"Kak Satria, kapan sampai?" aku tersenyum canggung. Kak Tria berdecih saat aku menyebut namanya, langkahnya berjalan pelan kearahku. "Bocah konyol bisa pingsan juga?" ledeknya sambil memamerkan kedua lesung di pipinya. "Apaan sih ..." sahutku jutek sambil memalingkan wajah. "Tisya kenapa, Buk?" tanya Kak Tria pada wanita yang melahirkannya. Ibu yang baru masuk ke dalam kamar dengan nampan di kedua tangannya, langsung menoleh kearahku. "Tanya aja sendiri," sahut Ibu sambil menaruh nampan berisi cemilan di atas meja samping ranjang. Kak Tria nampak menautkan alis, mendengar ucapan Ibu. Mungkin dia bingung melihat expresi Ibu, yang seakan tak acuh kepadaku. "Ibu siapin kamu makan dulu ya. Kalau lapar jangan ditunda-tunda, jadi pingsankan," ucap Ibu, sambil melirik kearah Kak Tria. "Oh

