Bencana Bulan Madu (2)

1196 Kata
Hanggini terbangun oleh sebuah tepukan keras di bahunya. Ia menepis tangan itu dengan kasar. "Apa-apaan sih! Sakit tau!" "Bangun! Molor aja! Kamu mau nginap di pesawat?" Hanggini menegakkan tubuhnya dengan kepala sedikit pusing karena terbangun tiba-tiba. Ternyata pesawat sudah landing dan beberapa penumpang sudah beranjak dari kursi masing-masing. "Cepat bangun! Aku nggak bisa lewat!" Dewangga yang duduk di dekat jendela pesawat terus mendesak. "Bawel amat! Tunggu bentar, aku masih pusing!" Dewangga berdecak kesal. Ia kemudian berdiri dan melangkahi kaki Hanggini begitu saja. Gadis itu mengomel panjang pendek, tapi akhirnya ikut berdiri dan mengikuti Dewangga dari belakang. Setelah mengambil koper milik Hanggini, keduanya melenggang menuju pintu keluar bandara khusus penerbangan domestik. "Bantuin angkat koper ini, napa?" "Ngapain nggak pake troli tadi?" "Nggak nemu!" "Ya udah salah kamu sendiri! Siapa suruh bawa barang banyak-banyak. Cuma nginep tiga hari doang!" "Emangnya di sana aku nggak ganti baju?" "Baju ganti dua koper?" Mata Dewangga membulat. "Kamu mau ngapain? Mau konser?" Hanggini mendecih. Percuma rasanya ia mengharapkan bantuan laki-laki yang tidak berperasaan seperti Dewangga. Gadis itu pun dengan terhuyung-huyung menenteng koper dengan kedua tangannya. Mereka pun naik taksi yang akan membawa mereka ke Jimbaran Bay Beach Resort, sebuah tempat mewah di dekat pantai yang telah dipesan oleh Halim sebagai kado pernikahan untuk putrinya. Hanggini langsung menuju meja resepsionis hotel untuk mengkonfirmasi pesanan. "Maaf, semua kamar sudah terisi dan full booked." Begitu jawaban resepsionis hotel saat Hanggini meminta kamar tambahan. Membuat Dewangga otomatis merengut tidak senang. "Kamu tidur di lantai aja nanti." Hanggini berbisik lirih saat melenggang melewati Dewangga. Tanpa mempedulikan laki-laki itu melotot saat mendengar ucapannya. Seorang petugas hotel mendampingi mereka berdua menuju sebuah suite room yang dilengkapi berbagai fasilitas. Sebuah kasur berukuran besar dan empuk berada di dekat balkon yang menyajikan pemandangan ke arah pantai. Cahaya matahari yang lembut menyusup masuk dari jendela yang setengah terbuka. Hanggini menaruh kopernya di dekat lemari dan melempar tubuhnya ke kasur. Sedangkan Dewangga masih berdiri dengan kikuk tanpa tahu harus berbuat apa. "Kamu ngapain?" Hanggini akhirnya menyadari Dewangga yang masih berdiri di dekat pintu. "Justru aku yang mau nanya sama kamu, kita mau ngapain di sini kayak orang bego?" "Kamu aja kali yang bego, aku nggak tuh!" Dewangga mengawasi gadis itu dengan perasaan geram, lalu bergerak menuju lemari. Ia mengeluarkan beberapa helai pakaian dari dalam tas ranselnya dan meletakkannya sembarangan. Hanggini mencibir ke arah Dewangga. "Kamu pergi cari baju, deh. Sama sendal sekalian." "Nggak perlu! Ngapain juga. Aku juga nggak bakal ke mana-mana." Mata Hanggini membulat sempurna. "Tiga hari dan kamu bakal di kamar terus?" Dewangga mengedikkan bahunya dan melempar tubuhnya ke atas sofa di depan televisi berukuran besar. Ia meraih remote di atas meja lalu menghidupkan benda berlayar tipis tersebut. "Aku lapar!" Dewangga hanya diam, tidak mengacuhkan perkataan Hanggini. "Tadi aku nggak sempat sarapan dan sekarang aku lapar banget!" Dewangga tetap larut dalam acara di televisi yang menayangkan berita kriminal. "Dewangga!" Hanggini berseru keras. Dewangga mengalihkan pandangannya pada Hanggini. "Kamu yang sopan sedikit manggilnya! Aku lebih tua dari kamu tau nggak!" "Bodo amat! Aku lapar!" "Ya pergi makan sana! Ribet amat jadi orang!" "Temani aku makan. Aku nggak biasa makan sendirian. Berasa kayak orang bego aja kalo makan sendiri." "Itu urusan kamu!" Hanggini bangkit dengan gusar dari atas kasur. Ia kemudian meraih koper dan membukanya untuk mengambil sehelai baju. Gadis itu kemudian beranjak ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Beberapa menit kemudian gadis itu keluar dengan mengenakan sebuah dress dari bahan lembut berwarna pastel yang bahunya terbuka. Memperlihatkan pundak Hanggini yang mulus dan putih bersih. Dewangga mengawasi Hanggini yang sedang mematut diri di kaca sambil menyisir rambutnya yang lurus kecokelatan dan panjang sepinggang. "Nggak ada pakaian lain? Kok kamu suka sama baju kurang bahan kayak gitu? Nggak malu dilihat orang?" "Ck! Nggak usah bawel! Itu bukan urusanmu!" Hanggini menjawab ketus lalu berjalan cepat menuju pintu keluar. Gadis itu menaiki lift yang akan membawanya ke lantai dasar tempat ia nantinya akan menuju restoran hotel. Restoran itu terlihat sepi karena jarang orang yang memilih makan saat jam sekarang ini yaitu pukul sepuluh pagi. Waktu sarapan sudah lewat, sementara untuk makan siang juga masih terlalu dini. Hanggini memilih tempat duduk di dekat jendela, tempat ia bisa melihat pemandangan pantai dari kejauhan. Ia memesan beberapa menu yang tampaknya menggiurkan lalu mengalihkan perhatian pada orang yang berlalu lalang di luar restoran. Tiba-tiba ia merasakan perasaan kesepian yang datang begitu saja. Harusnya saat ini, ia sedang menghabiskan waktu bersama Dewandaru menikmati masa-masa indah bulan madu mereka. Hanggini mengembuskan napas kasar. Lagi-lagi ingatan tentang Dewandaru membuat hatinya kembali terluka. Hanggini menyantap makanannya tanpa berselera. Rasa laparnya menguap begitu saja hingga makanan itu banyak tersisa. Gadis itu lalu memanggil pelayan restoran untuk membayar tagihan dan kemudian beranjak pergi. Hanggini memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Deretan kios yang menjual aneka cenderamata menarik perhatiannya. Ia kemudian memilih beberapa baju dan sepasang sendal khas Bali. Tak lama setelah itu, Hanggini kembali ke kamarnya dengan menenteng beberapa bungkusan. Saat masuk ke kamar, ia mendapati Dewangga sedang berdiri di balkon yang menghadap ke pantai sambil menyulut sebatang rokok. Hanggini memanyunkan bibirnya. Ia tidak pernah suka pria perokok. Dewandaru juga bukan seorang perokok. Hanggini memaki dirinya dalam hati saat lagi-lagi teringat akan pria itu. Dewangga masuk ke dalam tepat di saat Hanggini sedang membongkar kopernya mencari sesuatu. "Kamu mau ngapain?" "Mau renang!" "Panas-panas gini?" "Emang mesti nunggu musim salju dulu baru boleh renang?" "Artinya kamu ... pake itu, umm, bikini?" "Ya iyalah! Masak pake mukena!" Hanggini memutar tubuhnya sambil memamerkan sesuatu di tangannya. "Taraaaa!" Dewangga melotot saat melihat apa yang ada di tangan Hanggini. "Kamu mau pake itu?" Raut wajahnya terlihat jijik. "Emang ada yang salah?" Hanggini mengamati bikini two piece yang dipegangnya. "Kamu nggak malu apa?" "Ngapain malu? Kamu selama ini tinggal di goa, ya? Orang kalo berenang, ya pastinya pake ini, dong!" Dewangga bergidik saat kembali memandangi benda yang dipegang Hanggini. Namun, ia berpikir mungkin gadis itu benar. Selama ini ia memang selalu disibukkan dengan pekerjaan hingga lupa cara bersenang-senang. Walaupun ia sendiri juga tidak menyukai hal-hal seperti itu. Berbeda dengan Dewandaru yang pekerjaannya sebagai model membuat ia dekat dengan dunia glamor. "Ini buat kamu." Hanggini mengangsurkan beberapa bungkusan yang tadi dibawanya pada Dewangga. "Apa ini?" Dewangga menerimanya dengan alis bertaut. "Baju sama sendal." "Buat apaan? Aku kan udah bilang nggak bakal ke mana-mana." Dewangga mengajukan protes walaupun tangannya tetap mengeluarkan isi bungkusan tersebut. "Dih! Norak amat ini warna bajunya!" Dewangga melempar baju kaos khas Bali tersebut ke atas kasur. "Nggak ngehargain banget, sih kamu!" "Aku nggak pernah suka warna merah, Andaru yang su ... ka." Dewangga sadar dirinya telah keceplosan saat melihat perubahan di wajah Hanggini. Gadis itu mendadak terlihat murung dengan mata berkaca-kaca. "Iya, iya, aku pake sekarang!" Dewangga kembali meraih baju tersebut dan dengan cepat membuka pakaiannya di depan Hanggini. Gadis itu langsung memalingkan wajah saat melihat otot perut Dewangga yang kencang dan dadanya yang berbulu. "Ishhh! Ngapain juga buka baju di depan aku! Malu-maluin!" "Udah!" Dewangga berdiri di depan Hanggini sambil berkacak pinggang. Seolah memamerkan ketampanannya saat memakai baju pemberian Hanggini. "Jelek! Kamu emang nggak cocok pake baju warna merah!" Hanggini kemudian berlalu sambil membawa pakaian renangnya. "Kamu jadi pergi berenang?" "Nggak! Mau pergi mancing!" Suara pintu yang dibanting saat Hanggini keluar kamar, membuat Dewangga otomatis terdiam. "Dasar cewek gila!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN