"Stop! Kalian bukan lagi anak kecil yang bisa bertengkar sesuka kalian!" teriak Sean saat menghampiri Reina.
"Dia yang duluan memulai Dad!" bela Reina dan langsung memeluk Sean saat tahu bahwa Sean yang menintrupsi pertengkarannya.
Gladys menatap tajam dan penuh amarah kepada Reina.
"Aku tidak akan memulai jika kau tidak memancingku!"
"Tapi kau telah merebut Daniel dariku"
"Aku tidak pernah merebutnya! Lagi pula kau juga bukan siapa-siapanya!" bentak Gladys. Jelas Daniel bukan siapa-siapa untuknya, Gladys hanya menganggap Daniel kakak kelas. Lagipula bukannya Reina menyukai Axel? Lalu kenapa sekarang dia malah rebut perihal Daniel?
Reina kembali melangkah, menarik rambut Gladys, Gladys tidak tinggal diam, tangannya yang bebas juga menarik rambut Reina. Sean dibuat geram melihatnya, dengan keras menarik Reina ke dalam pelukannya.
"Diam!" tegas Sean. Reina yang mendengar nada suara Sean yang seperti itu langsung terdiam. Sedangkan Gladys menatap kedua orang di hadapannya penuh emosi.
Sean melepaskan rengkuhannya pada Reina saat dirasa tidak akan ada aksi jambak-menjambak lagi.
"Dengar b***h! Aku tidak serendah itu merebut Daniel. Aku dan dia memang dekat. Tapi kau berlebihan, bertindak seperti jalang yang mangsanya dicuri. Kau dan ibumu sama saja. Jalang!" ucap Gladys penuh emosi.
Plak
Bukan Reina yang menamparnya, tapi Sean.
"Kau gadis kecil. Siapa kau berani menilai ibunya Reina. Bicaramu sudah kelewatan!" geram Sean
Reina menyeringai melihat Gladys yang masih memegang pipinya, terlihat jelas kemarahan di matanya.
Dilain tempat, Alexander dan Loui hanya tersenyum miring melihat apa yang dilakukan Sean."Tamat sudah untuk si bodoh itu" ucap Loui.
"Dengar. Kau sendiri tidak punya ayah. Ibumu pasti bingung, siapa ayahmu, karena terlalu banyak yang mengisi lobangnya. Dasar anak jalang" ucap Reina.
Gigi Gladys saling bergesekan menahan emosi.
"Tahu apa kau tentang ayahku?! Aku tidak punya ayah karena aku tidak membutuhkan orang b******k sepertinya. Bukan karena apa yang kau ucapkan Reina!"
Setelah berbicara pada Reina, Gladys langsung melihat ke arah Sean penuh benci.
"Kau paman. Terima kasih sudah menamparku! Ku pastikan kau akan menyesal. Bahkan jika kau menangis dan berlutut meminta maafku. Tidak akan pernah aku terima"
"Dalam mimpimu! Memangnya siapa Daddy sampai harus meminta maaf padamu" Balas Reina sambil mengaitkan tangannya di lengan Sean. Sean hanya menatap Gladys dengan kening mengerut.
"Astaga. Kalian pasti bertengkar lagi. Sudah cukup aku bersabar. Aku akan memanggil kedua orang tua kalian. Dan kalian jangan berharap bisa langsung pulang. Ke ruanganku sekarang!" Tegas kepala sekolah yang menghampiri mereka. Kebetulan dirinya dengan beberapa guru sedang berkeliling setelah rapat tadi, melihat beberapa fasilitas yang mungkin saja perlu di ganti.
"Mumpung daddy disini, gantikan mommy yah" manja Reina. Sean hanya diam, niat nya ingin terbebas dari Reina, kenapa malah semakin lama tertahan.
***
Mereka pun masuk ke ruangan kepala sekolah, sedangkan Loui dan Alexander memilih diluar, mengumpat kesal. karena Sean, mereka harus menunda agenda mereka. Bahkan Loui ingin sekali mematahkan kaki Sean karena sudah melangkah mendekati pertengkaran antara dua gadis yang sepertinya baru puber.
