Kesedihan mendalam

1712 Kata

Wahyu lanjut menuju kamarnya. Setelah sebelumnya menuju dapur untuk mengambil minum. Juga menenangkan dirinya sendiri. Nampak Bik Inah menatap kedatangan majikannya tersebut dengan raut wajah takut. “Gimana keadaan Dewi, Bik?” tanya Wahyu setelah menghabiskan setengah isi gelas air dingin yang diambil dari dalam kulkas. Bik Inah menghentikan aktivitas mencuci piring bekas makan majikan muda tampan tadi sore. “Aa-anu, Tuan, eh Pak. Tadi Nyonya datang langsung ke kamar. Be-belum keliatan keluar lagi. Tt-ttapi...,” Bik inah gemetar tak berani meneruskan. “Tapi apa Bik?” Wahyu menoleh ke arah Bik Inah. Membuat wanita tua itu terasa sedang di cekik lehernya. Pedahal Wahyu menatap sendu, bukan tatapan membunuh. “Ss-saya liat, Nyonya penuh dd-darah.” Bik Inah gugup dan ketakutan, tak mau mene

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN