bc

Suami Kembar

book_age18+
72
IKUTI
1K
BACA
love after marriage
arranged marriage
self-improved
confident
sweet
humorous
city
sassy
wife
passionate
like
intro-logo
Uraian

(BACA LANJUTANNYA EKSKLUSIF DI j*****a, YA! 😚)

Hanggini Anastasia sangat bahagia di hari pernikahannya. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, setelah ia mengetahui bahwa pria yang bersanding dengannya bukanlah Dewandaru, sang pujaan hati, melainkan kembarannya, Dewangga. Nahasnya, hal itu baru ia ketahui setelah prosesi ijab kabul berlangsung.

Dewangga diminta oleh orang tuanya untuk menggantikan posisi Dewandaru, saat saudara kembarnya itu tiba-tiba menghilang satu jam sebelum ijab kabul berlangsung. Demi nama baik dan kelangsungan bisnis keluarga mereka, Dewangga terpaksa patuh walaupun bertentangan dengan nuraninya.

Pernikahan yang tidak diharapkan itu akhirnya menimbulkan konflik yang berkepanjangan, saat Hanggini dan Dewangga–dua insan yang tidak saling mengenal dengan baik–mesti tinggal satu atap dan berpura-pura sebagai suami istri.

Saat teka-teki hilangnya Dewandaru mulai terkuak, Hanggini dan Dewangga harus berhadapan dengan sesuatu yang membahayakan keselamatan diri mereka, sekaligus memberikan jawaban atas perasaan keduanya. Cintakah? Atau hanya rasa yang sekadar singgah?

chap-preview
Pratinjau gratis
Kenyataan Pahit Di Hari Pernikahan
"Anak itu benar-benar tidak berhenti membuat masalah! Sepertinya dia ingin melihat kita mati berdiri karena menahan malu!" Surya, lelaki berusia setengah abad lebih itu menggeram murka. Ia berjalan mondar-mandir di sebuah kamar hotel bintang lima dengan ponsel yang melekat di telinganya. "Nomornya nggak aktif! Dasar anak b******k!" Surya melempar ponsel miliknya ke atas sofa dekat jendela yang menampilkan pemandangan Kota Jakarta di pagi hari. Isak lirih terdengar dari sang istri, Sofia. Wanita itu menyusut air matanya dengan selembar tisu. "Mama juga nggak ngerti apa maunya Andaru. Kemarin malam pas kita nyampe di hotel mama masih ngobrol sama dia, Pa. Taunya tadi mama periksa kamarnya kosong. Hanya ada surat ini di atas kasurnya." Secarik kertas kusut ada di dalam genggaman wanita yang masih mengguratkan kecantikan di masa mudanya tersebut. Sofia kembali terisak. Sekitar satu jam lagi pernikahan antara putranya dengan Hanggini, putri tunggal relasi bisnis suaminya akan berlangsung. Acara sudah dipersiapkan dengan sangat matang. Untuk memudahkan berlangsungnya acara, pihak calon mempelai wanita telah menyewa beberapa kamar hotel untuk keluarga calon besannya. Dewandaru hanya meninggalkan secarik kertas yang berisi permohonan maaf bahwa ia tidak bisa melangsungkan pernikahan dengan Hanggini. Hanya itu, tidak ada penjelasan lainnya. Hati Sofia tercabik memikirkan kenapa harus di detik-detik terakhir putranya itu ingin membatalkan semuanya. "Apa yang harus kita katakan pada Pak Halim dan istrinya, Pa? Mereka tentu marah besar. Ini sama saja mempermalukan mereka." Surya masih terus mondar-mandir. Kerutan dalam terlihat jelas di antara kedua alisnya. Pria berpostur gemuk tersebut masih memikirkan cara bagaimana menyelesaikan permasalahan itu tanpa harus kehilangan muka di hadapan calon besannya. Lagipula, ia sangat khawatir dengan kelangsungan bisnisnya dengan Halim yang selama ini selalu menjadi penyokong dana terbesar untuk perusahaannya. "Kita nggak bisa membatalkan pernikahan ini, Ma. Pernikahan ini harus tetap berlangsung hari ini juga!" "Tapi ... bagaimana caranya, Pa! Kita tidak tahu sekarang Andaru ada di mana!" Belum sempat Surya menjawab pertanyaan istrinya, terdengar suara pintu dibuka dari luar. Sesosok pria gagah dengan tubuh tinggi menjulang merangsek masuk ke dalam. "Kenapa Papa dan Mama belum siap-siap? Acaranya dimulai satu jam lagi. Kalian nggak lupa, kan?" Dewangga dengan suaranya yang berat menatap kedua orang tuanya. Pemuda itu sendiri telah rapi mengenakan setelan kemeja putih dengan celana berwarna krem yang melekat serasi di tubuhnya yang tegap dan proporsional. Surya memandang putranya itu dengan satu kilatan ganjil di matanya. Dewangga yang berusia 27 tahun, memiliki wajah bak pinang dibelah dua dengan Dewandaru karena keduanya merupakan kembar identik. Mata berwarna kecokelatan yang serupa. Alis tebal yang menukik tajam. Hidung tinggi dan mancung yang tidak ada bedanya. Bentuk bibir yang berlekuk sempurna dan rahang kokoh yang berwarna kebiruan seusai bercukur. Semuanya sama persis hingga sangat sulit dibedakan. Bibir Surya tiba-tiba menyunggingkan senyuman. Sepertinya ia telah menemukan jalan keluar dari masalah ini. "Angga ... Papa mau bicara serius sama kamu. Ayo, duduk di sini, Nak." Surya segera duduk di sofa dan menepuk bagian kosong di sebelahnya sebagai isyarat agar Dewangga segera mendatanginya. "Kenapa sih, Pa?" Raut wajah Dewangga berubah kebingungan. Ia menghampiri sang ayah dan menjatuhkan dirinya di sofa. Surya menarik napas sejenak. "Papa mau minta bantuan kamu. Tentang Andaru, dia ... dia bikin ulah lagi." "Kenapa lagi dia! Ck, bikin masalah apa lagi dia sekarang?" Dewangga berdecak kesal. Ia telah paham betul dengan tabiat saudara kembarnya yang suka bersikap seenaknya. Namun, sungguh keterlaluan jika Dewandaru membuat masalah tepat di momen terpenting dalam kehidupannya. "Andaru tiba-tiba pergi. Adik kamu itu nggak ada di kamarnya. Mama cuma nemuin ini di atas kasurnya." Sofia berucap dengan suara tercekat. Tangannya menyodorkan secarik kertas pada Dewangga. Dewangga membaca surat yang disodorkan ibunya. Sontak wajahnya yang putih menjadi memerah menahan luapan emosi. Rahangnya mengatup saat mengucapkan kata makian. "b******k! Nggak ngotak tuh anak!" "Angga ... papa dan mamamu nggak mungkin membatalkan pernikahan ini. Mau ditaruh di mana muka keluarga kita. Pak Halim juga akan merasa sangat dipermalukan dengan kejadian ini." Surya berucap dengan hati-hati. Dewangga menatap sang ayah dengan sorot mata sedikit curiga. "Lalu mau Papa gimana?" "Papa minta ... kamu yang akan menggantikan Andaru nanti saat prosesi ijab kabul. Papa mohon, Nak. Ini demi keluarga kita. Papa nggak mung-" "Nggak! Aku nggak mau, Pa! Ini rencana gila!" Dewangga memotong ucapan Surya dengan sengit. Pemuda itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi ayahnya. "Nak, papa mohon! Hanya itu yang bisa kita lakukan demi kelangsungan perusahaan kita. Kamu tahu, kan selama ini Pak Halim selalu membantu perusahaan kita dalam kesulitan apa pun. Papa nggak mau hubungan bisnis keluarga kita dengan Pak Halim menjadi rusak gara-gara ini." Dewangga menggeleng keras. "Nggak! Aku nggak mau, Pa. Pernikahan bukan sebuah permainan. Aku nggak mungkin mengucapkan kalimat suci itu atas nama Andaru. Maaf, Pa, Ma. Aku nggak bisa!" Sofia segera bangkit menyongsong putranya dan memeluk tubuhnya. Wanita itu mendongak menatap Dewangga yang seperti tidak sudi memandang wajahnya. "Angga, tolonglah, Nak. Mama mohon sama kamu. Mama tahu kamu selalu bisa kami andalkan." Dewangga menurunkan pandangannya, menatap sang ibu dengan sorot mata dingin. "Oh, ya? Hanya karena aku yang selalu bisa menyenangkan hati Mama dan Papa. Hanya karena aku yang selalu berusaha untuk menjadi anak yang berperilaku baik sedari kecil. Apakah karena itu kalian sekarang berusaha memaksa aku untuk berbuat sesuatu yang di luar batas kewajaran? Kalian memanfaatkan aku agar bisa lepas dari masalah kalian. Andaru yang bikin ulah, kenapa aku yang harus menanggung akibatnya?" "Angga, ucapan kamu ini bikin mama benar-benar sedih." Sofia menatap Dewangga dengan sorot mata seolah tidak percaya dengan perkataan putranya. Sekejap kemudian, tiba-tiba saja tubuh wanita paruh baya itu lemas dan hampir tersungkur di lantai jika saja Dewangga tidak sigap menangkapnya. "Mama! Mama nggak apa-apa?" Dewangga memapah sang ibu kembali ke sofa dengan muka cemas. Wajah Sofia tampak pucat pasi. Titik keringat sebesar biji jagung menghiasi keningnya. Napas wanita itu juga mulai tersengal-sengal. "Pa, kita bawa Mama ke rumah sakit sekarang juga!" Dewangga segera bangkit, tapi segera dicegah oleh Sofia. "Mama baik-baik aja, Nak. Mama akan tetap hidup ... selagi kamu mau membantu keluarga kita." Sofia berucap lirih. Ia tahu putranya itu tidak akan tega melihat kondisinya. Di balik sikapnya yang dingin dan tak acuh, Dewangga adalah sosok yang sangat peduli pada keluarganya. Dewangga menghela napas, merasa putus asa. "Maaa ... Mama pasti tahu kalau berdosa mempermainkan ijab kabul, bukan? Mama pasti tahu kalau pernikahan itu tidak akan sah dan berkah. Aku bukan orang suci, Ma, tapi aku tahu batasan dalam berbuat dosa." Sofia mengangguk lemah. "Mama akan menanggung semua dosa itu, Nak. Mama akan memohon ampun pada Tuhan. Mama ...." Sofia tidak sanggup menyelesaikan ucapannya karena tangisnya keburu pecah. "Seandainya segampang itu, Ma." Surya merengkuh bahu putranya. "Hanya untuk sementara, Nak. Kamu tidak harus benar-benar menikah dan menjadi suami Hanggini. Hanya untuk hari ini saja, demi menyelamatkan muka keluarga kita juga keluarga Pak Halim. Untuk selanjutnya, kita akan mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Papa janji sama kamu." Dewangga kembali menghela napas. Ia tahu dirinya telah kalah. "Bagaimana kalau ada yang menanyakan ketidakhadiran aku nanti, Pa. Aku nggak mungkin membelah diri dan menjadi dua sosok sekaligus." "Papa akan bilang kalau kamu ada urusan mendadak keluar kota. Itu tidak akan jadi masalah besar." "Kamu mau, ya, Nak?" Sofia menatap putranya dengan sorot mata sayu. Dewangga mengatupkan bibirnya sesaat. "Baiklah. Tapi kalian harus berjanji kalau hanya untuk hari ini saja. Setelah resepsi, kalian harus menjelaskan semuanya pada Hanggini juga orang tuanya dan untuk seterusnya aku nggak mau terlibat lagi dalam urusan ini." Surya dan Sofia mengangguk hampir bersamaan. Surya mengeluarkan sebuah pena dan buku catatan dari sakunya. Ia menuliskan beberapa kalimat dalam kertas itu dan menyerahkannya pada putranya. "Hafalkan ini. Kamu harus bisa mengucapkannya dengan lancar nantinya." Dewangga menunduk membaca tulisan tangan ayahnya. Ia mengembuskan napas sejenak lalu segera berdiri hendak kembali ke kamarnya. "Mama akan mengantarkan pakaian milik Andaru ke kamar kamu nanti, Nak. Kita tidak punya banyak waktu lagi." Sofia seolah mendapatkan kekuatannya kembali dan segera bangkit dari sofa tempatnya tadi terduduk lemas. Dewangga hanya mengangguk, lalu melangkah menuju pintu keluar. "Angga ...." Suara panggilan Surya membuat Dewangga kembali memutar tubuhnya menghadap sang ayah. "Terima kasih, Nak. Terima kasih." Surya mengucapkan kalimatnya dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Dewangga mengangguk sambil tersenyum getir. "Ini semua demi Papa dan Mama. Aku melakukannya untuk kalian, bukan demi si b******k itu!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook