Tiara duduk tak sabaran pada sebuah meja cafe. Berkali-kali ia mengalihkan pandang ke arah pintu datang, mencari sosok yang ia nantikan. Tangannya yang terkepal sempurna, sesekali mengetuk-ngetuk meja, mencoba memecah gelisah, menahan getaran dalam d**a. Masih tak percaya dengan apa yang ia lihat di pusara Bunga beberapa jam lalu. Tak juga berani menebak tanpa memastikan langsung. "Daddy?" Tiara terpaku di tempat. Persendiannya terasa membatu, tak bisa lagi maju. Wahyu berbalik, buru-buru menghapus jejak sendu di wajah. Ikut terperanjat tak percaya bertemu calon menantunya di depan makam Bunga. "Ara!? Kamu ngapain di sini?" "Aah, Ara mau ke—," Tiara tercekat sendiri, tiba-tiba tak bisa berucap yang sesungguhnya. Ia butuh alasan kenapa Wahyu ada di sana. Di tempat yang ia yakini makam

