Purwa Manik kini berbeda. Jalanan yang dulunya sepi dan penuh ketakutan kini ramai dengan tawa anak-anak, pedagang, dan rakyat yang kembali beraktivitas. Tembok-tembok batu hitam kota terlihat lebih hangat di bawah sinar matahari pagi, seolah menyambut era baru.
Di Balairung Mandala Wulan, Arsa duduk di singgasana, dikelilingi Dewan yang kini sepenuhnya loyal. Ratu Sundari tersenyum hangat, Sri Wardana terlihat santai, dan Mayang Puspa duduk di sampingnya dengan tatapan penuh keyakinan.
“Kita telah melewati bayangan,” ucap Arsa, suaranya lembut tapi tegas.
“Sekarang saatnya membangun Taruma yang baru. Keadilan, kesejahteraan, dan cahaya hati harus menjadi landasan kita.
Arsa memimpin beberapa langkah reformasi utama:
Keadilan Transparan – Setiap keputusan Dewan diumumkan kepada rakyat. Korupsi mulai diberantas, dan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Pendidikan & Budaya – Sekolah dibuka di setiap wilayah, dan tradisi Taruma dihormati tanpa diskriminasi.
Pasukan & Perlindungan Rakyat – Pasukan loyal tidak hanya menjaga istana, tapi juga membantu pembangunan dan keamanan rakyat.
Diplomasi & Kerja Sama Klan – Semua klan kini bekerja sama, memahami bahwa kekuatan Taruma ada pada persatuan, bukan pertentangan.
Ratu Sundari menatap Arsa dengan penuh kekaguman.
“Kau telah menunjukkan bahwa raja bukan hanya pemegang pedang, tapi pelindung hati rakyat.”
Harmoni Rakyat
Arsa turun ke pasar kota. Ia menyapa rakyat, mendengar keluhan mereka, dan memastikan setiap kebutuhan terpenuhi. Senyum dan rasa aman mulai menyebar ke setiap sudut Purwa Manik.
Seorang pedagang tua menunduk hormat.
“Yang Mulia… kau telah membawa cahaya kembali ke kota ini.”
Arsa tersenyum, lembut.
“Kita semua bagian dari Taruma. Ini kemenangan kita bersama, bukan hanya satu orang.”
Anak-anak bermain di jalanan, mengibarkan bendera kecil Taruma, dan rakyat mulai mengingat masa depan yang damai dan penuh harapan.
Masa Depan Taruma
Di Balairung Mandala Wulan, malam itu Arsa berdiri di balkon. Cahaya bulan memantul di tembok-tembok batu, memberi kilau lembut yang menenangkan.
Sri Wardana menepuk pundak Arsa.
“Yang Mulia, Taruma aman dan rakyatnya bahagia. Kau telah membawa era baru.”
Arsa menatap lambang Dharma Taruma di dadanya, cahaya biru berpendar.
“Ini bukan akhir perjuangan, tapi awal dari era baru. Taruma tidak lagi ditentukan oleh darah atau dendam… tapi oleh hati, keberanian, dan kesetiaan kita semua.”
Ratu Sundari tersenyum, menunduk hormat.
“Raja Cahaya Bayangan… kau membawa Taruma ke zaman yang penuh harapan.”
Dan di bawah sinar bulan yang lembut, Purwa Manik berdiri kokoh—simbol sejarah, luka, pengampunan, dan cahaya baru. Arsa Wijaya, Raja Cahaya Bayangan, menatap masa depan dengan tekad: Taruma akan bersinar abadi, bukan dari pertumpahan darah, tapi dari persatuan hati rakyatnya.
---
Epilog
Beberapa tahun telah berlalu sejak Arsa Wijaya dinobatkan sebagai Raja Cahaya Bayangan. Purwa Manik kini hidup dalam kedamaian yang jarang terjadi sepanjang sejarah kerajaan Taruma.
Sekolah-sekolah telah berkembang pesat, para pemuda belajar tidak hanya seni perang, tapi juga seni kepemimpinan, diplomasi, dan ilmu pengetahuan. Pasukan kerajaan tidak hanya menjaga istana, tapi juga membantu pembangunan jalan, irigasi, dan melindungi rakyat dari ancaman luar.
Di Balairung Mandala Wulan, Arsa duduk dengan Ratu Sundari di sisi kanannya. Dewan yang dulu penuh intrik kini bekerja harmonis. Sri Wardana tersenyum sambil membahas rencana pengembangan wilayah timur, sedangkan Mayang Puspa menyiapkan program pelatihan spiritual dan kesehatan bagi rakyat.
Rakyat mengingat masa-masa sulit, tapi kini mereka menyebut Arsa sebagai raja yang lahir dari hati, bukan darah semata.
Seorang anak kecil, yang baru belajar membaca, menatap lambang Dharma Taruma di d**a Arsa.
“Yang Mulia, apakah kau benar-benar cahaya?” tanya sang anak polos.
Arsa tersenyum, menunduk, dan mengelus kepala anak itu.
“Cahaya itu ada di hati setiap orang, Nak. Aku hanya menyalakannya agar Taruma selalu terang.”
Di luar istana, Purwa Manik bersinar di bawah sinar matahari pagi. Jalanan ramai, anak-anak bermain, dan bendera Taruma berkibar di angin. Semua melihat masa depan yang damai, kuat, dan penuh harapan.
Legenda Raja Cahaya Bayangan pun lahir—bukan dari peperangan atau pertumpahan darah, tapi dari pengampunan, kebijaksanaan, dan keberanian untuk memimpin dengan hati.
Di dalam catatan sejarah Taruma, nama Arsa Wijaya selalu diingat: Raja yang mengubah bayangan menjadi cahaya, dan membawa rakyatnya ke era baru yang abadi.
Dan di setiap sudut Purwa Manik, rakyat masih menceritakan kisahnya—kisah seorang raja muda, seorang anak buangan yang menjadi simbol harapan, pengampunan, dan cahaya yang tidak pernah padam.