"Jadi, bagaimana Mas? Bersediakah kamu?" Aina terlihat penuh harap. Pandangan Hamza kosong, saat itu juga Aina mematung kaku. "Tidak, Aina. Aku tidak bisa." "Kenapa, Mas?" Aina menjawab sengit, tidak terima atas penolakan itu. "Seumur hidupku, aku bisa saja mendzalimimu, mendzalimi diriku sendiri tanpa merasa berdosa atau merasa bersalah, tapi aku hanya tidak bisa mendzalimi Annisa. Mungkin aku selama ini sudah menyakitinya karena menikahimu, tapi aku tidak sanggup jika harus mendzaliminya secara sengaja." Aina kecewa telak. Dia pikir, ini kesempatannya. Agar Annisa mengalami hal yang sama, merasakan apa yang dia rasakan. Terdzalimi, tapi Hamza menolak untuk mendzaliminya. Hamza mengusap pipinya yang basah. Awalnya kacau, kali ini berangsur tenang. Emosi lelaki itu mulai stabil. "Jad

