Dua hari setelah kemudian pada pukul sepuluh pagi kini Burhan bersama sang istri serta Mentari pun telah siap menuju rumah Pak Syarif. Tak lupa dirinya turut serta membawa si biang masalah, siapa lagi kalau bukan Raka.
Sebelumnya Burhan sudah membuat kesepakatan dengan Syarif serta istri mereka masing-masing, dengan menikahkan mereka secara sah. Burhan tidak ingin masalah ini berlarut-larut, untuk itu Burhan meminta solusi kepada kedua orang tua Rina untuk menikahkan keduanya.
Setelah terjadi perdebatan panjang, akhirnya kedua orang tua Rina pun setuju, dan masalah Raka yang masih berstatus sebagai pelajar, mereka akan menutupi pernikahan ini. Hal ini tak luput dari campur tangan Doni. Doni Eko Riyanto, atau yang akrab disapa Doni ini merupakan pemilik yayasan sekolah SMA tempat Raka bersekolah.
Doni juga merupakan sahabat dari Burhan semasa kuliah dulu. Beruntunglah Raka masih bisa bersekolah di sekolah itu tanpa harus dikeluarkan.
Kini Burhan serta istri dan kedua anaknya pun telah sampai di depan rumah Syarif.
tok..tok..tok...
"Assalamualaikum, permisi" sapa Tiwi
"Wa'alaikumsalam, oh ibu bapak silahkan masuk Bu pak"
"Terimakasih" ucap Mama Tiwi
Kini kedua keluarga pun sudah berkumpul tak lupa Rina pun turut duduk dihadapan Raka. Mentari pun kini memandang wajah Rina dengan tajam.
"Jadi ini yang mau dijodohin sama Raka, cantik juga" batin Mentari
"Baik jadi gimana pak Bu kelanjutannya ?" tanya Pak Syarif
"Oke pak sebelumnya saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga bapak dan ibu atas perilaku anak saya, saya janji hal ini tidak akan terulang lagi"
"Kami dari pihak Rina juga sudah memaafkan anak bapak pak, bu" ucap Bu Sukma
"Jadi begini karena masalah ini sudah banyak yang mengetahui bagaimana jika kita nikahkan saja keduanya, daripada mereka berbuat terlalu jauh, saya percaya dengan nak Rina, nak Rina pasti tidak akan berbuat sejauh itu, tapi saya tidak bisa percaya dengan anak saya, daripada nanti timbul fitnah bagaimana jika kita nikahkan mereka berdua ?"
deg...
"Apa nikah ?" pekik Rina dan Raka
"Iya kalian mau kan ?" tanya Mama Tiwi yang antusias
Jujur saja sejak pertama kali Tiwi bertemu dengan Rina entah mengapa wanita berumur lima puluh tahun itu sangat menyukai Rina. Padahal dia belum begitu mengenal sosok Rina seperti apa tapi mungkin naluri seorang ibu yang sayang dengan anak gadisnya, terlebih lagi keadaan Rina seperti ini dikarenakan anak lakinya yang begitu bandel. Oleh sebab itu Tiwi sangat menyukai Rina.
"Tapi pah, Raka masih sekolah baru juga masuk kelas tiga, apa lagi mbak Rina kan guru Raka, apa itu nanti nggak berpengaruh terhadap karirnya ?"
Akhirnya unek-unek yang selama ini Raka simpan ia utarakan di depan keluarganya serta keluarga Rina.
"Sudah kamu tenang aja Ka, papa sudah mengatur semuanya lagi pula pak Syarif dan ibu Sukma juga sudah setuju, tinggal kalian saja gimana ?"
Raka pun berpikir sejenak, dan menimang akan tawaran sang papa. Jujur saja dia sangat senang karena dia akan berhasil menikahi gadis pujaan hatinya. Tapi apakah Rina akan mau ?
Ah biarkan untuk kali ini saja dia egois, tak ingin membuang kesempatan emas, Raka pun menyetujuinya.
"Baik kalo gitu yang papa mau Raka siap akan menikahi mbak Rina secepatnya" ucapnya dengan tegas yang membuat Rina semakin melotot kan matanya
"Eh... tapi kan... nanti.."
"Sudah nak Rina, tenang saja saya jamin setelah kamu menikah dengan anak saya kehidupanmu dan karir mu akan aman, mau ya nak ?" bujuk Burhan
Tiwi dan Sukma yang melihat Rina masih bingung pun, mencoba membujuknya juga.
"Mau ya sayang, nikah sama anak Tante, ini demi nama baik keluarga kita"
"Iya nak, ibu mohon jangan bikin malu lagi kami terutama bapak dan ibu, sudah cukup kami dengar omongan yang tidak enak dari para tetangga nak, ibu bapak nggak pernah minta apapun kan sama kamu, tapi kali ini ibu mohon turuti lah permintaan kami ini ya" mohon sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca
Melihat surganya menangis Rina yang memang sangat tak tega oleh sang ibu pun memeluknya dan menangis di pelukan sang ibu. Perasaan yang saat ini Rina rasakan seperti buah simalakama. Jujur Rina sangatlah ingin menolak, tetapi setelah dipikir-pikir benar juga, keluarganya sudah mendapat omongan yang tidak-tidak dari para tetangga.
Rina tidak menyangka gara-gara kejadian hari itu hidup Rina akan berubah seratus delapan puluh derajat dengan menikah seorang pria yang sama sekali tidak ia cintai. Terlebih lagi Rina menikah dengan muridnya sendiri.
Akhirnya setelah mempertimbangkan Rina pun menyetujui ide gila ini. Ya, ide gila, bagaimana tidak dia harus menikah dengan muridnya sendiri. Padahal Rina pernah bermimpi untuk menikah dengan orang yang sangat ia cintai begitu pula sebaliknya, tidak seperti ini. Namun rencana pun tinggallah angan-angan, rencana yang ia impikan pun pupus sudah hanya karena lelaki nakal yang saat ini sedang diam-diam memandangnya dengan senyuman di bibirnya.
Seminggu kemudian....
Sesuai kesepakatan hari ini adalah hari dimana Mentari akan dipersunting oleh remaja tengil nan nyebelin, namun sayangnya tampan dan manis. Persiapan pernikahan yang terbilang sangat dadakan ini memang sudah di setujui oleh Syarif dan Burhan. Akad nikah kali ini diadakan di mesjid yang berada tak jauh dari lokasi rumah Rina.
Acara ini juga hanya dihadiri oleh saudara dari mempelai pria dan wanita serta beberapa pekerja milik Burhan. Saat ini Rina yang baru saja selesai di rias wajahnya tengah memandang wajahnya di cermin meja rias.
"Apa aku yakin dengan pernikahan ini ?"
"Ya Allah bukan ini yang aku mau"
Tanpa terasa bulir bening menetes di sudut matanya. Rina pun berusaha untuk tegar dan mencoba menghadapinya dengan ikhlas. Tanpa Rina tau sedari tadi Mentari yang berada dibelakangnya pun ikut prihatin. Mentari tahu perasaan Rina saat ini ia berpikir jika saja dia menjadi Rani, mungkin dia akan melakukan hal yang sama.
Mentari pun segera masuk ke dalam ruangan dan memegang pundak Rina. Rina yang menoleh pun lekas mengusap air matanya namun di cegah oleh Mentari.
"Sudah nggakpapa, kalau mau nangis-nangis aja, aku tahu kok perasaanmu gimana sekarang" ucap Tari yang langsung memeluk Rina sambil mengelus punggungnya.
Entah mengapa Rina pun kembali menangis di pelukan calon kakak iparnya itu. Rina pun menumpahkan segala keluh kesahnya melalui tangisan itu. Mentari yang bingung harus melakukan apa hanya bisa mengelus punggung calon adik iparnya itu dan berusaha menguatnya.
"Sudah nggak apa-apa jangan nangis lagi ya, sekali lagi aku atas nama adik ku minta maaf untuk semua ini, jika saja hal ini tidak terjadi pasti kamu nggak akan mengalami hal ini" Ucap Tari mengusap bulir air mata yang jatuh di pipi Rina
"Maaf ya"
"Nggakpapa mbak insyaallah aku ikhlas menerima semua ini"
"Makasih ya, aku bingung mau bilang apa lagi selain terimakasih sama kamu"
"Ya sudah kita keluar yuk sebentar lagi acara ijab akan dilaksanakan, yuk senyum jangan nangis, masih pengantin di hari jadinya nangis sih senyum dong nanti cantik ya hilang" hibur Mentari dan membuat keduanya tertawa
Rina begitu bersyukur karena kini ia memiliki kakak ipar yang baik dan pengertian, padahal kemarin Rina sempat berfikir yang tidak-tidak tentang Mentari. Melihat tatapan Mentari yang begitu mengintimidasi, ia pikir Mentari adalah gadis jahat seperti di sinetron ikan terbang. Ternyata malah sebaliknya, walau baru kenal Mentari sangat baik kepadanya dan keluarganya. Terbukti dari beberapa hari yang lalu beliau juga turut andil dengan persiapan pernikahan ini, mulai dari fitting baju, dan lain-lain.
Kini Rina pun digandeng oleh Mentari serta ibunya dilihatnya Raka yang sudah rapi dengan balutan jas berwarna putih serta kopiah dan celana nya yang senada. Membuat aura ketampanannya pun terpancar Rina dibuat terkesima sewaktu melihat ketampanan dari calon suaminya itu. Begitupun Raka yang terpesona melihat penampilan Rina yang berbeda dari biasanya.
Baju pengantin berwarna putih memanjang, serta kamen yang menghiasi seluruh tubuhnya serta balutan hijab berwarna putih menghiasi kepalanya, membuat penampilan Rina lain dari yang biasanya. Raka yang melihatnya pun terpukau dengan itu.
Acara akad nikah pun berjalan dengan lancar, Raka yang semula tegang pun berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lancar tanpa perlu pengulangan. Setelah selesai, Rina pun mencium tangan sang suami, begitupun Raka mencium kening Rina dengan penuh kasih sayang.
Malam harinya setelah selesai acara kini kedua pasang panganten baru itu tengah berada di kamar mereka. Oh iya setelah menikah Raka pun langsung memboyong istrinya untuk tinggal di rumahnya.
Malam ini Rina yang baru saja selesai bersih-bersih tengah memoles krim wajah di wajahnya. Sedangkan Raka yang baru saja selesai mandi pun terpesona memandang paras ayu istrinya itu sembari senyum-senyum sendiri. Rina yang sadar pun bertanya kepada bocilnya itu.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu ?"
"Nggakpapa cuma lagi menikmati pemandangan yang indah di depan mata aku aja" ucapnya sembari duduk di kasur miliknya
Selesai dengan rutinitas nya Rina pun berjalan ke arah Raka dengan mengambil Bantar serta selimut disampingnya, namun sebelum beranjak Raka terlebih dulu memegang tangannya.
"Loh mbak mau kemana ?"
"Tidurlah, mau ngapain lagi"
"Nggak tidur disini, di sebelahku ?" ucap Raka menepuk kasur yang masih kosong
"Nggak deh Ka, aku disana aja" tunjuk Rina di sebuah sofa kecil di dalam kamar itu
"Loh kenapa nggak disini aja ? apa kamu takut ? belum siap ?" tanya Raka yang paham maksud Rina
"Bukan gitu.. aku..."
"Aku paham kok mbak, mbak tenang aja aku nggak akan maksa mbak, janji deh aku nggak nakal, tapi mbak tidur sini ya di sebelahku, jangan disitu nanti kalau papa mama tau dipikir kita lagi berantem nanti" ucap Raka yang memang ada benarnya.
"Tapi..."
"Janji mbak aku nggak akan macem-macem serius, gini aja deh kita pake pembatas nih bantal sama guling aku taruh tengah gimana ?"
Rina pun berpikir sejenak...
"Oke deh, tapi bener ya jangan macem-macem"
"Iya janji, udah yuk tidur mbak udah jam sebelas tuh" tunjuk Raka pada jam dinding yang memang sudah menunjukkan pukul sebelas malam
Akhirnya Rina pun tidur disebelah Raka dan menarik selimut hingga sampai atas perutnya dan mulai memejamkan mata. Jujur saja dirinya sudah mengantuk sekali. Jika Rina langung tidur, lain hal dengan Raka, pria yang baru beberapa jam lalu menyandang gelar sebagai suami dari gurunya sendiri itu tengah menikmati keindahan di depan matanya. Wajah ayu, putih, mulus milik Rina pun menjadi spot favoritnya saat ini.
Mungkin bagi Rina pernikahan ini adalah nasib sial baginya, namun bagi Raka ini adalah sebuah anugrah yang tuhan berikan untuknya, ya walau harus dengan ke gep dulu. Setelah puas menikmati wajah ayu Rina, Raka pun turut menyusul mimpi sang istri yang sudah tertidur pulas dengan memeluk Rina dengan sangat erat, melewati malam yang indah bersama sang pujaan hati. Ah... nikmatnya...