Malam turun perlahan di Gunung Jayagiri. Di dalam Ruang Rahasia Taruma, cahaya obor menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding ukiran sejarah. Arsa berdiri di tengah—di antara dua pusaka: Kitab Emas dan Rupa Kegelapan.
Di belakangnya, para pengikut dan pasukan Watu Lenga bersiap menghadapi yang akan datang.
Kedatangan Mahadaru
Suara gemuruh terdengar dari atas.
Tanah bergetar. Batu bergetar. Dan dari tangga masuk, asap hitam mengepul.
Mahadaru muncul di ambang pintu, berjubah hitam, separuh wajahnya dibungkus kain, matanya memerah menahan luka. Tapi yang paling mengejutkan:
Di sisinya, berdiri seorang tua berjubah raja…
Purnawarman.
Atau lebih tepatnya: roh-nya, dibangkitkan oleh Sihir Gelap Bayangan.
Tirta Rukmi menegang. “Dia sudah mulai memanggil para raja mati…”
Mahadaru tersenyum dingin. “Mereka tidak ingin tidur lagi. Mereka ingin... membalas.”
Duel Dua Pewaris
Pasukan segera bertempur. Saka berlari ke belakang untuk menjaga jalur keluar. Kirana dan Gala bertempur di barisan depan. Lodra menciptakan kabut pelindung dengan asap ramuan. Resa Langit memanggil petir dari langit-langit gua, memantul di dinding batu.
Tapi pusat dari semuanya adalah Arsa dan Mahadaru.
Cakra Dharma menyala di tangan Arsa, sementara Mahadaru menggunakan tongkat bayangan, senjata dari roh kegelapan yang memanjang seperti tombak.
Mereka bertarung di depan patung Purnawarman, sementara roh sang raja melayang di antara mereka—membisikkan kutukan dan dendam.
Kebenaran yang Terungkap
Dalam pertempuran itu, Arsa tiba-tiba terjatuh ke tanah, kepalanya menyentuh Rupa Kegelapan. Seketika, matanya tertutup, dan ia kembali melihat visi:
- Mahadaru muda, berlutut di hadapan Purnawarman.-
“Anakku, kau terlalu liar untuk menjadi raja. Kutinggalkan takhta padamu, tapi kutarik kembali setelah melihat kemarahanmu. Kau akan menjadi penjaga perbatasan.”
Mahadaru menjerit, “Aku anak sah! Kau tidak bisa menghapusku begitu saja!”
Purnawarman hanya menunduk, penuh rasa bersalah.
Arsa bangkit perlahan, memandang Mahadaru yang mengerang marah.
“Kau... adalah putra pertama.”
Mahadaru menegang.
“Kau tidak dibuang. Kau ditolak. Itu sebabnya kau membenci takhta. Tapi aku tahu rasa itu… karena aku juga bukan anak yang diakui.”
Pilihan Terakhir
Mahadaru menyerang dengan seluruh kekuatannya. Tapi Arsa menghindar dan meletakkan Cakra Dharma ke d**a Mahadaru. Cahaya dari pusaka menyinari tubuhnya.
Di sekeliling mereka, roh para raja mulai muncul: bukan hanya Purnawarman, tapi juga para pendiri Taruma dari masa silam. Mereka mengelilingi Mahadaru dan Arsa.
“Berhentilah,” kata Arsa. “Kalau takhta ini hanya melahirkan dendam dan kutukan, biar kita hancurkan bersama.”
Arsa mengangkat Rupa Kegelapan, lalu... menghancurkannya ke batu.
Ledakan cahaya menyebar.
Semua terdorong ke belakang. Roh para raja menghilang dalam sorot cahaya yang tenang, tidak marah… tapi damai.
Mahadaru terdiam. Tongkat bayangannya hancur. Ia jatuh berlutut.
“Aku tidak ingin mati sebagai bayangan,” bisiknya.
Arsa mengulurkan tangan. “Lalu jangan. Bangkit sebagai penjaga. Seperti yang ayahmu harapkan darimu.”
****
Tiga hari setelah pertarungan di Gunung Jayagiri, kabut kutukan Taruma telah sirna. Roh-roh raja telah kembali tidur. Tapi perjuangan belum selesai.
Di atas puncak gunung, Arsa berdiri menatap matahari pagi. Di sisinya berdiri Tirta Rukmi, diam, membawa kabar baru.
“Ibukota lama Taruma… masih ada. Tapi tertutup. Dilindungi oleh klan paling setia—dan paling keras kepala—Klan Angkara Wulan. Mereka tidak mengakui pewaris selain dari jalur resmi Purnawarman. Dan… mereka tahu kau bukan itu.”
Mereka Menuju Ibukota Lama
Ibukota kuno bernama Purwa Manik, kota batu yang konon dibangun di atas sumur langit, sumber energi spiritual terbesar di tanah Taruma. Di sinilah dahulu para raja meminum air pertama sebelum dinobatkan.
“Jika kau ingin membentuk Taruma yang baru,” kata Tirta, “kau harus menyentuh air itu. Hanya raja sah yang bisa.”
Perjalanan ke sana akan melewati tiga penjagaan:
-satu Jembatan Senyap: dijaga oleh biksu buta yang menilai bukan dari wajah, tapi suara hati.-
-dua Hutan Penyesalan: pohon-pohon akan membisikkan dosa terdalam tiap orang.
-tiga. Gerbang Tertutup: batu yang hanya akan terbuka oleh kata kunci dari masa silam.
Ikatan yang Diuji
Di perjalanan, ketegangan mulai muncul kembali:
Gala Dirga mulai mempertanyakan keputusan Arsa menghampuni Mahadaru.
“Musuh tetap musuh. Ampunan adalah kelemahan.”
Kirana Paraningrat semakin menjauh. Suaranya dingin.
“Apakah kau mulai ingin menjadi raja… atau tetap penjaga bayangan?”
Tirta Rukmi mulai menunjukkan ambisi.
“Jika kau gagal, aku bisa menjadi pemegang tahta. Aku keturunan langsung dari garis panglima pertama.”
Namun, justru Soma Dipa—yang paling tua—mendekati Arsa.
“Dalam sejarah Taruma, tidak pernah ada raja yang bisa menyatukan klan tanpa kehilangan sesuatu… Hati-hati, Arsa. Kau akan diuji oleh masa lalu dan masa depan.”
Hutan Penyesalan
Mereka tiba di Hutan Penyesalan saat senja. Saat satu per satu masuk ke hutan, suara-suara mulai berbisik di telinga mereka.
Saka, si kecil, menangis—ia mendengar suara ibunya yang telah mati.
Resa Langit menggigil—ia melihat ayahnya, yang dulu ia tinggalkan saat desa mereka terbakar.
Lodra Geni mendengar jeritan murid-muridnya yang mati karena ramuan gagal.
Tapi saat Arsa masuk, hutan terdiam.
Lalu... terdengar satu suara:
“Kau tidak akan pernah jadi raja. Bahkan ibumu pun tidak yakin siapa ayahmu.”
Arsa tersenyum kecil. “Aku tidak butuh takhta. Aku hanya ingin menutup luka.”
Suara itu lenyap. Hutan pun tenang.
Satu per satu, para pengikut keluar dari hutan, lebih kuat—atau lebih terluka. Tapi kini mereka saling memahami luka masing-masing.
Gerbang Tertutup
Akhirnya mereka tiba di Gerbang Tertutup, batu besar dengan ukiran Taruma kuno. Di tengahnya ada lubang tangan dan tulisan:
"Yang bukan darah, tapi jiwa. Yang bukan warisan, tapi pilihan. Ucapkan nama yang pernah dilupakan.”
Semua saling pandang.
Arsa menghela napas dan berbisik: “Mahadaru.”
Batu bergetar.
Gerbang terbuka.