Sebelumnya:
Kening Alexander mengerut saat matanya menangkap sosok wanita yang berjalan mendekati dirinya dan Loui. Wajah wanita itu sangat tidak asing dan terlihat ada guratan khawatir tergambar. Alexander menepuk lengan Loui yang sedari tadi hanya menunduk, fokus pada layar smartphone nya.
"lihat, wajahnya tidak asing"
Loui melihat ke arah yang dimaksud Alexander
"dasar pikun, itu istrinya Sean" Jawab Loui.
"wah, kenapa dia ada di sini?" tanya Alexander lagi
"coba kau tanya sendiri"
Alexander memutar bola matanya mendengar jawaban Loui. Tidak Sean, tidak Loui, kenapa mereka berdua seperti tidak menganggap Alexander kakak, jelas dia lebih tua dari keduanya? Dasar kurang ajar!
Masih dengan wajah khawatir, wanita yang dibicarakan Alexander dan Loui berjalan melewati mereka dan membuka pintu ruangan kepala sekolah yang ada di depan keduanya dengan kasar.
"wah, pertemuan yang tak terduga" ucap Alexander
"habislah kau Sean" balas Loui
Ujung bibir Alexander tertarik, membuat sebuah seringai.
"otakku bekerja dan bilang bahwa gadis yang di tampar Sean adalah anaknya sendiri" ujar Alexander.
"maka itu akan menjadi pertengkaran yang menyenangkan" balas Loui yang juga sudah menyeringai, otaknya sudah membayangkan bagaimana wajah pias milik Sean yang sadar bahwa dia telah menampar wajah anaknya sendiri. Anak yang selama ini dia cari.
"setidaknya, dia sudah bertemu sang istri" ucap Alexander dengan pelan.
Loui yang mendengarnya juga terdiam, setuju dengan apa yang di ucapkan Alexander, meskipun Sean sudah melakukan hal bodoh dan pertemuan ini akan menjadi pertemuan yang buruk, setidaknya dia sudah bertemu dengan istrinya.
Ponsel Alex bergetar, mata Alexander seketika membulat sempurna saat membaca pesan dari orang suruhannya.
"Istrimu ada di rumah sakit Medic Hospital. Sekarang"
"aku harus pergi" ucap Alexander yang langsung bangun dari duduknya.
Loui yang melihatnya hanya terheran melihat Alexander yang tampak panik.
"istriku sudah ketemu" lanjut Alexander singkat sebelum benar-benar pergi dari hdapan Loui.
Alexander segera berlari menuju parkiran, kesempatan ini datang lagi, kesempatan bertemu dengan sang istri, semoga dia benar-benar bisa bertemu sang istri dan bukan hanya bertemu jejak keberadaanya saja.
Langkah Alexander masih terdengar menggema di lorong sekolah, bahkan Loui pun masih jelas mendengarnya, mendengar Alexander yang setengah berlari.
Detik berikuutnya ponsel di tangan Loui bergetar, dengan cepat, pria itu menekan icon pesan untuk membaca pesan masuk.
Medic Hospital, sekarang
Tanpa berpikir panjang, Loui langsung bangkit dan berlari. Tuhan memberinya kesempatan. Kesempatan bertemu sang istri. Dia harus segera sebelum Tuhan kembali bermain dengan takdirnya lagi.
Alexander yang baru akan membuka pintu mobilnya berhenti saat melihat Loui yang datang dengan nafas yang terputus-putus karena berlari.
"medic hospital. Istriku disana" jawab Loui pada Alexander, pria itu seperti mengerti bahwa ada pertanyaan di otak Alexander.
Persetan dengan segala penjelasan, istrinya lebih penting sekarang. Telat beberapa detik, bisa menjadi takdirnya berubah lagi, maka dengan cepat Alexander masuk ke dalam mobil dan segara pergi meninggalkan sekolah yang di susul Loui di belakangnya.
***
Alexander berlari dengan kecang, seolah dia lupa bahwa tempat itu adalah sebuah rumah sakit, di belakangnya ada Loui yang juga sedang berlari se arah dengannya. Bahkan Alexander dapat mendengar beberapa kali Loui mengumpat saat tidak sengaja dirinya menabrak seseorang.
Alexander berhenti berlari. Matanya langsung terasa panas saat sosok yang dicarinya selama tujuh belas tahun ini berada sepuluh meter dari jarak pandangnya, tubuhnya langsun memberi intruksi agar Alexander berhenti di jarak itu, meminta agar Alexander diam terlebih dahulu dan melihat kondisi sang istri.
Tanpa di pinta, ternyata Loui juga berhenti tepat di samping Alexander, pria itu menatap nanar pada sosok yang sedang berdiri di samping seorang wanita. Tubuhnya seketika lemas, akhirnya, matanya bisa menangkap keberadaan istrinya. Wajah cantic yang sudah dia rindukan selama tujuh belas tahun ini.
"itu istrimu" ucap Alexander pelan pada Loui.
"iya, bersama istrimu" balas Loui yang di angguki Alexander.
Alexander dan Loui masih terdiam, tidak berani melangkah mendekati keberadaan sang istri, entah kemana perginya keberanian diri mereka.
Ingin sekali Alexander berlari dan merengkuh tubuh wanita yang dirindukannya itu dan bertanya apa yang terjadi, mengapa wanita cantik itu menangis?
Disisi Alexander, Loui juga diam mematung, mengepalkan tangannya melihat istrinya yang juga tengah menangis di samping istri Alexander, rasanya Loui ingin membenturkan kepalanya, melihat orang yang di carinya selama ini tengah menangis dengan begitu sedihnya. Siapa yang berani membuatnya seperti itu?
Seorang pria ber jas putih di ikuti bebepa wanita keluar dari ruangan di hadapan istri Alexander dan Loui.
Mata keduanya tidak teralihkan sedetikpun untuk melihat setiap pergerakan sang istri. Di mulai dari obrolan yang mereka lakukan hingga kedua wanita tersebut semakin mengeluarkan tangis mereka.
Pria yang mereka ketahui adalah seorang dokter, berjalan mendekati mereka, dengan cepat keduanya menghentikan langkah sang dokter yang akan melewati mereka begitu saja.
"apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Alexander langsung
Sang dokter mengerutkan keningnya karena bingung.
"maaf, aku suami dari salah satu wanita disana, hubunganku kami sedang tidak baik, apa yang terjadi?" tanya Alexander lagi dengan lebih ramah.
"anak mereka baru saja mengalami musibah" jawab sang dokter
"mereka? Maksudnya?" tanya Loui
"kedua anak mereka mengalami musibah, jangan khawatir, keadaannya sudah lebih baik meskipun belum sadarkan diri" jelas sang dokter lagi.
Alexander dan Loui hanya diam mencoba mencerna ucapan sang dokter.
"permisi, aku akan kembali bekerja" ucap sang dokter yang hanya di balas anggukan kelapa oleh Alexander dan Loui, keduanya masih sangat terkejut.
Alexander dan Loui masih terhanyut dengan pikiran masing-masing. Apa yang terjadi dengan anak mereka? Kenapa bisa seperti ini? mengapa pertemuan awal ini begitu menyakitkan? Mereka bahkan belum pernah bertemu dengan anak mereka, tapi mengapa mereka di pertemukan saat anak mereka dalam kesakitan. Mengapa Tuhan begitu senang bermain dengan takdir mereka? Apa yang Tuhan inginkan sebenarnya?
Alexander menatap lurus ke arah wanita yang pernah dia sia-siakan dan dia butuhkan sekarang ini. melihat air mata yang terus mengalir di pipinya membuat dadanya begitu sakit, seolah ada sebuah tangan yang masuk kedalam tubuhnya dan mengacak-ngacak semua organ dalamnya.
Dengan langkah pelan dan ragu, Alexander berjalan menghampiri Victoria. Langkah Alexander berhenti di depan wanita yang masih menunduk karena menangis, tubuhnya bergetar, terlihat begitu kesakitan dan sedih yang mendalam. Sungguh Alexander sakit melihatnya.
Merasa seorang berdiri di hadapannya, wanita itu mengangkat wajahnya perlahan, matanya berhasil menangkap sosok Alexander berdiri di hapadannya dan tanpa ragu wanita itu langsung memeluk sosok Alexander erat, tidak mengeluarkan kata apapun, hanya sebuah tangisan yang semakin kencang yang dibalas pelukan semakin erat oleh Alexander.
Loui yang melihat Alexander sudah berada disana juga memberanikan diri untuk berjalan mendekat kepada sang istri, Stacy. Dia juga ingin seperti Alexander yang dapat memeluk erat orang yang di cintainya dan menghapus airmatanya.
Tinggal beberapa langkah lagi Loui berada di hadapan sang wanita, tapi wanita itu lebih dulu menangkap keberadaan Loui, mata mereka bertemu, saling mengunci. Loui melihat itu, mata wanitanya yang terus mengeluarkan air mata, membuat tubuh Loui terasa remuk. Dengan mata yang masih saling bertautan, Loui semakin berjalan mendekat. Tubuh Stacy merosot di hadapan Loui, waita itu berjongkok dengan tubuh bergetar karena menangis.
Loui langsung ikut berjongkok dan merengkuh tubuh itu kedalam dekapannya, memeluknya erat, telinganya dapat dengan jelas mendengar suara sang istri yang menggumamkan sebuah nama dalam tangisannya.
"Austin...Austin...selamatkan Austin" ucap Stacy terus dalam tangisnya.
Loui semakin mengeratkan pelukannya, mencoba menguatkan sang istri. Austin? Kini Loui tahu bahwa anaknya bernama Austin, meskipun baru sebuah nama kenyataan yang Loui baru ketahui sudah membuat hatinya sedikit bahagia. Akan lebih bahagia jika sosok Austin itu dapat berada di hadapannya dengan senyum cerah dan memanggilnya ayah.
***