Dewangga berdiri di depan kaca kamar hotelnya. Pendingin udara yang disetel maksimal tidak berhasil menyejukkan tubuhnya yang terasa gerah. Ia melepaskan beberapa kancing kemejanya hingga memperlihatkan dadanya yang bidang dan menatap pantulan dirinya di kaca.
"Saya terima nikahnya ...."
Dewangga mengucapkan barisan kalimat yang telah dihafalnya di luar kepala dengan suara lirih. Ia kemudian berusaha menyunggingkan senyum terbaiknya. Berusaha untuk menyerupai Dewandaru yang murah senyum.
Walaupun berwajah sama persis hingga sangat sulit untuk dibedakan, keduanya memiliki karakter yang begitu berbeda. Dewandaru adalah tipikal pria supel yang gampang disukai banyak orang. Sementara Dewangga sebaliknya. Ia tidak suka berbasa-basi dan pelit bicara serta jarang tersenyum. Sikapnya yang serius dan cenderung jutek, kerapkali dibanding-bandingkan dengan Dewandaru sejak mereka masih kecil.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dewangga. Sofia masuk ke kamarnya dengan membawa sebuah pakaian yang masih terbungkus rapi di dalam plastik. Wanita itu sendiri telah berdandan cantik dan mengenakan sehelai kebaya klasik membalut tubuhnya yang ramping.
"Pakai ini, Nak. Mama akan bantu kamu."
Sofia bergerak cepat memasangkan setelan jas berwarna krem keemasan yang telah dipilih oleh pihak calon mempelai wanita untuk hari sakral itu. Dewangga hanya bisa pasrah ketika ibunya mendandaninya dengan telaten seperti saat dirinya masih kecil.
Sofia mundur ke belakang agar bisa melihat penampilan putranya dengan lebih jelas.
"Kamu terlihat sangat tampan."
Dewangga hanya melengos.
"Jangan lupa banyakin senyumnya, ya, Nak. Untuk sehari ini, kamu harus bisa meyakinkan orang-orang bahwa kamu adalah Andaru."
Dewangga mengangguk samar. Tak berapa lama kemudian, Surya bergabung dengan anak dan istrinya. Pria itu pun telah mengenakan seragam yang serasi dengan Sofia. Raut wajah lega tergambar jelas dari lelaki yang rambutnya telah memutih tersebut.
"Kamu sudah hafal kalimatnya?"
Dewangga lagi-lagi hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Surya menepuk bahu putranya. "Ingat, ini hanya untuk sementara. Kamu jangan terlihat begitu tertekan atau orang-orang nanti akan curiga."
"Sudahlah, Pa. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Dewangga merasa benar-benar muak berada dalam situasi terjepit seperti sekarang ini dan tidak sabar untuk mengakhiri semuanya.
Surya tersenyum dan kembali menepuk bahu putranya. "Ayo kita turun sekarang. Beberapa menit lagi acaranya akan dimulai."
Surya dan Sofia mengapit sang putra keluar dari kamarnya. Kerabat yang lain telah menunggu di lorong hotel dan segera memberikan kalimat pujian saat melihat sosok Dewangga yang terlihat tampan dalam balutan jas. Dewangga memasang senyum menanggapi pujian tersebut, walau dalam hatinya penuh sumpah serapah.
Rombongan keluarga besar Dewangga telah berada di ruangan yang didekorasi begitu apik untuk menunggu kehadiran pihak calon mempelai wanita. Dewangga merasakan tubuhnya panas dingin. Ia merasa khawatir saat harus bertemu dengan Hanggini dan bertanya-tanya apakah wanita itu akan menyadari bahwa bukan Dewandaru yang akan mengucapkan ijab kabul, tetapi justru dirinya.
Kekhawatiran Dewangga tidak berlangsung lama. MC dari acara itu mengumumkan kedatangan rombongan calon mempelai wanita. Dewangga menunduk saat merasakan sosok seorang wanita duduk persis di sebelahnya. Ia tidak berani memandang Hanggini yang saat itu terlihat cantik dengan riasan wajah natural dan kebaya keemasan bernuansa modern membalut tubuhnya yang mungil.
Wajah Hanggini tampak begitu bersinar. Senyum malu-malu tersungging di wajahnya yang rupawan. Dewangga sendiri hanya beberapa kali saja pernah bertatap muka dengan Hanggini dan tidak pernah terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan gadis tersebut. Ia hanya tahu bahwa hubungan Dewandaru dengan Hanggini telah berlangsung beberapa bulan sebelum mereka memutuskan untuk menikah.
Halim, lelaki kharismatik dan terlihat bijaksana itu mengambil tempat di depan putri dan calon menantunya. Seorang penghulu yang akan mengesahkan pernikahan duduk tepat di sebelahnya. Seorang saksi yang merupakan paman Hanggini, juga turut serta dalam prosesi pernikahan itu.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Dewandaru Candradinata bin Muhammad Surya dengan putri saya yang bernama Hanggini Anastasia dengan mas kawin sebuah cincin berlian dan seperangkat alat sholat. Tunai!"
Dewangga menjabat tangan Halim dengan kuat saat mengucapkan kalimat sakral yang telah dihafalnya di luar kepala. Suaranya terdengar tegas dan lantang. Menimbulkan gema di ruangan luas yang hening dan khidmat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hanggini Anastasia binti Halim Perdanakusuma dengan mas kawin sebuah cincin berlian dan seperangkat alat sholat dibayar tunai ...." Dewangga mengucapkan kalimatnya dengan lancar dalam satu tarikan napas. Ia kemudian memejamkan mata sesaat, memohonkan ampunan atas tindakan keliru yang telah ia lakukan dengan penuh kesadaran.
"SAH! SAH!" Seruan dari para kerabat terdengar menggetarkan hati. Diikuti gumaman suara para kerabat yang mengucapkan puji syukur.
Penghulu mempersilakan kedua pengantin yang telah sah menjadi suami istri menurut pedoman agama Islam itu duduk saling berhadapan untuk sungkeman. Dewangga memutar tubuhnya dengan gugup ke arah Hanggini yang dengan tersipu-sipu melakukan hal serupa.
"Sudah boleh dicium loh, Mas pengantinnya. Udah halal kok ini." Guyonan dari penghulu memicu gelak tawa dari para kerabat.
Hanggini mengangkat wajahnya dengan malu-malu. Menatap untuk pertama kalinya sang kekasih hati setelah mereka menyandang status baru sebagai suami istri. Kilatan terkejut tampak sekilas di wajah Hanggini setelah bertemu pandang dengan pria yang ada di hadapannya.
Wanita berwajah imut-imut itu kembali menunduk. Matanya mengerjap berusaha menahan luapan air mata yang mendesak ingin keluar. Dalam satu kali tatap, ia tahu bahwa pria yang baru saja mengucapkan ijab kabul itu bukanlah Dewandaru. Sorot matanya terlihat begitu dingin dan asing, walaupun wajah keduanya tidak bisa dibedakan.
Dewangga yang mengetahui isi hati Hanggini, merengkuh bahu wanita itu dengan canggung dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Jangan menangis. Aku akan menjelaskan semuanya nanti setelah resepsi. Untuk sekarang ini, bertahanlah sebentar saja."
Di mata orang-orang yang melihat adegan tersebut, itu adalah sebuah momen romantis di mana sang suami membisikkan ucapan mesra pada sang istri. Namun, mereka semua tidak mengetahui bahwa sebuah kekeliruan besar telah terjadi dan berpotensi menyakiti banyak pihak jika kebenaran terungkap.
Hanggini tergugu dan menyusut air matanya. Ia berusaha menetralkan tarikan napasnya yang terasa sesak. Ia yakin sesuatu yang buruk telah terjadi pada Dewandaru dan sosok Dewangga yang ia ketahui sebagai kembaran dari pria yang ia kasihi, sedang berusaha untuk menutupinya.
Setelah melakukan sesi pemotretan yang dijalani keduanya dengan canggung, Hanggini dan Dewangga digiring kembali ke kamarnya untuk berganti kostum. Kedua belah pihak sebelumnya telah sepakat bahwa acara akad nikah dan resepsi dilakukan pada hari yang sama.
Tamu-tamu mulai berdatangan saat kedua mempelai bersanding di pelaminan yang mewah dan bernuansa keemasan, warna favorit dari Hanggini. Dewangga dan Hanggini seolah telah sepakat untuk menunjukkan sandiwara terbaik mereka dan menyambut para tamu dengan senyum terkembang di bibir masing-masing.
Halim dan istrinya Maria, wanita keturunan Tionghoa yang telah menjadi mualaf sejak resmi menyandang status sebagai pendamping hidupnya, tampak begitu bahagia sekaligus haru melepas putri satu-satunya itu untuk menjalani kehidupan berumahtangga dengan pria pilihannya.
Begitu juga dengan Surya dan Sofia. Walaupun masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hati mereka, tetapi mereka bersyukur acara berlangsung dengan lancar dan tidak ada yang menaruh curiga dengan ketidakhadiran Dewangga di pernikahan saudaranya.
"Di mana Mas Andaru? Kenapa kamu yang mengantikan posisinya?" Hanggini berbisik lirih tanpa memandang Dewangga. Ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih lama lagi.
"Nanti aku jelaskan. Tidak bisa sekarang."
"Apa dia berubah pikiran ingin menikahiku? Lalu kenapa kamu ada di sini? Kenapa tidak berterus terang pada aku dan orang tuaku?" Mata Hanggini yang indah mulai berkaca-kaca.
"Kamu ngerti nggak sih? Aku bilang nanti aku jelaskan! Kalau kamu memang ingin membuka semuanya, datangi orang tua kamu sekarang juga!" Dewangga berucap dengan mulut terkatup rapat menahan geram.
"Nggak usah ngancem-ngancem! Kamu tinggal bilang di mana Mas Andaru sekarang! Nggak susah, kan?"
"Aku nggak tahu dia di mana! Kalau aku tahu, aku nggak bakal ada di sini!"
Suasana di antara mereka mulai memanas. Namun, kedatangan serombongan tamu undangan yang ingin bersalaman membuat mereka kembali memasang topeng di wajah masing-masing.
"Sesudah resepsi, nanti aku jelaskan!" Dewangga berbisik di telinga Hanggini setelah rombongan tamu itu berlalu.