. Bu dini kemudian memasangkan sebuah kain putih transparan diatas kepala kedua mempelai. Para saksi dan penghulu pun sudah siap untuk memulai acara ijab qobul. Kirana yang merupakan anak yatim piatu itu meminta tolong pada wali hakim untuk menikahkan mereka. Serangkaian acara dan doa-doa pun dipanjatkan sebelum melakukan ijab qobul. Sampai saat yang paling mendebarkan bagi kirana pun dimulai. Tapi tidak untuk Arlan. Karena pernikahan ini bukanlah keinginannya. "Saudara Arlan apakah anda sudah siap?" tanya pak penghulu. Arlan diam sejenak. Hingga membuat kedua orang tua dan para saudaranya saling melirik merasa khawatir jika Arlan tiba-tiba membatalkan pernikahan itu. "Iya siap pak" jawaban itu membuat kedua orang tuanya merasa lega. "Mari kita mulai acaranya ya" ucap pak penghulu. "Bismillahirrahmanirrahim... Saudara Arlan Kurnia Wijaya bin Bambang wijaya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Kirana Pratiwi binti Ahmad Santoso dengan maskawinnya berupa emas 75 gram dan uang sebesar 2 juta seratus sembilan ribu rupiah. Tunai" "Saya terima nikah dan kawinnya... Kirana Pratiwi dengan mas kawin berupa emas 75 gram dan uang sebesar 2 juta seratus sembilan ribu rupiah dibayar tunai" "Sah.. " "Sah.." "Sah.." Para tamu undangan yang ikut menyaksikan acara itu merasa terharu karena Arlan mampu mengucapkan ijab qobul hanya dalam sekali tarikan nafas. Sahabat juga kerabatnya merasa senang karena pria tampan dan mapan yang digilai banyak perempuan itu akhirnya sudah menyandang status sebagai suami orang. Meskipun sebelumnya sempat beredar kabar jika arlan akan menikahi seorang wanita dari kalangan modeling. Namun santer terdengar jika rencana pernikahan itu akhirnya gagal. Dan Arlan memilih untuk menikahi seorang gadis sederhana dari kalangan biasa yang tak kalah cantik dengan mantan kekasihnya dulu. Menurut kabar yang beredar memberitakan bahwa Selia lah yang melakukan perselingkuhan hingga menyebabkan Arlan memutuskan berpisah dengannya. Hal itu pun terjadi sebelum kecelakaan naas yang menimpa sang model. Sampai saat ini, kabar burung itu masih belum sampai ke telinga Arlan. Jika dia tahu, Arlan akan sangat marah dan mencari tahu dalang dari semua pemberitaan buruk tentang kekasihnya. Bu dini segera memberikan kotak perhiasan yang berisi sepasang cincin pernikahan yang sangat cantik. Ibu Arlan itu menyodorkan kotak perhiasan didepan kedua mempelai agar anak serta menantunya segera mengambil dan saling memakaikan satu sama lain. Setelah saling bertukar cincin, Kirana berusaha meraih tangan arlan bermaksud untuk menyalaminya sebagai rasa hormat pada sang suami. Namun Arlan tetap diam saja tanpa meresponnya. Hal itu membuat Kirana merasa canggung karena uluran tangannya itu tidak mendapatkan balasan. Arlan sebenarnya merasa sangat malas jika harus berpura-pura merasa bahagia, namun saat ini dirinya juga tidak ingin mempermalukan wanita yang kini menjadi istrinya. Arlan lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan kirana yang terasa kasar sampai membuatnya sedikit terkejut. Setahunya kebanyakan tangan wanita akan terasa lembut, namun beda halnya dengan sang istri. Dia merasa wanita itu terlalu bekerja keras. Kirana segera mencium punggung tangan suaminya dengan perasaan yang masih terasa canggung. Setelahnya Arlan mencium kening nya hingga membuat Kirana merasa berdebar untuk pertama kali nya melihat sosok pria yang begitu dekat dan kini telah resmi menjadi suaminya. Rangkaian demi rangkaian acara pernikahan yang sangat megah itu dilalui. Banyak para tamu undangannya yang terdiri dari rekan kerja dan para kolega Arlan yang datang memberikan Hadiah dan ucapan selamat padanya. "Selamat ya.. semoga kalian selalu bahagia sampai kakek dan nenek" Ucap Eza. "Jangan mendoakan mereka bahagia hanya sampai kakek nenek. Tapi, semoga selalu bahagia sampai maut yang memisahkan ya tidak lan?" kata Dimas