Ke Gep

1355 Kata
"KALIAN !" Ucap kedua pria yang ingin memasuki gubuk itu Sedangkan Raka dan Rina yang terkejut pun segera terbangun dan berdiri melihat siapa yang baru saja berteriak. "Ba..bapak !" pekik Rina "Pa..pa" "Hah" pekik keduanya yang melihat satu sama lain "Jadi.. itu...a.." ucapan Rina terpotong dikala salah satu dari bapak itu bertanya "Kalian ngapain disini, Raka kamu habis ngapain ? kenapa semalem nggak pulang hah !" "Pa itu..." "Kamu ngapain nduk kok disini kenapa semalam nggak pulang ? kamu tahu nggak bapak khawatir" "Pak dengerin dulu kemarin itu..." "Kalian habis ngapain ! kenapa ada disini, dan ini Raka kenapa nggak pake baju !" cecar papa Raka Kedua orang yang memergoki Raka dan Rina ialah Pak Ahmad Syarif yang diketahui orang tua dari Rina. Rina merupakan anak tunggal dari pak Syarif yang saat ini bekerja dengan orang tua Raka yang tak lain adalah pak Burhan Nur Ahmad atau yang akrab disapa Burhan. Pak Syarif memang sudah bekerja beberapa tahun ini dengan pak Burhan. Keduanya pun sudah terlihat akrab disamping pak Syarif yang bekerja sangat baik dan bisa bertanggung jawab, sifat pak Burhan pun juga tidak pernah membeda-bedakan orang dari segi materi. Walaupun hidup berkecukupan, tidak membuat Pak Burhan memiliki sifat yang sombong. Malah Burhan sendiri terkenal dermawan, dan suka membagikan rezekinya kepada orang yang membutuhkan, hal itu yang sedari dulu telah ditanamkan oleh almarhum kedua orang tua Burhan itu. Oh iya tentang sawah yang ia garap ini merupakan sawah peninggalan kedua orang tuanya untuk Burhan. Burhan memiliki seorang istri yang saat ini memiliki usaha toko kue dan seorang putri yang saat ini bekerja sebagai dokter di Jakarta. Mendengar keributan beberapa petani yang memang waktunya bekerja pun datang untuk melihat apa yang terjadi. Alangkah terkejutnya mereka melihat dua sejoli didalam sana terlebih Raka yang sampai saat ini belum juga memakai bajunya. Komentar negatif pun turut mengiringi kejadian itu walaupun hanya bisik-bisik. "Astaga itu kan anaknya pak Burhan, ngapain tuh" bisik salah satu petani "Paling habis main anu-anu liat aja keadaannya sekarang" bisik lainnya "Ih ternyata Rina gitu ya orangnya dari luar aja baik tapi dibelakang nakal juga" "Iya tuh" Begitulah bisik-bisik yang didengar oleh kedua orang tua Raka dan Rina. Rina yang melihat itupun hanya bisa menangis. "Pak percaya sama Rina, Rina nggak ngapa-ngapain Rina nggak kayak yang bapak pikirkan, percaya pak" "Bapak kecewa sama kamu Rina" deg... "Pak dengerin Rina dulu, ini nggak seperti yang bapak pikirkan" "Om dengerin om dengerin saya, saya berani sumpah nggak ngapa-ngapain" "Sudah cukup, kita selesaikan semua ini di rumah saya, pak Syarif nanti saya akan datang ke rumah anda untuk menyelesaikan masalah ini" ucap Pak Burhan "Baik pak, saya tunggu" "Untuk semuanya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, kalian tenang aja saya dan pak Syarif akan menyelesaikan masalah ini dengan segera, dan kalian bisa kembali melanjutkan pekerjaan kalian, sekali lagi saya minta maaf" "Baiklah dan kamu ayo pulang ikut papa, bikin malu aja" Akhirnya Raka pun dibawa pulang dengan Burhan dan Rina pun juga pulang dengan Syarif. Sesampai rumah, Rina pun masih saja mencoba menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. "Pak dengerin penjelasan Rina, demi apapun Rina nggak akan melakukan hal di luar batas" Mendengar keributan ibu Rina yang diketahui bernama Sukma yang semula berada di dapur pun segera menemui anak semata wayangnya itu. Ibu Sukma memiliki usaha tukang jahit baju, yang biasa dikerjakan di rumah saja. "Ada apa ini pak ? kok ibu dengar dari dapur kalian ribut-ribut" "Tanya saja dengan anak mu ini Bu, apa yang sudah dilakukan dia" "Nak, kenapa kamu kok baru pulang, semalam kamu kemana aja bapak sama ibu panik bukan main" "Bu.. hiks.. Rina.. minta maaf.. Rina semalam... a.." "Dia semalam ada sama anak pak Burhan berdua di gubuk Bu" potong pak Syarif yang sudah tak tahan "Apa ?!" "Kok bisa ? pak maksudnya gimana ? Rina kamu nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh kan, iya kan ?" "Hiks..hiks... Bu" "Jawab Rina jangan nangis !" Akhirnya Rina pun menceritakan semuanya dari awal bagaimana dirinya dan Raka bisa berada di dalam gubuk itu. Pak Syarif yang semula merah pun sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Lalu pak Syarif pun beristighfar, seharusnya dia mendengar terlebih dulu penjelasan dari sang anak tetapi yang ia lakukan malah menghakimi keduanya tanpa mengetahui kebenarannya. Tiba-tiba ponsel pun berbunyi, ponsel itu berasal dari milik pak Syarif. "Iya halo pak, baik pak saya siap pak apapun yang terbaik saja" "...." "Baik pak kami tunggu" Pembicaraan itu pun berkahir, pak Syarif pun memandang keduanya dan segera berjalan ke luar rumah entah kemana. "Pak mau kemana ?" "Bu nanti tolong siapkan makan malam, kita akan kedatangan tamu, bapak mau keluar dulu sebentar" Belum sempat menjawab pertanyaan, sang suami sudah pergi terlebih dulu meninggalkan kedua perempuan itu dengan penuh pertanyaan. Dilain tempat, ada Raka yang kini tengah dipukuli habis-habisan oleh sang papa. Ya, Burhan memang sangat tegas dan keras kepada putra bungsunya. Beliau kini tengah memukul Raka hingga terdapat luka lebam disudut bibirnya, dan jangan lupakan penampilan Raka yang lebih acak-acakan daripada sebelumnya. Hal ini bukan yang pertama kali baginya memarahi bahkan memukuli anak bungsunya itu. Semenjak duduk di bangku SMA entah mengapa Raka yang dulu terkenal pendiam menjadi semakin liar saja, suka membuat masalah dan semakin tidak bisa diatur. bugh..bugh... Pukulan terakhir berada di perut Raka. Raka yang sudah tak kuat pun terjatuh dan batuk-batuk. Sang mama yang menangis sedari tadi pun akhirnya memeluk putra bungsunya itu. "Hiks.. mas udah jangan diterusin !" ucap mama Tiwi yang memeluk anaknya dengan deraian air mata "Nggak bisa ma, anak ini memang harus dikasih pelajaran, sudah membuat kita malu, dan keluarga pak Syarif juga terkena imbasnya" "Sini kamu Raka !" Burhan yang hendak memukul Raka pun tertahan dengan sebuah tangan yang memegangnya. Sontak Raka dan mama Tiwi pun memejamkan matanya. "Stop !" Mendengar suara yang tak asing, ketiganya pun melihat ke arah sumber suara yang sangat familiar. "Sayang" "Kenapa ini pa, ma ada apa ?" tanya gadis itu Dia adalah Mentari Oktaviani, atau yang akrab disapa Tari. Tari merupakan anak pertama Burhan dan Tiwi. Mentari merupakan seorang dokter yang bekerja di Jakarta. Berbeda dari sang adik yang sangat bendel dan tidak bisa diatur, Mentari adalah anak yang pintar, disiplin, dan tidak pernah membuat orangtuanya malu, malah sebaliknya sering membuat orang tuanya bangga akan prestasinya. "Nak, kamu sudah pulang ? katanya dua hari lagi ?" tanya pak Burhan "Iya pa, kebetulan Tari bisa pulang cepet jadi ya sudah deh Tari pulang sekarang, ini kenapa sih ? kok ribut-ribut gitu" "Adik kamu tuh habis buat malu papa" "Buat malu ? Raka ngelakuin apa lagi ?" "Ma, kenapa sih ayo bangun dulu" Tari pun membantu mama Tiwi bangun dan duduk di sofa ruang tamu begitupun Raka turut duduk disebelah Mentari. "Buat malu apa sih ma, pa Raka kenapa ?" Mama Tiwi pun menjelaskan mengapa masalah ini bisa terjadi. Mentari yang sangat terkejut pun langsung menanyakan hal ini ke adiknya. "Bener itu ka ?" "Iya kak bener, tapi aku nggak ngela... " Plak... Sebuah tamparan berhasil mendarat dengan mulus di pipi kiri Raka. Kedua orangtuanya pun sedikit terkejut akan kelakuan sang putri, jujur ini baru pertama kali melihat Mentari berbuat seperti itu akan adiknya. Tapi bagi Burhan memang sudah sewajarnya Raka mendapatkannya. Mungkin ini hari yang apes bagi Raka, sudah ke gep, di pukul sang papa, ditambah lagi kena salam lima jari dari sang kakak. Lengkaplah sudah penderitaan Raka kali ini. "Lu bego ! buat malu aja sih ! lu mikir nggak sih setelah kejadian ini keluarga kita dipandang gimana sama orang-orang ?" "Terus itu cewe lu nggak mikirin perasaannya pasti hancur Raka dan karirnya pun ikut jadi taruhannya !" deg... "Benar juga gimana nasibnya mbak Rina ya ?" batin Raka. Raka yang terkejut dengan pernyataan sang kakak pun segera mengambil jaketnya lalu keluar ke rumah tanpa menghiraukan teriakan dari ketiga orang itu, yang ia pikirkan sekarang adalah keadaan Rina. Raka dengan cepat melajukan motornya menuju kediaman Rina, beberapa saat kemudian tibalah Raka di sebuah rumah sederhana milik Rina. Raka melihat Rina yang sedang duduk di depan teras dengan melamun. "Jangan sedih mbak aku janji akan selalu ada buat mbak i love you mbak Rina" Setelah puas melihat sang pujaan hati Raka pun bergegas pergi dari sana. Mau kemana lagi kalau bukan nongkrong dengan kawan-kawannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN