part 10

922 Kata
Purwa Manik kembali terlihat tenang dari luar. Rakyat tersenyum, anak-anak bermain di jalanan, dan para pedagang menyiapkan dagangan. Namun di balik dinding batu tinggi, istana menyimpan rahasia gelap: bayangan kudeta mulai bergerak. Beberapa anggota Dewan yang masih menyimpan dendam mulai bertemu secara diam-diam di lorong-lorong sempit, membicarakan cara untuk menggulingkan Raja Cahaya Bayangan. Tirta Rukmi, meski kalah di Gerbang Timur, tetap menjadi simbol bagi mereka. “Raja muda terlalu lembut,” bisik seorang bangsawan di ruang rahasia. “Kita bisa memanfaatkannya. Jika kita bergerak cepat, istana akan jatuh tanpa banyak darah.” Arsa Menyadari Ancaman Arsa menerima laporan dari mata-mata loyalnya. Beberapa surat rahasia dan kode yang terungkap menunjukkan adanya pertemuan gelap Dewan. Gala Dirga menatap Arsa dengan serius. “Yang Mulia, beberapa anggota Dewan masih merencanakan kudeta. Tirta Rukmi mungkin akan menggunakan mereka untuk kembali ke istana.” Arsa menunduk, tangannya menyentuh lambang Dharma Taruma. “Kita tidak akan menyerang mereka langsung. Kita akan memancing mereka keluar… dan menghadapi mereka dengan strategi, bukan darah.” Mayang Puspa menambahkan, “Kau harus berhati-hati. Jika mereka menyadari bahwa kita tahu rencana mereka, mereka bisa berubah menjadi lebih berbahaya.” Arsa mengangguk. “Benar. Ini perang pikiran. Dan aku harus menang tanpa membuat Taruma terluka.” Strategi Arsa Arsa memutuskan beberapa langkah strategis: Pengawasan Intensif – Mata-mata loyal ditempatkan di seluruh sudut istana untuk memantau gerak-gerik anggota Dewan. Informasi Terpadu – Semua laporan mata-mata dicatat dan dianalisis untuk menemukan pola dan rencana tersembunyi. Diplomasi Tersembunyi – Arsa mulai berbicara langsung dengan anggota Dewan yang ragu, membujuk mereka melalui logika dan pengaruh moral, bukan ancaman. Posisi Siaga – Pasukan loyal ditempatkan secara strategis, siap menghadapi jika kudeta benar-benar dimulai, namun tetap terlihat damai agar tidak menimbulkan kepanikan. Konfrontasi Pertama Malam itu, Arsa mengundang beberapa anggota Dewan ke balairung untuk rapat resmi, meskipun ia tahu beberapa di antaranya telah bersekongkol. Saat rapat berlangsung, ia mulai menanyakan kebijakan-kebijakan kecil, mengecek loyalitas, dan menilai reaksi mereka terhadap keputusan sederhana. Seorang bangsawan menatap Arsa dengan sinis. “Yang Mulia… kau masih terlalu muda untuk memahami politik istana.” Arsa tersenyum tipis, suaranya lembut tapi tegas: “Politik bukan tentang usia, tapi tentang hati dan keberanian untuk memutuskan yang benar. Aku di sini bukan untuk menyenangkan siapa pun, tapi untuk memastikan Taruma tetap utuh.” Bangsawan itu terdiam. Mata semua yang hadir menatap Arsa dengan berbeda—tak ada ketakutan, tapi ada rasa hormat yang baru muncul. Bayangan Kudeta Mulai Surut Dengan strategi dan kecerdikannya, Arsa berhasil membuat beberapa anggota Dewan yang bersekongkol ragu dan mulai mempertanyakan loyalitas Tirta Rukmi. Ratu Sundari menatap Arsa dengan mata bangga: “Kau bukan hanya raja dari darah, tapi raja dari hati dan pikiran. Mereka yang ingin berkhianat mulai menyadarinya.” Sri Wardana menepuk pundak Arsa. “Ini baru permulaan. Tapi kau sudah menunjukkan siapa yang memimpin Taruma.” Arsa menunduk, menyadari bahwa ancaman masih ada, tapi ia berhasil menyalakan cahaya harapan di tengah bayangan kudeta. Beberapa minggu setelah kudeta yang gagal, Tirta Rukmi muncul kembali dari timur, tersembunyi di balik kabut pagi. Ia tidak lagi memimpin pasukan terbuka, tapi membentuk jaringan rahasia yang bergerak seperti bayangan. Di sebuah benteng tersembunyi, Tirta berbicara kepada para pengikut setianya: “Kita tidak bisa menghadapi Raja Cahaya Bayangan secara langsung. Taruma bukan hanya milikmu dan aku. Kita harus bergerak diam-diam. Kita akan memanfaatkan ketidakpercayaan di Dewan.” Seorang bangsawan muda yang setia padanya bertanya: “Bagaimana kita memulai, Tirta?” Tirta tersenyum dingin. “Biarkan mereka menatap cahaya Arsa. Sementara itu, kita bekerja di balik bayangan. Tidak ada darah yang harus jatuh… untuk sekarang.” Pergerakan Bayangan Di Purwa Manik, Arsa sudah mencium gelagat ini. Mata-mata loyal melaporkan gerak-gerik yang aneh: Beberapa anggota Dewan diam-diam bertemu di malam hari Surat-surat rahasia yang dikirim ke wilayah timur mulai kembali dengan kode baru. Rakyat tertentu mulai menerima propaganda tentang raja muda yang “terlalu lembek.” Arsa menatap lambang Dharma Taruma di dadanya, cahaya biru bergetar. “Ini perang pikiran dan bayangan. Aku harus menang tanpa membuat darah tumpah,” gumamnya. Mayang Puspa menatap serius. “Yang Mulia… Tirta pasti mengatur sesuatu yang lebih besar. Jika kita lengah, istana bisa retak dari dalam.” Arsa mengangguk. “Kita akan bergerak lebih cepat dari bayangannya. Tapi tetap hati-hati. Setiap langkah kita harus tanpa kesalahan. Strategi Arsa Arsa mulai menata strategi baru: Mata-mata Ganda – Memasukkan beberapa agen Arsa di dalam jaringan Tirta untuk memata-matai gerakan mereka. Penguatan Moral Dewan – Mengadakan pertemuan rutin, menekankan loyalitas dan tujuan bersama untuk Taruma.Simulasi Krisis – Latihan menghadapi kudeta internal, sehingga pasukan loyal dan Dewan terbiasa menghadapi ancaman bayangan. Diplomasi dan Propaganda Positif – Menyebarkan berita keberhasilan Arsa dan kesejahteraan rakyat untuk menahan pengaruh Tirta. Pertemuan di Bayangan Malam itu, Tirta dan beberapa pengikutnya mencoba menyusup ke wilayah barat istana untuk menanamkan pesan propaganda dan menakut-nakuti pasukan loyal. Namun, mereka sudah terpantau. Gala Dirga memimpin tim pengawas, menangkap beberapa pengikut Tirta tanpa pertempuran besar. Tirta menyadari ada yang salah. Ia menarik pasukannya mundur ke kabut timur. “Kita butuh rencana lain,” gumamnya. “Raja ini… lebih cerdik dari yang kubayangkan.” Cahaya Menghadapi Bayangan Arsa berdiri di balkon Balairung Mandala Wulan, menatap langit malam. “Tirta bergerak di bayangan, tapi cahaya akan selalu menemukan celah,” bisiknya pada diri sendiri. Mayang Puspa berdiri di sampingnya. “Yang Mulia… kau bukan hanya menghadapi Tirta. Kau menghadapi semua bayangan yang mencoba menutupi Taruma. Tapi kau sudah menunjukkan bahwa cahaya bisa menembus gelap.” Arsa menunduk. Ia tahu perjuangan ini belum selesai, tapi Taruma kini memiliki raja yang siap menghadapi bayangan dengan hati, kepala, dan keberanian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN