part 11

953 Kata
Malam di Purwa Manik terasa berat. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah dan kabut tipis yang menyelimuti istana. Rakyat tidur nyenyak, tidak tahu bahwa bayangan kudeta sedang bergerak di lorong-lorong balairung. Tirta Rukmi, setelah beberapa minggu mengatur jaringan rahasia, memutuskan ini saatnya untuk langkah terakhir. Ia memanggil para pengikut setianya di ruang bawah tanah. “Kita sudah menunggu cukup lama. Malam ini, kita tunjukkan bahwa Raja Cahaya Bayangan tidak lebih dari anak gelandangan,” ucap Tirta. Seorang bangsawan muda menatap Tirta ragu. “Bagaimana jika Arsa sudah bersiap?” Tirta tersenyum dingin. “Arsa terlalu percaya diri dengan cahaya dan pengampunan. Kita akan menaklukkan hati Dewan, dan istana akan jatuh tanpa darah… atau setidaknya, itu yang kita harapkan.” Arsa Memprediksi Kudeta Di Balairung Mandala Wulan, Arsa sudah menerima laporan dari mata-mata loyalnya. Soma Dipa menatap Arsa serius. “Yang Mulia, Tirta bergerak. Semua langkahnya terpantau. Mereka akan mencoba mempengaruhi anggota Dewan dan pasukan. Ini kudeta terakhir.” Arsa menatap lambang Dharma Taruma di dadanya, cahaya biru bergetar perlahan. “Kita harus bertindak dengan tepat. Strategi, bukan reaksi. Pengampunan, bukan pembalasan.” Mayang Puspa menambahkan, “Kita harus menyiapkan pasukan loyal, tapi juga menenangkan Dewan yang mungkin ragu.” Arsa mengangguk. “Ini saatnya Taruma melihat perbedaan antara raja dari darah dan raja dari hati.” Strategi Terakhir Arsa membagi pasukannya dan pengaruhnya menjadi beberapa lini: Pengawasan Intensif – Gala Dirga memimpin tim mata-mata untuk mengikuti setiap gerak Tirta dan pengikutnya. Diplomasi Cepat – Arsa menemui anggota Dewan yang ragu, menunjukkan bukti loyalitas dan niat baiknya secara langsung. Blokade Informasi – Surat dan pesan rahasia yang bisa dimanfaatkan Tirta dipantau dan dikontrol. Patroli Terkoordinasi – Pasukan loyal bergerak diam-diam di lorong istana, siap menghadapi jika terjadi pengkhianatan fisik. Konfrontasi Politik Tirta mencoba mengirim beberapa pengikutnya untuk mempengaruhi anggota Dewan yang tidak sepenuhnya loyal. Namun, Arsa sudah bersiap. Di ruang rapat rahasia, Arsa menghadapi mereka satu per satu. “Taruma bukan tentang ambisi pribadi,” ucapnya tenang tapi tegas. “Jika kalian ingin mempertahankan kehormatan dan tanah ini, dukung aku. Jika tidak, ketahuilah bahwa setiap langkah pengkhianatan akan tertangkap—bukan dengan pedang, tapi dengan pengawasan dan logika.” Bangsawan yang awalnya ragu mulai menunduk. Tirta Rukmi tidak menyangka raja muda ini memiliki strategi lengkap yang menggabungkan kecerdikan, pengampunan, dan ketegasan. Malam itu, kudeta gagal. Tirta terpaksa mundur ke timur, meninggalkan beberapa pengikut yang tertangkap. Arsa tidak menumpahkan darah—hanya menunjukkan d******i strategi, pengaruh moral, dan ketegasan hati. Ratu Sundari menatap Arsa, tersenyum tipis. “Kau telah mengatasi bayangan dengan cahaya. Taruma selamat bukan karena pedang, tapi karena kepemimpinanmu.” Sri Wardana menepuk pundak Arsa. “Raja Cahaya Bayangan… kau membuktikan bahwa kekuatan sejati adalah hati yang tegas, kepala yang cerdas, dan keberanian untuk mengampuni.” Arsa menunduk, menatap Purwa Manik dari balkon. “Kudeta mungkin akan selalu datang, tapi selama aku memimpin dengan cahaya dan hati, Taruma akan tetap berdiri. Rakyat dan tanah ini lebih penting daripada dendam atau ambisi pribadi.” Fajar baru menyinari Purwa Manik, kali ini dengan cahaya hangat yang menembus kabut sisa hujan. Kota yang sebelumnya gelap oleh bayangan kudeta kini mulai hidup kembali. Rakyat berkerumun di jalanan, menyambut raja muda mereka. Pedagang kembali membuka toko, anak-anak bermain tanpa rasa takut, dan para tetua klan mulai mengatur urusan pemerintahan dengan lebih tertib. Arsa berdiri di balkon Balairung Mandala Wulan, memandang kota yang penuh harapan. Di sampingnya, Ratu Sundari, Sri Wardana, dan Mayang Puspa memberikan laporan perkembangan. “Yang Mulia, distribusi pangan telah stabil,” kata Mayang Puspa. “Pasukan loyal mengamankan semua titik penting,” tambah Sri Wardana. “Dewan mulai bekerja sama lebih baik, meski beberapa masih ragu,” lapor Ratu Sundari. Arsa tersenyum tipis. “Ini baru permulaan. Taruma harus bangkit tidak hanya dari bayangan kudeta, tapi dari luka rakyatnya. Kita akan menata pendidikan, keamanan, dan keadilan.” Menata Kembali Pemerintahan Arsa memulai reformasi dengan langkah-langkah berikut: Pemerataan Kekuasaan – Setiap klan mendapat peran jelas dalam pemerintahan, tetapi semua keputusan harus melalui konsultasi bersama. Pendidikan dan Kesejahteraan – Sekolah dibuka kembali, distribusi pangan diperbaiki, dan pelayanan rakyat menjadi prioritas. Pasukan Loyal & Keamanan – Pasukan loyal ditempatkan untuk menjaga keamanan, namun juga dilibatkan dalam pembangunan kota. Transparansi Dewan – Setiap keputusan Dewan diumumkan secara terbuka untuk menghindari intrik dan ketidakpercayaan. Ratu Sundari mengangguk pelan. “Kau bukan hanya raja dari darah, Arsa. Kau raja dari hati rakyat. Mereka bisa merasakan niatmu.” Arsa turun ke jalan, berbicara langsung dengan rakyat. Ia mendengar keluhan mereka, menyaksikan dampak kudeta, dan memastikan bantuan segera diberikan. Seorang ibu meneteskan air mata, memegang tangan Arsa. “Yang Mulia… kau menyelamatkan kami, bukan hanya dari perang, tapi dari ketakutan.” Arsa menunduk, lembut. “Kami semua bagian dari Taruma. Luka kalian adalah luka kerajaan. Kita akan sembuhkan bersama.” Anak-anak bermain di sekitar, tertawa, membawa harapan baru. Cahaya matahari menembus kabut, menyinari jalanan batu Purwa Manik, seolah memberkahi era baru kerajaan. Menatap Masa Depan Malam itu, Arsa kembali ke Balairung Mandala Wulan. Lampu obor menerangi wajah-wajah Dewan yang mulai sepenuhnya loyal. Sri Wardana menepuk pundak Arsa. “Yang Mulia, kita selamat. Taruma aman.” Arsa menatap lambang Dharma Taruma di dadanya, cahaya biru berpendar. “Ini bukan hanya kemenangan satu orang, tapi kemenangan semua rakyat Taruma. Dan selama aku menjadi raja, kita akan berjalan di jalan cahaya—tidak hanya dari darah, tapi dari hati, keberanian, dan pengampunan.” Ratu Sundari tersenyum, penuh pengakuan. “Raja Cahaya Bayangan… kau membawa Taruma ke era baru. Era di mana cahaya selalu mengalahkan bayangan.” Dan di bawah cahaya bulan, Purwa Manik berdiri kokoh, simbol sejarah, luka, dan harapan baru. Arsa Wijaya, Raja Cahaya Bayangan, menatap masa depan dengan tekad: Taruma akan bersinar, bukan dari darah yang tumpah, tapi dari hati yang bersatu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN