Luka Adalah Cahaya

1324 Kata

Waktu merupakan lingkaran nasib, tanpa henti. Siang-malam, pagi-petang, sepanjang waktu, ia tak pernah rehat, dan berhenti. Dalam setiap kesempatan putaran tersebut, tubuh mungilnya terus saja berdiri tegak. Seolah ia karang di sudut lautan yang siap akan banyak hempasan. Namun sebenarnya, ia begitu lemah, dan masih ingin bermanja. Semua itu terlihat jelas, ketika ia menatap anak seusianya yang tengah bersama kehangatan cinta, kasih sayang, serta perlindungan orang tua mereka. "Anak kecil, jangan melamun! Kita sudah sampai." Sopir mengantarkan Luka hingga ke rumah sakit, di mana sang mama diberikan perawatan. "Iya. Terima kasih ya, Pak." Luka merogoh kantong untuk mengeluarkan uang, dan membayar. "Sama-sama," jawab sopir, sembari menatap Luka. "Ongkosnya sudah dibayar. Simpan saja uang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN