Satu

1147 Kata
Sean mengerang keras, emosinya kembali meningkat. Lagi, dia harus memecat orang yang dia bayar untuk mencari istrinya. Tidak terhitung jumlah orang yang dia pecat selama tujuh belas tahun ini, yang pasti dari mereka semua Sean belum menemukan titik terang keberadaan sang istri yang dia cintainya. “kalian bodoh! Apa bayaran ku tidak cukup? Bahkan aku akan memberikan kalian bonus meskipun kalian mendapatkan info kecil. Tapi sekarang apa? Kalian hanya menghabiskan uangku. Pergi kalian. Atau kepala kalian meledak hari ini juga” usir Sean kepada dua orang yang di bayarnya. “bodoh” rutuk Sean. Sean merogoh kantong jas yang dipakainya, meraih kotak kecil yang selalu dia bawa kemanapun, kotak kecil dengan isi sebuah alat tes kehamilan dengan  dua garis yang sudah luntur. “sayang, maafkan ayah, apa kau tumbuh dengan baik?” ucap Sean sambil menatap benda kecil dalam kotak tersebut. Dadanya begitu sesak saat sadar bahwa dengan bodohnya dulu dia menyia-nyiakan Stephani, hanya kehancuran yang Sean rasakan saat membaca surat yang Stephani siapkan untuknya dulu, Seolah belum cukup hantaman untuknya, Jantung Sean kembali dibuat berdetak dengan keras, kepalanya seolah akan meledak saat secara tidak sengaja Sean melihat alat tes keamilan berada di tong sampah, Sean yakin bahwa Stephani memang sengaja membuang itu agar Sean tidak mengetahui kehamilannya. “Hei dude, bagaimana? Sudah mendapatkan informasi mengenai istrimu?” ucap seorang yang baru masuk keruangannya, menghentikan aktivitas menatap peninggalan sang istri. tidak perlu berbasa basi dengan mengetuk pintu, orang itu sudah terbiasa masuk kedalam ruangan Sean dengan sesuka hatinya. Sean menggeleng lemah sebagai jawaban untuk pertanyaan pria tersebut. Pria itu duduk di sofa ruangan Sean, menghela nafasanya mencoba menutupi luka yang menganga dalam hatinya. Sebuah luka yang sama dengan Sean, kehilangan. “sepertinya, Tuhan memang tidak mengizinkan kita untuk menemui mereka lagi. Tuhan tidak ingin mereka kembali sakit saat bertemu dengan kita” ucapnya lemah. Sean bangun dari kursi kebesarannya, menghampiri pria yang juga hampir putus asa seperti dirinya. “jika kau ingin menyerah, silahkan. Tapi aku masih meyakini bahwa aku akan menemukan istri dan anakku yang bahkan belum aku lihat wajahnya. Mungkin belum sekarang, bahkan jika aku harus menunggu belasan tahun lagi, asalkan bisa bertemu dengan mereka, aku rela” jelas Sean Pria itu menatap Sean, rasa kagum muncul terhadap orang yang lebih muda darinya itu. kenapa dia bisa berpikir untuk berhenti disaat orang yang memiliki nasib sama dengannya masih semangat untuk berusaha. “kau benar, kita hanya butuh terus berusaha” Ucapnya semangat. “memang harus seperti itu, Park Alexander. Kau saja yang lembek dan ingin menyerah” sindir Sean Pria di sampingnya itu memutar matanya malas mendengar ucapan Sean. “ayo kita temui si barbar sekarang, aku takut nasibnya sama dengan dirimu yang hampir putus asa” lagi, ucapan Sean menyindir seorang Park Alexander. Sean dan Alexander Park adalah rekan bisnis sejak lima belas tahun lalu, dipertemukan karena sebuah proyek pembangunan hotel yang membuat mereka bekerja sama, hingga akhirnya mereka saling menceritakan kehidupan pribadi mereka dan bagaimana kesamaan nasib mereka yang di tinggal istri menjadikan mereka lebih dekat. Tidak lama setelah Sean dan Alexander menjalin persahabatan, Alexander berencana mengenalkan Sean kepada seorang mafia untuk meminta bantuan agar membantu mencari istri mereka, orang itu adalah Loui, yang ternyata sahabat Sean ketika sekolah. Niat mereka ingin meminta bantuan pada Loui, langsung di tolak ole pria berkulit tan itu, dengan alasah bagaimana dia bisa menemukan istri kedua temannya, jika istrinya saja juga menghilang. Hingga akhirnya, kini mereka memilih melakukan cara masing-masing untuk mencari istri mereka, tidak jarang mereka juga akan saling tolong menolong jika dibutuhkan. “sepertinya dia orang yang akan putus asa lebih dulu daripada aku. Bahkan dengan jumlah anak buahnya yang cukup banyak dia belum banyak menemukan informasi” ucap Alexander yang sudah berdiri dan merapihkan jas miliknya. *** Mobil mewah milik Sean dan Park Alexander berhenti tepat di sebuah gerbang sekolah, disana sudah lebih dulu terparkir mobil mewah milik seorang Loui Kim. Loui Kim membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil. “hey dude, langsung masuk” teriaknya kepada kedua rekannya yang baru datang. Tidak menunggu lama, ketiga mobil tersebut sudah melaju kedalam sekolah yang sangat elit, sekolah yang hanya bisa di rasakan oleh orang-orang berdompet tebal. “aku tidak tahu jika ada sekolah seperti ini” ucap Park Alexander yang baru keluar dari mobilnya “itu tidak penting dude” balas Sean sambil memutar matanya. “mereka ingin kita menambahkan penginapan atau asrama dengan fasilitas hotel untuk para muridnya. Well,  termasuk sebuah restoran mewah untuk para wali murid yang berkunjung” jelas Loui langsung. Sean dan Alexander mengangguk mengerti. Well, tidak masalah bagi ketiganya untuk menerima kerjasama ini, lagipula sekolah ini juga berani membayar mahal kepada perusahaan mereka bertiga. Ditambah, ketua komitenya secara langsung memohon agar Loui dan kedua temannya mau menangani proyek pembangunan ini. “aku pikir ini akan menjadi kawasan bisnis daripada sebuah sekolah” ucap Alexander, pandangannya mengedar kesegala arah, mencoba melihat kondisi sekitar. “hey dude, pendidikan juga bisa menjadi ladang empuk untuk berbisnis” balas Loui yang menepuk pundak Alexander. Ketiga orang itu berjalan dengan gagahnya menuju ruang kepala sekolah, meskipun umur mereka tidak lagi muda, tapi tidak sedikit murid-murid yang sedang tidak ada jam pelajaran mencuri pandang kepada mereka. “bukannya, anak jalang mu juga sekolah disini?” tanya Alexander sambil menepuk pundak Sean, membuat pria yang di tepuknya itu mendelik kesal “dia bukan jalangku. Lagipula aku pria yang bersih dari jalang sekarang ini” belas Sean Alexander terkekeh mendengar jawaban Sean “aku lupa, sekarang kau pria suci yang menunggu istrinya kembali” “lebih baik kau berkaca diri Park Alexander” sahut Loui yang sedari tadi fokus pada ponselnya.   Brukk Seseorang menabrak Loui membuat ponsel milik laki-laki itu terlempar cukup kencang “maaf paman, aku buru-buru” ucap seorang murid laki-laki yang menabraknya lalu kembali berlari dengan tergesa. “bocah sialan” ucap Loui setelah mengambil ponselnya yang terjatuh. Sedangkan Sean dan Alexander hanya menahan tawa melihatnya. Loui langsung mendelik kearah kedua pria yang senasib dengannya dalam hal di tinggal istri. “berani kalian tertawa, aku tembak kepala kalian” Alexander dan Sean yang mendengarnya menatap Loui geli “aku takut tuan Lou” jawab Alexander meledek. Melanjutkan langkah mereka sambil beberapa kali melihat keadaan sekolah yang akan mereka garap, dalam diam, hati mereka kembali dilanda rasa bersalah saat melihat siswa-siswa disekolah tersebut, mereka rindu sosok anak mereka. Andai saja dulu mereka tidak melakukan hal bodoh, mungkin anak mereka menjadi siswa di sekolah ini. Entahlah, melihat para siswa itu, rasa rindu yang terdalam pada anak mereka menguar begitu saja, meskipun mereka sendiri tidak tahu wajahnya anaknya seperti apa, rasa itu tetap saja tidak bias ditahan dan selalu muncul. “anaku mungkin sudah kelas tiga, tingkat akhir” ucap Alexander lirih yang masih dapat didengar oleh Loui dan Sean “anaku akan menjadi adik kelasnya” sahut Sean “maka anaku adalah teman sekelas anak dari seorang Sean Willian” balas Loui kemudian   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN