Pakaian milik Tiara sudah tertata rapi di lemari yang telah tersedia. Bik Inah memang jago soal mengatur dan menyusun. Tak butuh waktu lama, barang yang berada di tas, koper dan beberapa box packing telah berpindah tempat dan tersusun indah dipandang mata. “Makasih ya, Bik!” ucap Tiara tulus. Bik Inah tersenyum, membuat kulit wajah wanita itu berkerut di bagian pipi juga sudut matanya. “Tidak perlu berterimakasih, Non, sudah jadi tugas Bibik. Kedepannya jangan sungkan kalau butuh bantuan, ya!” Bik Inah menyentuh pundak Tiara. Membuat gadis itu mengangguk perlahan. “Sebenarnya Bibik maunya Non Ara satu kamar sama Bibik. Tapi enggak mungkin, hihihi! Bisa diamuk Den Rayyan nanti.” Bik Inah curhat sendiri, terkekeh sendiri. “Memangnya kenapa, Bik?” Tiara mengerutkan kening. “Enggak tau, D