yang berdiri dibelakang Eza. Dimas menyalami sahabatnya dan kembali berucap "Jadilah imam yang baik untuk istrimu, jangan sampai kau membuat luka dihatinya. Ingat semua tanggung jawab sudah sepenuhnya kau pikul." Dimas sengaja menekankan kalimat itu untuk mengingatkan sahabatnya agar sadar untuk tidak memikirkan wanita lain selain istrinya. Namun Arlan hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Ia menepuk keras punggung Dimas dan berbisik padanya. "Ini urusanku.. kau tidak perlu ikut campur." ucap arlan dengan begitu dingin. Eza menarik lengan Dimas menjauh agar mereka tidak menjadi pusat perhatian. Di sana banyak pasang mata yang mungkin saja memperhatikan mereka. Kirana sendiri hanya mampu diam dan memberikan senyuman manisnya pada orang-orang yang menyalami dan mengucapkan selamat. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai nyonya Arlan. Dari banyaknya tamu undangan yang datang. Tidak ada seorangpun yang dikenalnya kecuali Bu sinta dan pak Bram, bibi dan pamannya. Kirana tidak mengundang teman-teman nya karena pernikahan ini diadakan secara mendadak. Sehingga dia tidak sempat memberi kabar tentang pernikahan nya ini. Bu sinta tersenyum sinis melihat ponakannya sedang bersanding dengan kekasih dari anaknya. Dia meyakini bahwa pernikahan ini hanya akan bertahan sebentar sampai Lia benar-benar sadar. Dia yakin pada saat itu Kirana akan didepak keluar dari keluarga suaminya. ** Setelah berbagai acara dilalui, Kirana dan Arlan diantar ke rumah kedua orang tua Arlan dengan menggunakan mobil pengantin yang dihiasi berbagai macam bunga. Sepanjang perjalanan pun tak ada pembicaraan, hanya ada keheningan di sana. Hal itu membuat pak Lukman merasa kasihan pada istri dari majikannya itu. Apalagi dia sudah paham sekali dengan watak buruk arlan jika sedang marah. Semoga saja istrinya itu mampu menjadi peredam dikala Arlan marah. Sesampainya di kediaman pak Bambang, Kirana merasa takjub dengan keindahan rumah megah nan luas. Baru kali ini dia melihat secara langsung rumah mewah dan megah itu di depan matanya. Lukman membukakan pintu untuk Kirana saja. Karena Arlan sudah keluar terlebih dahulu. "Kau ingin tetap diam disana?" tanya Arlan. "A.. aku.. mas?" kata Kirana. "Iya siapa lagi?" Kirana berjalan dengan susah payah karena kakinya sudah terasa pegal berdiri selama beberapa jam, Apalagi dia tidak biasa menggunakan sepatu hils yang terlalu tinggi. "Mari saya bantu nyonya.." ucap Lukman. "Tidak usah Lukman! biarkan dia jalan sendiri" perintah Arlan. "Tapi tuan.." "Kau ingin membantah ku?" tanya Arlan sambil menatap pria yang lebih tua darinya. "Maafkan saya nyonya.." "Tidak apa-apa pak.. saya masih bisa jalan sendiri." ucap Kirana. Arlan dengan cuek berjalan mendahuluinya tanpa menawarkan bantuan. Kedatangan mereka berdua disambut oleh keluarga Arlan dengan cukup hangat. Mereka turut merasa bahagia terutama Bu dini. Dia senang karena putra bungsunya kini sudah benar-benar menikah dengan wanita yang menurutnya jauh lebih baik dari Lia. Bu dini menghampiri kirana yang berjalan dibelakang arlan. "Lihat Arlan istrimu ini kesusahan kamu malah mengabaikan nya begitu saja." kata sang ibu. "Saya sungguh tidak apa-apa ko Bu.." Arlan berjalan mendahului dan menaiki tangga menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika panggilan lembut sang ibu. "Arlan...." "Arlan..." "Iya mah iya.." Arlan berbalik lalu melangkah kearah istrinya dan tanpa aba-aba langsung menggendong Kirana di depan keluarga nya. Sontak saja hal itu membuat Kirana terkejut dengan tingkah Arlan secara tiba-tiba. Arlan menggendong Kirana menuju ke lantai atas. Ia membuka pintu kamar dan menurunkan Kirana diatas tempat tidurnya. "Maaf mas sudah merepotkan mu" ucap Kirana. Arlan hanya diam saja sambil mencopot jam tangan serta jas pernikahan nya yang masih melekat ditubuhnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN