Dua

793 Kata
Alexander, Sean dan Loui berjalan dengan gagahnya di rolong sekolah, suasana yang sepi tidak mengubah kesan seolah mereka berjalan di atas catwalk. Sekolah memang sudah bubar beberapa belas menit yang lalu, rapat mereka dengan pihak sekolahpun juga telah selesai dilaksanakan. "Kita langsung kembali, aku dan Sean masih ada rapat pemegang saham" ucap Alexander. "Kau jadi menanam saham di perusahan Sean?" tanya Loui Alexander mengangguk sebagai jawaban sedangkan Sean masih fokus berjalan dengan mata tertuju pada ponselnya. "Hey dude, percepat jalan mu, semakin lama disini, semakin lama aku berimajinasi tentang anakku" ujar Loui pada Sean yang tertinggal beberapa langkah darinya dan Alexander. "Hmmm" balas Sean. Alexander menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Sean yang tepat berada di belakang nya menubruk punggung Alexander. " kau kalau berjalan yang benar!" ucap Sean sambil meraih ponselnya yang terjatuh. "Kau kalau berjalan lihat ke depan!" balas Alexander. "Sudah diam! Lihat dude, di depan sana ada anak jalang mu" ucap Loui pada Sean. Sean memberengut mendengar ucapan Loui, tapi matanya tetap melihat apa yang di ucapkan Loui. Keningnya mengerut melihat Reina sedang memojokan seorang gadis seumuran dengannya ke tembok. "Kenapa anakmu itu tidak pernah berbuat hal normal?" sindir Loui dengan senyum sisnisnya. "Dia bukan anak ku!" tegas Sean "Ckckck, susah jika ibunya seperti itu maka anaknya tidak jauh berbeda" ujar Alexander. "Kalian masih terus menjelekan ibu Reina" jawab Sean. "Karena kau masih terus membelanya Sean. Semoga istrimu disana tidak tahu bahwa kau masih membela orang yang di bencinya" jelas Loui. "Kau mau kemana dude?" tanya Alexander "Jangan bilang kau akan kesana dan membela anak itu? Karena sikap seperti itulah dia terus mengganggu dan merengek kepadamu. Cukup diam dan kita lihat saja dari sini. Semakin kau banyak ikut campur, semakin banyak tingkah bocah itu. Cukup aku meminjamkan beberapa bodyguard ku pada dia hari ini. Dan itu yang terakhir! Sadarkah kau jika anak itu dan ibunya selalu mengganggu setiap pergerakan mu untuk mencari istrimu" jelas Loui Sean yang mendengarnya langsung terdiam dan membatalkan langkahnya menuju Reina dan gadis yang menjadi lawannya. "Cih, dia bukan anak seorang presiden dan orang penting, tapi bergaya ingin pakai body guard. Sombong sekali" cibir Alexander lalu memasukan kedua tangannya ke saku celana. "Awas saja jika orang ku di suruh yang aneh-aneh. Aku bunuh kau Sean!" timpal Loui "Kalian bisa diam??? Cukup kita lihat aja apa yang di perbuatnya!" sentak Sean "Cih, dia selalu marah jika menyangkut anak jalangnya" cibir Alexander. *** Alexander dan Loui melirik Sean yang sedari tadi fokus melihat Reina yang sedang melakukan aksinya. Secara tidak sadar keduanya bersamaan menarikk ujung bibir mereka, meremehkan. melihat ekspresi Sean. "Pantas dari kita bertiga, yang tidak pernah mendapatkan info mengenai istrinya hanya Sean saja" ujar Alexander "Ya setidaknya, tahun ini aku sudah lebih dari tujuh kali mendengar info keberadaan istriku" jawab Loui bangga "Aku bahkan nyaris bertemu istriku jika dia tidak lebih dulu pindah" balas Alexander. "Maksud kalian apa?" tanya Sean menatap sengit keduanya. "Kau masih peduli dengan orang yang menjadi alasan istrimu pergi. Coba kau abaikan mereka dan benar-benar tinggalkan mereka, setidaknya nasib baik akan hinggap di dirimu meskipun sedikit. Kau hanya terus melakukan hal yang akan membuat istrimu semakin enggan memaafkanmu" jelas Alexander. "Dia benar dude. Setiap mata-mata yang kau bayar, tidak pernah ada yang melakukan tugasnya dengan baik. Bukankah itu aneh, mengingat mereka adalah orang-orang milik jalang mu?" kini Loui yang berbicara seolah meminta Sean berpikir apa yang sebenarnya terjadi. "Tapi dia yang bilang akan membantu ku mencari dimana Stephani" bela Sean untuk dirinya. "Kau meminta kucing untuk menjaga ikan?" sindir Alexander. "Bodoh" hardik Loui. Selama ini mereka masih diam melihat bagaimana Sean dengan sifat kasihan nya menolong si jalang. Bodohnya Sean dan pintarnya si jalang menjadikan alasan suaminya yang pergi untuk agar terus bisa mendekati Sean, Reina butuh sosok seorang ayah, itulah yang selalu di jadikan alasan nya. "Aku beruntung masih menutup mulutku rapat-rapat" ujar Alexander. "Kau betul" balas Loui. Sean di buat tidak mengerti dengan ucapan keduanya, matanya tiba-tiba membulat saat gadis yang di pojokan oleh Reina menampar Reina keras. "Berani kau melangkah untuk membela anak itu, maka aku tidak akan memberi tahu apa yang pernah aku dan Loui lihat" ancam Alexander. Sean menatap tajam Alexander meminta penjelasan dari maksud ucapnya. "Kita pernah bertemu istri mu, tapi mengingat kau masih perduli dengan jalangmu, maka kami hanya diam. Pastikan semua ruang di hatimu sudah kosong dan hanya ada untuk istri dan anak mu, maka kami akan membuka mulut" jelas Loui. Sean langsung mencengkram kerah baju Loui dengan kencang. Emosinya benar-benar meluap mendengar ucapan Loui. "b******k kau" gigi Sean bergelatuk menahan emosi agar tidak memukul Loui Loui terlihat biasa saja dengan apa yang dilakukan Sean padanya. Begitupun Alexander, pria itu bahkan sudah berdiri santai dengan kedua tangan di sakunya. "Pergilah, temui anakmu dengan jalang itu, maka Tuhan akan memberikan penyesalan untukmu kesekian kalinya" ujar Loui. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN