Tiga hari kemudian, Luka sudah mampu menggerakkan tubuhnya seperti biasa. Selain itu, ia juga tampak siap dengan segala konsekuensi, serta kenyataan yang akan hadir di depan mata. Pikirnya, saat ini, ia pasti akan menjadi target polisi dan hidupnya dijerat kembali dalam jeruji besi. Tetapi sebenarnya, semua telah diurus dan dirancang sedemikian rupa oleh paman. Luka termenung sejenak. Ia memutar CD kenangan akan perjalanan hidupnya. Tak dapat dipungkiri, kejahatan dan kebaikan seperti dinding tipis jika berada dan hidup di jalanan. Itu sebabnya, Luka begitu khawatir terhadap adiknya. "Sudah siap, Luka?" tanya paman, memecah lamunan Luka. "Iya, Paman." "Ayo, kita sudah bisa pulang! Tapi, dokter visit bilang, kamu tetap harus datang lagi untuk perawatan. Jika benar-benar sudah pulih, te

