Hanggini menatap dari atas ke bawah berulang kali pada Dewangga yang berdiri di hadapannya. Mereka pagi itu sudah berada di lobi hotel, bersiap untuk menanti mobil jemputan yang akan mengantarkan mereka ke bandara.
Dewangga yang wajahnya terlihat kusut dan mengantuk, mengenakan sehelai kaos oblong berwarna hitam yang lehernya sudah sedikit melar. Celana chinos di atas lutut melengkapi penampilannya. Namun, bukan itu saja yang membuat Hanggini terguncang. Dewangga mengenakan sepasang sendal hotel yang tampak kekecilan terpasang di kakinya.
"Ngapain kamu pake sendal hotel kayak gitu? Malu-maluin aja! Lagian, kamu nggak ada baju lain apa? Udah melar gitu!" Hanggini mengomel.
Gadis itu sendiri terlihat cantik dan modis dengan gaun berwarna putih tanpa lengan di atas lutut. Sebuah tas kecil bermerek tergantung di bahunya. Sendal bertali tipis berwarna perak terlihat manis di kakinya yang mungil.
"Ngapain malu! Kan aku nggak telanjang!" Dewangga menjawab tak acuh. Ia melirik sejenak ke gaun Hanggini yang berpotongan rendah hingga dadanya sedikit terbuka.
"Kamu tuh, pake baju kayak kurang bahan! Masuk angin baru tau rasa!"
Hanggini mencibir. "Nggak usah komen kalau nggak ngerti fashion, deh!"
Dewangga membuka mulutnya hendak membalas ucapan Hanggini. Namun, gadis itu sudah melenggang pergi bersama seorang room boy yang membantu membawakan kopernya.
Mobil jemputan sudah datang. Sang supir membantu Hanggini memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi. Dewangga sendiri hanya membawa sebuah tas ransel kecil yang tersandang di bahunya.
Keduanya kemudian memasuki mobil dan duduk saling berjauhan dengan ekspresi cemberut. Sang supir mengamati keduanya dari balik kaca spion depan.
"Udah bisa berangkat sekarang, Mas, Mbak?"
Hanggini mengangguk. "Jalan, Pak!"
"Pengantin baru, ya, Mas, Mbak? Pasti mau pergi bulan madu." Sang supir berusaha berbasa-basi saat mobil sudah melaju.
Dewangga dan Hanggini hanya melengos. Keduanya menatap keluar jendela tanpa menjawab pertanyaan sang supir.
Supir yang berusia awal tiga puluhan itu kembali melirik ke kaca spion. Merasa aneh melihat pasangan yang sepertinya tidak ada bahagia-bahagianya sedikit pun.
'Pasti mereka berdua korban perjodohan. Atau mungkin malam pertamanya nggak sukses. Gawang susah dijebol.' Sang supir tersenyum simpul sambil menggeleng-geleng.
"Kenapa, Pak?"
Hanggini menangkap gerakan kepala sang supir dan langsung bertanya dengan ketus. Suasana hatinya saat ini benar-benar buruk hingga gampang terpancing emosi.
Sang supir tampak gelagapan. "Ehh, nggak kenapa-kenapa, Mbak. Senang aja lihat Mas dan Mbak begitu serasi. Satu cantik dan yang satunya ganteng. Pasti anaknya nanti juga cakep-cakep."
Dewangga tanpa sadar menggeram hingga membuat nyali sang supir ciut. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menutup mulutnya di sepanjang perjalanan hingga akhirnya mobil tiba di bandara.
Sang supir membantu Hanggini menurunkan koper, sedangkan Dewangga melenggang terlebih dahulu memasuki bandara.
"Hei! Tunggu sebentar, napa? Bantuin aku bawain koper!" Hanggini berseru memanggil Dewangga sambil tergopoh-gopoh membawa dua buah kopernya yang berukuran cukup besar.
Sang supir memandangi keduanya dengan tatapan prihatin sambil bergumam perlahan. "Fix, mereka korban perjodohan orang tua yang egois. Kesian, mana masih muda."
Dengan susah payah akhirnya Hanggini sampai ke barisan penumpang lainnya untuk check-in tiket. Ia menggerutu panjang pendek melihat Dewangga yang berdiri cuek tak jauh darinya.
Selesai check-in tiket, keduanya naik ke ruang tunggu pesawat, lalu duduk berjauhan seperti tidak saling mengenal. Keberangkatan mereka masih setengah jam lagi. Hanggini yang merasa haus, berjalan menuju sebuah mesin minuman.
Seorang pemuda yang sedari tadi mengamati Hanggini, ikut antri di belakang gadis itu.
"Mau ke Bali juga, Non?" Pemuda bertubuh tegap itu menyapa Hanggini sambil cengar-cengir.
Hanggini membalikkan tubuhnya ke belakang. Di tangan gadis itu sudah memegang satu botol air mineral. "Iya, saya mau ke Bali."
"Sendirian aja, nih."
"Ada suaminya! Kenapa?" Sebuah suara berat menjawab dari belakang. Membuat bahu pemuda berbadan tegap itu terangkat karena terkejut.
Dewangga menatap pemuda itu dengan tajam dan alis bertaut. Ia menilai pemuda itu adalah sebangsa buaya darat yang gemar menggoda gadis-gadis cantik.
"Oh, maaf. Saya kira Nona ini sendirian. Permisi kalau gitu." Pemuda itu bergegas pergi dengan wajah memerah menahan malu.
"Ngapain ngikutin aku ke sini?" Hanggini menatap Dewangga dengan kening berkerut.
"Jangan kepedean! Aku juga mau beli minuman! Minggir sana!"
Dewangga menyenggol bahu Hanggini hingga tubuh gadis itu sedikit terhuyung. Hanggini memelototi punggung Dewangga yang sedang memilih minuman.
"Dasar cowok batu!"
"Apa kamu bilang?" Dewangga menoleh ke belakang.
"Nggak ada!" Hanggini mengangkat wajahnya dengan angkuh. Melangkah pergi dan kembali duduk di kursi tunggu.
Panggilan agar penumpang segera masuk ke dalam pesawat, membuat Hanggini dan Dewangga beranjak dari kursi masing-masing. Mereka akan menempati kelas bisnis yang sengaja dipilih Halim agar putri dan menantunya merasa nyaman walaupun jarak yang ditempuh tidak begitu jauh dari Jakarta menuju Bali.
Beberapa saat kemudian, Hanggini dan Dewangga telah menempati kursi masing-masing. Raut wajah Hanggini terlihat tegang. Ia tidak pernah menyukai menaiki si burung besi itu walaupun sering menempuh perjalanan menggunakannya.
Tak lama setelah pilot mengumumkan bahwa pesawat akan lepas landas, Hanggini memejamkan mata saat merasakan moncong pesawat mulai menukik ke atas. Tanpa sadar, ia mencengkeram erat tangan Dewangga yang duduk di sebelahnya.
"Aku takut ... aku paling benci bagian take-off kek gini."
Dewangga melihat kuku Hanggini yang panjang menancap di kulitnya. Lelaki tampan berpostur jangkung itu memutar bola matanya.
"Kenapa? Kamu takut mati?"
Cengkeraman Hanggini kian erat hingga Dewangga mengaduh kesakitan.
"Pelan-pelan, woy! Ini kulit manusia, bukan jok kursi! Sakit tau!"
Hanggini hanya diam sambil terus memejamkan mata. Pesawat makin naik menembus sederetan awan tebal hingga pesawat terasa berguncang keras.
"Takuttt ...." Hanggini merengek.
"Ya udah turun sana kalau takut! Manja amat!"
Perlahan pesawat mulai terbang dengan stabil. Hanggini membuka matanya dan akhirnya bisa bernapas lega. Ia melihat tangannya masih menempel pada Dewangga lalu dengan cepat menariknya menjauh.
Dewangga melirik sekilas lalu melengos. Ia kemudian merebahkan kursinya setelah sebelumnya meyumpal telinga dengan headset untuk mendengarkan musik.
Hanggini pun ikut merebahkan kursi dan mencoba untuk tidur. Masih satu jam lebih 50 menit lagi menuju Bali. Ia punya kesempatan untuk beristirahat walaupun otaknya masih demikian aktif berpikir.
Sampai detik ini Hanggini rasanya masih belum percaya bahwa pria yang ada di sebelahnya bukanlah Dewandaru. Gadis itu memutar kepalanya untuk mengamati sosok Dewangga yang matanya tengah terpejam.
Hanggini mendesah. Mereka berdua benar-benar mirip dan sangat sulit untuk dibedakan. Garis rahang, bentuk bibir, hidung, postur tubuh, dan semuanya. Bahkan tidak ada tahi lalat sekedar untuk membedakan mereka berdua. Kecuali dalam hal sikap yang jelas-jelas bertolak belakang.
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Impiannya untuk hidup bersama lelaki pujaannya terasa kian mustahil. Ternyata selama ini cinta Dewandaru tidak cukup besar untuknya. Perhatian dan kasih sayang pria itu selama beberapa bulan mereka berpacaran, hanya palsu belaka.
"Ngapain kamu ngeliatin aku lama-lama?" Dewangga berkata tiba-tiba tanpa membuka matanya.
Hanggini tersentak dan langsung memutar kepalanya ke posisi semula. Wajahnya terasa panas karena kepergok sedang mengamati Dewangga.
'Sialan! Kirain dia lagi tidur. Aneh tuh orang, kok bisa-bisanya dia tahu aku lagi liatin dia!' Hanggini menyumpah-nyumpah di dalam hati.
"Jangan bilang kalau kamu jadi naksir sama aku."
"Kepedean kamu, Setan!"
Hanggini memutar tubuhnya dengan gusar membelakangi Dewangga. Sementara Dewangga merapatkan bibirnya, berusaha menahan tawa.
'Syukurin!' serunya dalam hati.