Awal Mula
Sudah hampir dua jam hujan turun membasahi bumi, namun sepertinya belum juga adanya tanda-tanda hujan akan berhenti. Awan cerah yang sebelumnya menyinari bumi kini digantikan dengan awan hitam yang semakin menambah derasnya hujan.
Hari yang kian petang membuat orang-orang disekitarnya silih berganti untuk segera pulang ke rumah. Bunyi klakson pun kian terdengar di telinga gadis berambut panjang yang masih senantiasa menunggu.
Tak lama hujan pun kian reda, tak ingin menunggu lama gadis itu pun mengambil tasnya dan segera berjalan menuju tempat parkir taxi yang biasa mangkal tak jauh dari lokasi tempat ia berdiri, rencananya gadis itu akan pulang menaiki taxi saja, namun sepertinya keinginan itu tak terlaksana, lantaran tiba-tiba saja seorang pengendara motor berhenti tepat didepannya.
tin..tin...
"Ayo pulang bareng sama aku" ajak pemuda itu
Gadis itu pun melihat kearah siapa yang pemuda itu. Dilihatnya seorang siswa dengan baju putih yang susah kotor, baju yang tak dimasukkan ke dalam celana, dan tak memakai helm serta tas sekolah yang biasa anak sekolah pakai.
Memang sudah tidak heran lagi dengan kelakuan pemuda itu, pemuda yang kerap kali membuat masalah di sekolahnya, tawuran, berkelahi sudah menjadi hal biasa baginya.
"Kamu !" pekik gadis itu
"Iya aku siapa lagi emangnya, kamu mau pulang kan ? ayo aku anterin" ucap pemuda itu
Gadis itupun masih enggan untuk menerima ajakan pemuda itu. Melihat raut wajah gadis itu, pemuda itu pun langsung turun dari motornya.
"Kok melamun, ayo aku antar, keburu malem loh, tenang aja aku nggak bakalan nyulik kamu kok"
Gadis itu pun tersadar dari lamunannya dan masih saja menolak ajakan pemuda itu
"Enggak deh makasih aku tunggu taxi aja"
"CK.. dibilangin kok ngeyel ayo aku anterin, lagian sepertinya taxi yang kamu tunggu juga nggak ada tuh, dan ini udah hampir malam nant..."
jedear....
"Akh..." teriak gadis itu sambil memegang telinganya dengan tangan kirinya, serta tangan kanannya yang tak sengaja memeluk tangan kiri pemuda itu
Melihat kelakuan gadis itu, senyuman pun timbul di sudut bibir sang pemuda itu. Baginya melihat gadis yang sedang ketakutan itu sangatlah lucu dan menggemaskan. Tersadar dengan apa yang ia lakukan, gadis itu pun melepaskan pelukannya.
"Eh, maaf aku nggak sengaja"
"Nggakpapa kok mbak"
Mendengar pernyataan pemuda didepannya pun gadis itu pun menatap pemuda di hadapannya.
"Apa kamu bilang ? mbak ?"
"Iya, mbak, kenapa ? ada yang salah ?"
"Ya salah lah saya kan guru kamu, harusnya kamu panggil saya Bu dong"peringat gadis itu yang diketahui guru dari pemuda dihadapannya
"Itu kalau disekolah, ini kan udah diluar sekolah, jadi bebas-bebas aja dong kalau aku panggil kamu mbak, lagian usia kita cuma terpaut tujuh tahun, nggak jauh kok" ucap pemuda itu sambil nyengir.
Pemuda itu bernama Raka Dwi Pangga pemuda dengan sejuta pesona mampu membuat kaum hawa naksir dengan dirinya. Siapa yang tak naksir Raka tampan, dari keluarga yang berada, dan merupakan salah satu team basket yang mengharumkan nama sekolahnya. Sedangkan gadis itu bernama Zabrina Arsita atau yang akrab disapa Rina, gadis berusia dua puluh lima tahun itu merupakan guru di sekolah tempat Raka menempuh pendidikan.
"Tapi kan..."
"Udah nggak usah banyak mikir, ayo aku anterin pulang" ucap Raka yang langsung menggandeng tangan Rina yang mau tak mau Rina pun mengikuti ajakan Raka.
Rina pun segera menaiki sport milik Raka. Dirasa sudah aman Raka pun melajukan motornya. Jangan tanya mengapa Raka bisa tahu rumah Rina, karena Raka sedari awal memang telah menyukai gurunya itu sejak awal pertemuan mereka di sebuah minimarket yang tak jauh dari rumah Raka.
Sejak saat itu dirinya pun mencoba mencari tahu kehidupan Rina dari mulai dimana ia tinggal, Rina dari keluarganya seperti apa, bahkan kebiasaan Rina pun dia tahu semuanya. Kini keduanya pun masih dalam perjalanan pulang, sedari tadi entah mengapa keduanya tidak terlibat percakapan sama sekali. Hingga tiba-tiba motor yang dikendarai Raka mogok dei dekat persawahan yang cukup sepi.
"Eh ini motornya kenapa ? mogok ya ?" tanya Rina
"Kayaknya ia deh mbak, duh mana aku nggak ngerti mesin lagi, disini juga nggak ada bengkel, sial !" ucap Raka yang menendang motornya
Akhirnya terpaksa keduanya pun jalan kaki sembari mencari bengkel didekat tempat mereka berada. Memang ada satu bengkel yang bisa memperbaiki motor seperti ini. Baru beberapa meter kaki melangkah tiba-tiba hujan pun turun kembali dengan derasnya. Sepertinya hari ini merupakan hari yang sial bagi keduanya.
"Hujan, mbak ayo kita berteduh di sana" tunjuk Raka pada gubuk yang berada area persawahan itu.
Keduanya pun berlari hingga sampailah keduanya di dalam gubuk yang mungkin biasa dipakai untuk para petani singgah.
"Huft... akhirnya" ucap Rina yang sudah lebih dulu sampai di gubuk itu dan kemudian disusul oleh Raka yang baru saja memarkirkan motornya.
Hujan pun kembali turun dengan derasnya membuat Roma semakin resah saja, pasti kedua orangtuanya sudah sangat khawatir dengan keadaannya apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul enam petang membuat perasaan Rina semakin tidak enak saja.
"Ah... aku hubungi bapak ibu dulu deh biar mereka nggak khawatir" ucapnya yang mengeluarkan ponselnya dari dalam tas namun sialnya ponselnya mati karena dirinya lupa mengisi daya di ponselnya
"Kenapa mati sih " gerutu Rina
Raka yang mengibaskan rambutnya kerena terkena air hujan itupun berinisiatif untuk meminjamkan ponselnya.
"Pakai punyaku aja mbak nih"
"Makasih ya, aku pinjem dulu"
Raka pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Namun disaat ponsel yang sudah terhubung dengan cepat Rina pun berbicara kepada orangtuanya tiba-tiba ponsel Raka pun juga ikut mati.
"Halo pak ini Rina masih di...
tut..tut...
"Loh pak halo, Pak. yah...kok mati sih !"
"Ah pake lowbat juga lagi, CK ini ponselmu makasih ya"
"Tenang mba nggak usah panik bentar lagi juga reda kok hujannya habis itu ku antar pulang" ucap Raka santai
Karena kesal Rina pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak hingga tak sadar rasa kantuk pun menghampirinya. Karena sudah tak tahan, Rina pun membaringkan tubuhnya dan mulai tidur sejenak karena dia merasa hari ini begitu melelahkan, tetapi sebelum itu dia memperingatkan Raka untuk tidak dekat-dekat dengannya.
"Ka, aku mau tidur dulu nanti kalau hujannya udah reda bangunin, awas Sampek deket-deket"
"Iya mbak tenang aja, takut amat sih aku grepe-grepe"
Rina pun melototi Raka, bisa-bisanya lelaki itu berbicara se frontal itu emang dikira dia cewe apaan. Tak ingin mengambil pusing, Rina pun mencoba untuk tidur. Sepuluh menit kemudian, Raka yang melihat Rina tidur dengan mulut sedikit terbuka itu pun semakin gemas dibuatnya Raka pun memandang wajah Rina tak bosan.
Hingga beberapa menit kemudian rasa kantuk pun turut menghampiri Raka. Raka pun memutuskan untuk tidur di kursi panjang dekat dengan Rina tidur. Keduanya pun tidur dengan lelapnya, hingga tak terasa mereka menghabiskan waktu semalam ini hanya berdua saja.
Pagi hari menyapa sinar surya yang mulai masuk ke celah fentilasi pun tak membuat keduanya terbangun. Hingga suara pintu pun terbuka dan suara alat terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup nyaring dan membuat Rina dan Raka pun terbangun kerema terkejut.
"KALIAN....!" pekik kedua orang itu