Keadaan di depan ruang rawat tersebut tidak berubah, masih penuh dengan tangis kedua wanita yang kini ada dalam pelukan pria masing-masing, pria yang pernah mengisi hati mereka, entah apakah sekarang masih?
Loui masih memeluk Stacy erat dengan posisi duduk, Loui tahu bahwa untuk berdiripun wanita yang di cintainya ini tidak sanggup. Loui semakin erat memeluk Stacy dan sesekali mengusap kepalanya lembut tanpa mengeluarkan sepatah katapun, biarlah kesedihan itu di tumpahkan jika memang membuat wanitanya bisa lebih baik.
Tidak jauh berbeda, Alexander juga masih mengeratkan pelukannya kepada Victoria, mencoba menyerap segala rasa sakit yang wanita nya ini rasakan. Sesekali pucuk kepala sang wanita yang ada dalam dekapannya dia kecup sambil mengucapkan kata-kata penenang.
“menangislah jika membuatmu lebih baik”
“tidak apa, dia akan baik-baik saja”
“dia akan sembuh”
“Dia akan membuka matanya”
Kalimat yang terus Alexander ucapkan pada Victoria. Ketika mereka sibuk dengan rasa sedih masing-masing, wanita lain dengan wajah yang sama kacaunya berlari ke arah mereka, di belakang wanita itu, ada seorang gadis yang juga ikut berlari.
Victoria lebih dulu sadar akan kehadiran Stephani, perlahan dia melepaskan pelukan Alexander, dan langsung menghambur kedalam pelukan Stephani, Stephani yang sudah tidak bisa menahan tangisnyapun kini pecah, menangis dengan keras dalam pelukan Victoria.
“Kak,,, Jay,,,kenapa” lirih Stephani dalam tangisnya.
Victoria semakin memeluk erat Stephani, hatinya sungguh merasakan apa yang Stephani rasakan. Alexander yang melihatnya hanya diam ikut merasakan sakit. Menatap bagaimana wanitanya dalam keaadaan terpuruk tetapi tetap memberikan kekuatan kepada yang lain. sungguh wanita tangguh.
Loui membawa Stacy dalam gendongannya, tubuh wanita itu kini sudah tidak sadarkan diri, membawa wanita itu ke salah satu ruangan untuk di periksa.
Terdengar bunyi langkah kaki yang cukup keras, langkah seseorang yang berlari kencang. Seorang Sean yang berusaha mengejar istri dan anaknya. Langkahnya berhenti sebelum sampai di hadapan anak dan istrinya yang sedang manangis. Lagi, tubuhnya kembali di hantam sebuah kenyataan pahit. Setelah menampar anaknya, kenapa dia kembali di berikan sebuah keadaan seperti ini? tangis dan air mata menghiasi penglihatannya.
Perlahan Sean melangkahkan kakinya mendekat setelah mendapat tatapan dan anggukan dari Alexander yang menyadari keberadaannya.
Sean berdiri tepat di samping Alexander, wanitanya masih menangis dalam pelukan wanita milik Alexander Park itu tanpa berniat melepaskan.
Sedangkan Gladys melangkah perlahan, membawa dirinya masuk kedalam ruangan dimana orang-orang yang disayanginya tengah berbaring.
Menatap tiga pria yang tidur di tempat tidur yang saling berjejer dengan kabel-kabel dan alat yang menempel di tubuh mereka membuat gadis itu meloloskan air mata mengalir dipipinya.
Tiga pria yang dia sayangi, tiga pria yang selalu melindunginya, tiga pria yang selalu mengalah dengan segala keinginannya dan tiga pria yang senasib dengannya, besar tanpa seorang ayah. Kakinya melangkah mendekati salah satu pria, dengan tangannya terus menekan dadanya yang terasa begitu sakit.
“kakak, kenapa bisa begini? Kakak aku menyesal meminta kalian kembali kesekolah jika kalian harus menerima ini” lirihnya.
Sakit di dadanya terus terasa, meminta agar tidak di abaikan tapi tetap dia coba tahan. Dia harus kuat.
Keadaan mereka memang sudah lebih baik sehingga di pindahkan ke ruang rawat, tapi jika mereka belum membuka mata, belum ada rasa lega yang dirasakan.
Gladys melepaskan tautannya pada Jay, mengecup pipinya sebagai penyemangat lalu tersenyum pada Austin dan Axel seolah mengatakan bahwa mereka orang kuat.
Gadis berseragam itu keluar, keadaan sudah berubah menjadi lebih tenang, ibunya kini sudah duduk di samping Victoria, sosok yang juga sudah di anggap ibu olehnya, sedangkan di sampingnya, berdiri dua sosok pria yang menatapnya, Alexander dengan tatapan sedihnya dan Sean tatapan bingungnya. Tapi Gladys mencoba mengabaikannya, dan berjalan ke arah ibunya, berjongkok di hadapan sang ibu.
“Mommy, tidak apa. Mereka orang yang kuat” ucap Gladys mencoba memberi semangat, sakit di tubuhnya dia coba hilangkan dan abaikan.
***
Sean dan Alexander kini sedang di kantin rumah sakit, mereka berdua memutuskan untuk membeli beberapa makanan untuk istri mereka. Waktu sudah menunjukan saatnya untuk makan malam, tapi keadaan tidak memungkinkan mereka untuk duduk di meja dengan menikmati makan malam di saat anak mereka tertidur dengan kabel penunjang kehidupan.
Sang istri tidak meminta mereka untuk membeli makanan, karena berapa kalipun mereka bertanya, mereka hanya mendapatkan respon diam sebagai jawaban. Jadi membeli makanan adalah inisiatif mereka.
“hey dude. Kau terlalu banyak bengong.” Ucap Alexander sambil menyikut lengan Sean yang sedari tadi bengong.
Sean langsung tersadar dan mendelik kepada Alexander “bukan urusanmu” jawabnya singkat
“ya sudah. Aku juga tidak perduli” jawab Alexander lalu berjalan untuk memesan kopi. Sedangkan Sean masih duduk dan kembali sibuk dengan pikirannya.
Alexander datang dengan membawa beberapa roti dan dua cup kopi. Meletakan satu cup tepat di hadapan Sean yang masih berada di alamnya. Bahkan kedatangan Alexanderpun tidak dia sadari.
“lama-lama kau akan gila” sindir Alexander lalu duduk di hadapan Sean. Menyeruput kopi miliknya yang masih mengepulkan asap.
Sean meraih kopi di hadapannya, tanpa mengucapkan kata terima kasih kepada Alexander dia juga mulai menyeruputnya.
“aku tidak akan memaksamu untuk cerita, karena aku juga memiliki masalah” ujar Alexander setelah meletakan cup kopinya.
Sean menghela nafas, tanganya memutar-mutar gelas kopi di atas Meja. Pikirannya sedang bertarung, apakah dia harus mengungkapkan kebingungannya, atau tidak, toh pria di hadapannya ini juga tidak akan bisa memberinya solusi.
“yasudah, tapi jika kau gila. Tolong hapus segala kontak dengan ku. Aku malu jika berhubungan dengan orang gila” ucap Alexander lagi.
Sean memberikan tatapan dinginnya pada Alexander. Enak saja gila, baru juga ketemu anak dan istrinya, masa dia harus gila.
“aku sedang bingung” ucapnya pelan tapi masih di dengar Alexander
“aku tahu” jawab Alexander
Sean mendelik mendengar jawaban Alexander
“baiklah, baiklah. Apa yang membuatmu galau adik Sean?” tanya Alexander kemudian
Sean menghembuskan nafasnya kasar.
“menurutmu, ada hubungan apa, Stephani dengan anak yang di dalam. Anak yang bernama Jay itu. Bukankah di dalam ada tiga orang anak? Anakmu, anak Loui lalu satu lagi?” tanya Sean
“anak Stephani dengan suami barunya” jawab Alexander asal.
Sean memberikan tatapan membunuh pada Alexander. Kalau tidak ingat tempat, Sean pasti akan merebus pria di hadapannya itu. enak sekali mulutnya itu berbicara.
“aku belum menyetujui perceraian kita. Mana bisa dia menikah lagi” jawab Sean
“ya mana ku tahu, mungkin kerabatnya” ujar Alexander lalu menyeruput kopinya lagi.
Sean kini mengangguk dengan jawaban Alexander yang menurutnya lebih masuk akal dan baik untuk kesehatan hatinya. Sejak kedatangan mereka kesini, mereka memang belum di izinkan untuk masuk keruang rawat. Tentu saja itu semua karena istri mereka yang melarang. Awalnya mereka ingin memaksa, tapi mereka bisa apa jika sang istri mengancam bahwa jika mereka berani masuk, maka selamanya mereka tidak boleh kesini lagi.
Jadi mereka mengalah, setidaknya, mereka bisa menunggu diluar dan melihat istri mereka secara langsung, dan itu sudah membuat mereka bahagia. Cukup sudah mereka berpisah dan tidak bertemu selama tujuh belas tahun ini.
“lihat kesana” tunjuk Alexander dengan dagunya kepada Sean. Sean menurut dan memutar tubuhnya menghadap belakang. Matanya menangkap sosok Gladys yang memegang sebotol air mineral dengan wajah yang terlihat pucat.
Sean langsung bangkit dan berjalan cepat ke arah Gladys. “kau kenapa sayang?” tanya Sean lembut sambil megang lengan Gladys.
Gladys tersentak karena Sean, dengan kasar dirinya menghempaskan tangan Sean di lengannya. “bukan urusanmu” jawabnya lalu berbalik membelakangi Sean untuk meninggalkannya.
Baru dua langkah, tubuh Gladys langsung lemas dan hampir mencium lantai, untung saja Sean sigap dan langsung menyangga tubuhnya. Gladys tidak pingsang, hanya saja tubuhnya lemas dan sulit di gerakan, tidak ada tenaga sama sekali. Bahkan untuk memberontak kepada Sean yang memeluknya pun dia tidak sanggup.
Sean panik lalu mengangkat Gladys untuk mencari pertolongan.
***
Dokter bergerak untuk memeriksa tubuh Gladys yang tampak begitu lemas, Sean dan Stephani berdiri sedikit jauh dari tempat tidur Gladys, mereka tidak ingin menghalangi dokter yang tengah memeriksa Gladys.
Saat dokter merapihkan alat periksanya, Sean dan Stephani otomatis berjalan menghampiri.
“bagaimana keadaannya dok?” tanya Stephani dengan nada sendunya, sungguh hari ini adalah hari terberat untuknya
“tidak apa, dia akan lebih baik setelah ini, dia butuh istirahat dan jangan banyak pikiran” jelas sang dokter.
“baiklah, saya permisi” pamit sang dokter yang di angguki Sean.
Stephani langsung duduk di sisi tempat tidur Gladys , tangannya langsung menggenggam tangan Gladys, sedangkan Sean lebih memilih berdiri di ujung tempat tidur memperhatikan dua orang yang dia cintai dalam hidupnya ini.
“apakah sakit?” tanya Stephani, matanya kembali berkaca melihat keadaan sang anak.
Gladys tersenyum lalu menggeleng “tidak, aku kuat ma, tolong jangan bersedih” ucap Gladys
“tentu, anak Mommy semuanya kuat” balas Stephani dan kini air mata mengalir di pipinya
“tolong jangan menangis Mommy, aku sungguh tidak suka melihat Mommy menangis, kakak juga pasti tidak suka. Ini tidak seberapa di banding apa yang dirasakan kakak” jelas Gladys mencoba menenangkan Stephani.
Sean yang mendengar obrolan ibu dan anak itu kembali menengang, pikirannya kembali di buat bingung dan otaknya kembali di paksa berpikir.
Jay seorang kaka? Kalau Jay seorang kaka, berarti Stephani telah memiliki dua anak? Jadi anak Sean sebenarnya adalah Jay? Lalu Gladys? Benar kata Alexander, sepertinya dia akan gila.
***