"Terkutuklah kau Sean William" umpat Loui
"Ku harap si b******k itu tidak pernah bertemu istrinya, kelakuannya saja masih tidak berbeda" ujar Alexander
"Dude, kau saja masih ke club" sindir Loui pada Alexander.
"Kau juga masih membunuh, meskipun tidak langsung dengan tanganmu" balas Alexander tidak ingin kalah
"Maka kita tidak akan bertemu istri kita" jawab Loui
Alexander mendelik dan menatap tajam Loui. "Ku robek mulutmu jika berbicara seperti itu lagi! Kau saja! Aku masih ingin bertemu istriku!" ancam Alexander. Enak saja si pembunuh itu berbicara. Kurang ajar!
***
Gladys duduk di sofa depan Sean, gadis remaja itu masih memberikan tatapan penuh emosinya, Sean yang sadar hanya mengerutkan keningnya. Sungguh anak yang tidak sopan, kalau bocah itu laki-laki mungkin Sean sudah memukulnya.
BRAKKK
Pintu kepala sekolah dibuka dengan keras oleh seorang perempuan cantik yang sudah tidak lagi dalam usia belasan.
"Gladys!" perempuan itu berlari ke arah Gladys, memeluknya erat. Tidak perduli dengan orang lain di ruangan itu. Terlebih tatapan terkejut seorang Sean William.
Wanita itu melepaskan pelukannya, menangkup wajah sang anak dengan kedua tangannya
"Kenapa pipimu merah? Siapa yang menamparmu?" geramnya.
Dengan wajah yang masih dalam rengkuhan sang ibu, Gladys mengarahkan telunjuknya pada Sean, membuat sang ibu langsung menghadap Sean.
Sean yang di tatapnya hanya bisa diam, nyawanya seolah dipisahkan dari raganya. Rasa senang dan menyesal langsung dia rasakan.
Senang karena bisa bertemu ibu sang gadis di hadapnnya dan menyesal telah melakukan hal buruk pada sang gadis.
"Stephani" lirih Sean yang tidak melepaskan pandangannya pada sosok yang dia rindukan selama 17 tahun ini. Akhinya dia bias menatap wajah itu kembali.
Bukan hanya Sean yang terkejut, Stephani pun cukup terkejut melihat Sean, tapi hebatnya Stephani, dia bisa segera mengatur ekspresinya seolah biasa saja.
"Daddy" panggil Reina pada Sean, mencoba menyadarkan pria itu.
Stephani yang mendengar nya hanya tersenyum miring ke arah Sean.
"Jadi dia anakmu tuan William? Biar ku tebak, ibunya adalah wanita yang dulu bukan?" ucap Stephani sambil tersenyum mengejek ke arah Sean.
Sean yang masih belum menguasai dirinya hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Daddy!" panggil Reina lebih keras.
Sean mengerjapkan matanya, mencoba menarik diri ke dalam realita sialan yang baru dia ciptakan tanpa melepas pandang pada sosok yang teramat dia rindukan.
Stephani mengatupkan giginya menahan segala amarah. Amarah saat tahu anaknya di tampar, orang yang menamparnya dan peristiwa di masa lalu yang masih menggelayuti pikirannya kala melihat sosok Sean.
"Jadi kau yang menampar anakku, tuan Sean!" ucap Gladys dengan nada dingin.
BOOM! Tubuh seorang Sean William kembali di guncang keterkejutan. Fakta apa lagi yang akan menusuk jantungnya. Anak? Maksudnya anak Stephani? Stephani seorang ibu dari gadis yang di tamparnya? Jika dia anak Stephani, bolehkan Sean sekarang berkesimpulan bahwa gadis ini berarti Anaknya juga? Jika benar, bolehkah Sean memutar waktu dan tidak melakukan hal bodoh pada salah satu orang yang dia carinya selama ini? Sean William, kau benar-benar akan menyesal.
"Anak? Maksud mu, anakmu? Gadis ini anakmu? Anaku? Dia anaku kan Stephani anak kita?" cecar Sean pada Stephani
Reina yang mendengarnya membulat kan mata, terkejut tentu saja. Sedangkan Stephani hanya memberi senyum miring pada Sean.
"Bukan anakmu, tapi anaku!" tegasnya
Sean menggeleng. "aku tahu Stephani, tahu tentang dia. Tentang anak kita. Dia pasti anakku juga bukan?"
Stephani menghela nafasnya, menahan agar dirinya tidak meledak saat ini juga.
"Dengar paman. Sepertinya ucapan ku masih bisa diingat. Aku tidak membutuhkan sosok ayah b******k terlebih sepertimu. Jadi jangan pernah mengaku bahwa kau ayahku!" ucap Gladys tiba-tiba. Sejujurnya, Gladys pernah tidak sengaja melihat potret pernikahan ibunya dan Sean, darisitu dia tahu seperti apa sosok ayahnya yang b******k itu.
Sean menggelengkan kepalanya cepat mendengar ucapa Gladys.
"Tidak, Stephani, aku tidak bermaksud seperti itu kepada Gladys. Gladys, ayah tidak bermak---"
"STOPPP! KAMU BUKAN AYAHNYA. SEAN WILLIAM!" Bentak Stephani.
Kepala sekolah yang tidak enak dan tidak ingin di abaikan sudah lebih dulu keluar ruangan. Kenapa ruang kepala sekolah jadi tempat konseling masalah keluarga? Ckckck. Dia merasa tak terlihat.
Dengan segera Sean bangkit lalu berlutut di hadapan Stephani, menggenggam tangannya erat, tangan yang dia rindukan selama 17 tahun ini.
Stephani menghempaskan tangannya yang digenggam Sean, membuang wajahnya menghadap lain agar tidak menatap Sean yang berlutut di hapadannya.
"Daddy apa yang kau lakukan?!" pekik Reina
"DIAM!" bentak Sean pada Reina.
Sean tidak ingin orang lain mengganggunya, dia butuh waktu untuk menjelaskan semuanya pada Stephani dan anaknya demi menebus kelakuan brengseknya dulu dan menjelaskan semuanya. Ini yang sudah dia tunggu selama 17 Tahun.
"Stephani aku mohon, berikan aku waktu untuk menjelaskannya" ucap Sean lembut
Stephani masih diam, wajahnya masih tidak ingin menghadap Sean.
"Aku mohon Step, beri aku kesempatan untuk menje----"
"Mommm" panggil Gladys dengan suara bergetar menahan tangis, memotong ucapan Sean.
Stephani dan Sean yang mendengarnya langsung menatap Gladys yang pucat, air mata menggenang di pelupuk gadis itu.
Stephani menangkup kedua pipi Gladys "Kenapa sayang? Ada apa?" tanya Stephani
"kakak..."
"Kenapa Jay?" tanya Stephani cepat
"Kakak....hiks...hiks...kakak" Gladys sudah tidak bisa menahan tangisnya
"Katakan Gladys. Ada apa dengan kakakmu?" tanya Stephani yang mulai panik.
"Dia...hiks..di rumah sakit mom...hikss...ada orang yang mengeroyoknya..." jelas Gladys. Tangannya meremas ponsel yang menampilkan pesan mengenai kabar kakanya beberapa menit lalu.
Stephani mematung, belum hilang keterkejutannya karena bertemu Sean, jantungnya sudah di pompa lebih keras lagi saat anak laki-laki nya ternyata masuk rumah sakit.
Stephani segera bangkit, meraih tangan Gladys untuk segera pergi bahkan mengabaikan Sean yang masih berjongkok dengan wajah yang sama kagetnya,kenyataan apalagi yang akan dia dapatkan Sean?.
Jika kondisi Sean di dalam ruangan masih diam membatu, seolah arwahnya enggan untuk kembali ke tubuhnya, keberadaan Alexander dan Loui sudah tidak dapat di temui lagi diluar, keduanya segera pergi dari sekolah dengan perasaan penuh harap dan senang karena mendapat kabar mengenai keberadaan istri mereka sekarang ini.
Bolehkan mereka berharap memiliki takdir seperti Sean yang sudah bertatap wajah dengan istri dan anaknya?.
***