Sepasang kaki kecil itu terus saja berlari, seakan ada yang mengejar, dan ingin memahat luka sekali lagi pada tubuhnya. Setelah cukup lelah, ia berhenti sejenak untuk mengambil napas yang terasa sudah mencekik lehernya. Di bawah pepohonan rimbun, tepat di pinggir jalanan besar. Luka beristirahat, sembari menatap ke segala arah. Matanya sangat awas, seperti elang yang tengah berpatroli untuk mencari mangsa. Ini merupakan titik pertama perjalanan hidupnya yang keras. Tanpa sadar, bocah ini mulai mengasah diri agar tajam. Hanya beberapa menit saja, hingga rongga dadanya terisi oksigen yang tak banyak. Kemudian Luka melaju kembali seperti banteng yang hanya menatap ke satu arah, serta warna. Namun, langkahnya terhenti tatkala melihat bendera kuning melambai di sisi gapura pada lorong rumah

