Pertemuan Pertama

1296 Kata
Keesokan harinya Kirana sudah bangun pukul 4 pagi untuk melakukan aktivitas seperti biasa, mandi dan sholat subuh. Saat baru selesai berdoa, tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamarnya yang lumayan kencang. “Kirana... Kirana.. buka pintunya.” “Iya tunggu sebentar bi..” Kirana melipat asal mukenanya lalu segera membuka pintu. “Lama sekali.. cepatlah kita harus segera bersiap untuk pergi ke hotel” “Untuk apa?” Tanya Kirana “Masih saja bertanya.. ini kan hari pernikahanmu. Cepatlah jangan membuang waktu. Ingat! pakailah kebaya yang semalam bibi persiapkan untukmu." Bu sinta langsung keluar kamar mengatakan begitu maksudnya tanpa menunggu jawaban kirana. Setelah selesai bersiap, Kirana melangkahkan kakinya ke lantai bawah. Dilihatnya paman serta bibinya sudah rapi. Dia kemudian menghampiri mereka. “Kamu berdandan ya?” tanya Bu sinta "Tidak bi.." “Kenapa lama? pasti kamu berdandan kan? di sana nanti kamu juga akan didandani.. dasar centil..!” ucap Bu sinta. Ingin rasanya Kirana pergi saja dari sana kalau tidak mengingat tentang hutang ibunya pada bibinya yang licik itu. "Ayo nak paman bantu." melihat ponakan yang sedang kesusahan karena memakai sepatu berhak 10 cm. Pak Bram menuntun Kirana dengan hati-hati menuju ke mobil, lalu membukakan pintu untuknya. "Bi.. dimana Lia?" tanya Kirana , sepupunya itu sudah lama tidak terlihat sejak dia datang dari Semarang sebulan yang lalu. Kirana merasa bersalah, apakah karena dirinya membuat Lia gagal menikah dengan calon suaminya. Hingga membuat sepupunya itu tak sekalipun memperlihatkan diri. "Dia ada diluar negeri.!" ucap bu sinta dengan nada ketus. Alih-alih menjelaskan, Bu sinta malah sengaja menyembunyikan kebenaran perihal keadaan Lia sekarang. Menurutnya, jika Kirana mengetahui yang sebenarnya maka dia tidak akan melanjutkan pernikahan ini. "Benarkah itu? dia tahukan jika aku akan menikahi calon suaminya?" Tiba-tiba pak Bram mengerem mendadak mobil yang sedang dikendarainya setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari ponakannya itu. "Kenapa si pah? hampir saja mama jantungan" tanya Bu sinta. "Tadi ada kucing lewat ma," ucap pak Bram asal. Sebenarnya saat ini dia merasa menjadi lelaki yang pengecut. Disisi lain anaknya sedang koma namun dengan terpaksa menikahkan calon suami dari anaknya sendiri dengan keponakan nya agar rencana pernikahan itu tidak gagal. Karena jika tetap menunggu Lia sadar hanya akan menjadi sia-sia. Keluarga Wijaya sudah mendesak untuk mengadakan acara pernikahan walaupun bukan dengan putri kandung pak bram. "Paman kenapa?" tanya Kirana yang terus memperhatikan wajah pamannya yang sempat melamun. "Ah.. tidak tidak.. paman tidak apa-apa." pak Bram kembali menyalakan mesin mobilnya yang sempat terhenti lalu melanjutkan perjalanan menuju hotel. ** "Tuan.. tuan muda..." ucap salah satu pelayan yang berada didepan pintu kamarnya. 4 pelayan yang ditugaskan untuk membangunkan Arlan masih saja berdiri disana. Beberapa kali mereka mengetuk pintu itu, namun sampai detik ini tak kunjung dibuka. "Hah.. berisik sekali." Teriak arlan sambil menutupi kepalanya dengan bantal. "Kenapa kalian masih disini? dimana tuan muda?" tanya pras, asisten yang menjadi kepercayaan pak Bambang. "Tuan Arlan masih tetap mengunci kamarnya dan tidak membukanya padahal kami sudah setengah jam yang lalu berdiri di sini" ucap salah satu diantara mereka. "Astaga... ya sudah cepat buka pintunya, pakai kunci duplikat ini." pelayan itu menerima kunci dari pak Pras lalu segera membuka pintu tersebut. Dilihatnya Arlan masih tertidur dengan kemeja serta celana panjangnya yang berserakan dilantai. Sepertinya tuannya itu, semalam hanya tidur dengan memakai boxer setelah mabuk-mabukan. "Tuan muda... tuan" pak pras menggoncang pelan tubuh Arlan agar majikannya itu bangun. Alangkah terkejutnya arlan, ketika mendapati asisten ayahnya dengan beberapa pelayan sudah berdiri tepat di depan tempat tidurnya. "Bagaimana kalian bisa masuk?" Arlan membuka mata sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing karena efek semalam. "Dengan ini tuan." ucap pras sambil menunjukkan beberapa kunci duplikat ditangannya. "Hah..! keluar kalian semua..!" bentak Arlan. "Mengganggu istirahat ku saja.!" Tambahnya. Namun, para pelayan dan juga pak pras tidak bergerak sedikitpun untuk meninggalkan kamarnya. "Kenapa masih diam disana? keluar..!" bentak Arlan. "Apa anda lupa tuan?.. hari ini, anda harus segera pergi ke hotel untuk melangsungkan pernikahan dengan nona Kirana" pak pras mencoba mengingatkan majikannya yang sungguh keras kepala itu. "Shiitt..! " "Tuan dan nyonya sudah menunggu anda dibawah. dan mereka..." Belum sempat melanjutkan ucapannya, Arlan memotong. "Ya.. ya... aku tau apa yang harus ku lakukan" ucap Arlan sambil menyambar handuk yang dipegang oleh pelayannya. Arlan melangkah ke dalam kamar mandi, sedangkan pak pras kembali turun. Para pelayan itu, bukanlah pelayan biasa. Mereka merupakan ahli stylish ternama. perlengkapan yang mereka bawa adalah hasil dari karya desainer terkenal. Seperti Jas, baju serta sepatu yang bernilai ratusan juta jika di hitung-hitung. ** Tepat pukul 8 , Arlan menuruni tangga menuju lantai bawah. Dia terlihat begitu menawan dengan tampilan jas hitam dengan kemeja putih dan celana panjangnya. Di sana sudah banyak orang yang menunggu. Mereka seketika menatap kehadiran arlan yang baru saja turun dari lantai atas. Melihatnya saja sampai tak berkedip karena ketampanannya. Kebanyakan dari mereka yang datang merupakan kerabat juga saudara yang akan ikut mengantarkan calon pengantin laki-laki ketempat ijab qobul itu diadakan. "Om...om endong aisshh" tiba-tiba seorang anak kecil berusia 5 tahun berlari menghampiri Arlan. Anak kecil itu melepaskan diri dari genggaman tangan orang tuanya yang tak lain kakak laki-laki Arlan. Ya, Arlan memang mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Cakra. Dia sudah menikah dan dikaruniai seorang gadis kecil bernama Aishtiya. Anak kecil yang sebentar lagi akan berstatus menjadi kakak karena istri dari Cakra sedang mengandung 7 bulan. "Aishh.. sini sayang" panggil Cakra "Enda mau papi.. aishh mau na ama om allan." begitu cadelnya ucapan sang anak namun cakra tetap memahami maksud ucapan anaknya. "Jangan sayang.. ayo gendong papi saja ya?" bujuk Cakra. Tidak mungkin calon pengantin harus menggendong-gendong anak kecil tepat dihari bahagianya, bagaimana nanti dengan tanggapan para tamu. "Enda mau.." aish merengek dibawah kaki Arlan, memegangi celana Arlan dengan tangan kecilnya itu. Tanpa mengatakan apapun, Arlan langsung menggendong aish lalu berjalan menuju ke mobil yang sudah terparkir didepan. Hatinya memang sedingin es, namun jika keponakannya itu merengek manja. Pastilah tidak akan begitu tega mengabaikan nya. "Biarkan saja nak... setelah ini Arlan akan jarang lagi bermain dengan aish" Bu dini menahan tangan anaknya yang akan mengejar Arlan. "Tapi ma.. nanti jika aish malah mengganggu acara Arlan bagaimana?" "Tidak akan. Dia cucuku yang pintar.. untuk sekarang biarkan saja. Setelah sampai hotel mama akan membujuk gadis kecil mu." "Baiklah" "Cepatlah bergegas.. keluarga pak Bram pasti sudah berada disana." Rombongan merekapun langsung mengikuti mobil Arlan yang sudah melaju terlebih dulu. ** "Wah.. nona memang dasarnya cantik. setelah mendapat beberapa polesan menjadi semakin cantik" ucap wanita yang berprofesi menjadi mua. Rasanya tak percaya, ketika Kirana melihat pantulan dirinya didepan sebuah cermin. Make up yang sudah membuatnya begitu cantik. Dia menatap wajahnya di cermin dengan menengak-nengok kan kepalanya. Sebenarnya wajah aslinya memang cantik tidak jauh beda dengan tampilannya yang sekarang. Namun, karena Kirana jarang berdandan tebal hingga membuat nya begitu pangling. Melihat wajahnya sendiri, mengingatkannya dengan rasa penasaran pada calon suaminya. Bagaimana rupa, umurnya ataupun nama calon suaminya sampai detik ini belum tau seperti apa. Tak lama berselang. Bu sinta masuk dengan senyuman yang sulit diartikan ketika melihat Kirana yang sedang melamun. "Wah.. Ponakan ku sudah cantik ternyata." Bu sinta berjalan pelan menghampiri kirana. "Ayo nak, keluarga Wijaya sudah datang. Calon suamimu sudah siap di depan penghulu. Saatnya kita menemui mereka." ajaknya pada kirana, ia menuntun Kirana dengan pelan keluar dari kamar hotel. Semua mata tertuju pada kirana, saat ia melangkah Melawati beberapa orang didepannya. Gadis yang terbilang cantik dengan postur tubuhnya yang ramping itu sebentar lagi akan menjadi istri dari pemilik group Bumi Wijaya Corporation. Tamu undangan yang datang menatap heran dan saling berbisik dengan gaun yang dikenakan kirana terbilang sederhana bahkan bukan dari merek terkenal. Arlan yang menyadari tatapan semua orang tertuju pada kedatangan calon istrinya. Ia pun ikut melirik kearah pusat perhatian itu berada. Tak dipungkiri sejak dipaksa menikah, mereka memang tidak pernah sekalipun bertemu ataupun berkenalan. Sampai akhirnya Kirana dan Arlan saling menatap. Inilah pertemuan pertama mereka terjadi saat momen ijab kabul akan dilaksanakan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN