Sandiwara yang Berlanjut

1223 Kata
Hanggini yang masih mengenakan gaun pengantin adat Jawa, duduk dengan wajah pucat di sofa yang berada di kamar hotel tempat Dewangga menginap. Di sebelahnya, duduk Sofia yang sedang menggenggam erat jemari gadis itu. Surya dan Dewangga duduk di hadapan kedua wanita itu dengan tatapan merenung. Resepsi sudah berakhir satu jam yang lalu. Dewangga saat itu berpamitan pada mertuanya untuk mengajak Hanggini yang diketahui telah sah menjadi istrinya, untuk beristirahat di kamar. Surya dan Sofia ikut undur diri, mengikuti pasangan itu dan bersiap-siap untuk memberi penjelasan pada Hanggini. "Jadi ... Mas Andaru nggak benar-benar serius menginginkan Hanggini jadi istrinya, Ma, Pa?" Hanggini menatap mertuanya dengan mata basah. Sofia memandang gadis itu dengan tatapan iba. Ia telah jatuh hati pada Hanggini sejak pertama kali bertemu dengannya, jauh sebelum Dewandaru menjalin hubungan kasih dengan gadis itu. Di mata Sofia, Hanggini adalah sosok gadis yang sangat manis dan menyenangkan. Walaupun terkesan manja, tetapi gadis itu tetap bisa menempatkan dirinya dalam situasi apa pun. Hidup dalam limpahan materi tidak membuatnya melupakan adab sopan santun. Hal yang cukup langka bagi generasi muda zaman sekarang ini. "Maafkan mama, Hanggini. Mama dan Papa juga nggak ngerti apa yang ada dalam pikiran Andaru sampai bisa bertindak bodoh seperti ini. Mama dan Papa benar-benar minta maaf sama kamu." Sofia mengelus punggung Hanggini dengan lembut. Berusaha meredakan tangisan gadis itu. Surya kemudian angkat bicara. "Jadi menurut Hanggini, apa selanjutnya yang harus kita lakukan? Niat papa dan Mama untuk menyuruh Dewangga menggantikan posisi Dewandaru semata-mata ingin menyelamatkan nama baik keluarga kita agar tidak ada omongan tidak enak nantinya. Papa harap Hanggini bisa mengerti." Tangisan Hanggini kian pecah. Sofia buru-buru merengkuh gadis itu dalam pelukannya. "Hanggini nggak nyangka Mas Andaru tega melakukan ini sama Hanggini." Surya menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Sementara Dewangga hanya menyimak pembicaraan itu dengan tidak sabaran. "Jadi gimana ini selanjutnya? Aku udah bisa lepas tangan dari masalah ini, kan?" Hanggini sontak melepaskan dirinya dari pelukan Sofia. "Nggak bisa! Kamu harus tetap berpura-pura menjadi Mas Andaru. Aku belum bisa ngasih tahu Mami dan Papi dalam waktu dekat. Papi baru saja operasi katup jantung dua bulan yang lalu. Aku nggak mau kabar ini bikin Papi drop lagi!" Dewangga yang juga masih berpakaian pengantin lengkap, menatap tajam pada Hanggini. Ia ingin meluapkan isi hatinya dengan berteriak bahwa dirinya tidak peduli dengan semua yang gadis itu ucapkan. "Dengar, aku juga punya kekasih. Aku tidak mau dia sampai tahu tentang hal ini. Lagipula, sampai berapa lama aku harus menunggu? Ini semua bukan urusanku dan aku nggak harus bertanggung jawab dalam masalah kalian berdua." Dewangga berucap dengan ketus. Surya buru-buru menengahi. "Angga, papa tahu kalau kamu tidak berkewajiban untuk menanggung kesalahan adik kamu, Nak. Tapi papa mohon kamu mau bersabar sebentar. Kita juga harus memikirkan kondisi Pak Halim." "Tapi Papa tadi bilang kalau aku hanya perlu berpura-pura menjadi Andaru untuk hari ini saja!" Sofia mendatangi Dewangga dan duduk di sebelahnya. Tangannya terangkat untuk mengelus bahu putranya yang lebar dan kokoh. "Nak, mama mengerti perasaan kamu. Tapi bisakah mama dan Papa minta bantuan sekali lagi? Demi Pak Halim yang sudah begitu baik pada keluarga kita?" Sofia berucap dengan lemah lembut. Dewangga berdecak kesal. Bangkit dari kursinya dan melangkah ke arah jendela. "Sampai berapa lama, Ma? Kenapa Mama dan Papa nggak lapor polisi aja biar mereka bisa bantu nyariin Andaru! Masukin dia ke penjara sekalian!" Suara ketukan membuat empat pasang mata itu menoleh cepat ke arah pintu. Surya bergegas maju untuk membuka pintu dan sedikit tersentak melihat siapa yang berada di luar kamar. "Ohh, Pak Halim. Bu Maria ... silakan masuk. Kami lagi ngobrol nih sama pasangan pengantin baru." Surya mengeluarkan suara tawa yang terkesan sumbang. "Kumpul di sini rupanya. Saya kira mereka berdua ini ada di kamar Hanggini." Halim beserta istrinya masuk dan duduk bergabung di sofa. Maria, wanita berwajah oriental dan bertubuh mungil itu menggenggam tangan putrinya. "Mami sama Papi mau pamitan kembali ke rumah. Kerabat lain juga udah pada pulang." Hanggini hanya mengangguk sambil memaksakan senyum. Berharap kedua orang tuanya tidak menyadari bahwa dirinya baru saja menangis. "Kalian sudah siap-siap untuk pergi besok? Jemputan akan datang pagi-pagi sekali. Papi udah urus semuanya." Halim, lelaki bertubuh tinggi besar itu menatap Hanggini dan Dewangga bergantian. "Besok?" Dewangga berucap kebingungan. Hanggini segera bangkit menghampiri Dewangga yang masih berdiri di dekat jendela. "Masak kamu lupa, Mas. Besok kita mesti ke Bali. Mau bulan madu selama tiga hari. Ini hadiah dari Papi buat kita." Hanggini bergelayut manja di bahu Dewangga yang tampak risih. "Tiga hari?" "Iya, tiga hari. Kita bisa liburan sepuasnya." Hanggini mengedipkan mata pada Dewangga. Berharap laki-laki itu bisa memahami isyaratnya. "Ohhhh, iya, iya. Hahaha, maaf. Aku lupa. Maklum kayaknya kecapean ini, Pi, Mi." Tawa keras keluar dari mulut Dewangga. Halim dan istrinya ikut tertawa. "Mudah-mudahan pulang dari Bali, kalian udah bisa ngasih Papi cucu." Glek! Dewangga dan Hanggini meneguk ludah dan saling memandang dengan canggung. "Buru-buru amat sih, Pi!" Protes Hanggini sambil tertawa gugup. "Papi dan Mami udah tua. Mau segera nimang cucu. Pak Surya dan Bu Sofia pasti juga mau cepat-cepat. Bener nggak?" Halim menatap besannya sambil tertawa lebar. "Ohh, iya, iya, Pak Halim. Pasti cucu kita nanti lucu kayak kakeknya." Pak Surya menjawab dengan cepat. Sofia segera menyikut perut buncit suaminya mendengar ucapan Surya yang ngawur. Halim dan Maria kemudian berdiri hampir bersamaan. Keduanya berpamitan untuk kembali ke rumah. Surya melepas kepergian besannya sampai ke depan pintu kamar hotel. Berbasa-basi sejenak, lalu menutup pintu. "Batalin aja tiketnya! Aku nggak mau pergi besok!" Dewangga berkata dengan nada kesal setelah sang ayah kembali duduk di sofa. "Nggak bisa! Papi bisa curiga!" Hanggini menyambar cepat. "Aku nggak peduli! Cari alasan apa kek! Pokoknya aku nggak bakal mau ikut ke Bali!" "Kamu pikir aku mau? Kamu pikir aku senang? Kalau bukan demi Papi, aku juga nggak bakal mau kayak gini! Lagipula, ini semua gara-gara saudara kamu itu, kan?" "Itu urusan kalian! Aku nggak ada sangkut pautnya sama masalah ini!" "Tapi dia saudara kamu!" "Sudah! Sudah cukup! Kalian nggak usah bertengkar! Nggak akan menyelesaikan masalah kalau kalian seperti ini." Surya menengahi sambil memijit pelipisnya yang berdenyut. "Angga! Besok kamu berangkat ke Bali. Pak Halim nggak boleh tahu kalau kamu dan Hanggini batal pergi. Papa minta tolong sama kamu untuk satu kali ini." Surya mengeluarkan ultimatum. Dewangga menyumpah-nyumpah di dalam hatinya. Ia melirik kesal ke arah Hanggini yang kebetulan juga sedang melihat ke arahnya. Keduanya serentak membuang muka. Belum apa-apa, permusuhan sudah terjadi di antara mereka berdua. "Oke! Tapi selama di Bali, aku nggak mau satu kamar sama kamu. Ambil kamar satu lagi!" "Sebelum kamu ngomong gitu, aku juga udah niat ngambil satu kamar lagi, kok. Kamu pikir aku mau sekamar sama kamu!" Hanggini bersungut-sungut. Surya dan Sofia terlihat lega saat keduanya telah mencapai kata sepakat. Pasangan suami istri itu pun segera berpamitan untuk kembali ke rumah karena pesta sudah berakhir. "Kalian berdua tetap di sini. Biar gampang buat berangkat besok karena bandara dekat dari sini." Dewangga dan Hanggini mengangguk dengan enggan. Hanggini mengikuti langkah mertuanya untuk keluar bermaksud kembali ke kamarnya sendiri. Gadis itu sudah mulai gerah mengenakan gaun resepsi yang belum sempat dilepas dan ingin menghapus dandanannya. "Besok pagi jangan telat!" Mata Hanggini mendelik tajam pada Dewangga sebelum lenyap dari balik pintu. Menyusul Surya dan Sofia yang sudah duluan keluar. "Sialan! b******k!" Dewangga merenggut blangkon berwarna keemasan yang melekat di kepalanya, melemparnya ke lantai, dan mengacak-acak rambut dengan kesal. "Dosa apa aku, ya, Allah! Sampai bisa dapat musibah kayak gini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN