Pagi ketiga Kayla di Evandro Corp dimulai lebih awal dari biasanya. Masih pukul enam tiga puluh pagi ketika ia tiba di lobby, jauh sebelum pegawai lain mulai memadati gedung pencakar langit itu. Udara di luar masih dingin, matahari bahkan belum sempurna naik. Tapi di dalam dadanya, ada kehangatan yang tumbuh perlahan—campuran antara gugup dan semangat yang belum ia mengerti sepenuhnya.
Langkahnya menuju lift terasa ringan, meski tubuhnya belum sepenuhnya terbiasa dengan ritme kerja di tempat baru ini. Ia membawa map kecil berisi catatan pelatihan hari sebelumnya, diselipkan rapi di antara lengan dan blazer pinjaman yang sudah mulai lusuh. Di dalam lift, pantulan wajahnya di dinding logam terlihat sedikit pucat, tapi matanya tetap berbinar.
Begitu tiba di lantai 20, tempat Divisi Keuangan berada, ruangan masih sunyi. Komputer belum dinyalakan, dan meja-meja masih kosong. Ia menyempatkan duduk di kursi kerjanya, menghela napas panjang, lalu membuka catatan. Pukul tujuh tepat, pintu ruangan terbuka dan suara langkah hak tinggi terdengar masuk.
“Pagi, Kayla. Rajin sekali,” ujar suara perempuan, tenang dan tegas.
Kayla langsung bangkit dan menunduk sopan. “Selamat pagi, Bu Lely.”
Lely Santika—Kepala Subdivisi Keuangan. Usianya sekitar empat puluh lima tahun, mengenakan blazer biru dongker dengan rambut disanggul rapi. Wajahnya tegas tapi tidak galak, dan sejauh ini, dialah satu-satunya atasan yang memberi kesan hangat.
“Bagus. Anak magang yang datang lebih pagi dari staf tetap selalu dapat nilai plus di sini,” katanya sambil meletakkan tas kerja di meja.
Kayla tersenyum kecil.
Tak lama kemudian, para anak magang lain mulai berdatangan. Ada empat orang selain dirinya: dua laki-laki dari universitas luar negeri, satu perempuan dari UI, dan satu dari ITB. Mereka semua tampak percaya diri, tertawa pelan saat saling menyapa, dan memakai badge nama yang dicetak rapi di blazer mereka. Sementara Kayla masih memakai nama tempel yang ditulis tangan.
Pelatihan pagi dimulai pukul delapan lewat lima belas. Materi hari ini tentang prosedur SOP keuangan internal dan cara menggunakan sistem ERP milik Evandro Corp—program yang rumit dengan interface profesional, jelas bukan software yang biasa dipelajari di kampus negeri.
Sambil duduk di deretan belakang, Kayla mencatat setiap slide presentasi dengan teliti. Sesekali, ia menoleh ke arah anak-anak magang lain yang tampak fasih dan sering melemparkan istilah teknis dalam diskusi. Tapi ia tidak iri. Ia tahu tempatnya di sini bukan karena nama kampus, tapi karena keberanian menembus pintu yang tak semua orang bisa lewati.
Hingga sebuah keheningan aneh muncul di ruangan saat pintu aula terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah tenang, sepatu hak tingginya bergema ringan di lantai marmer. Semua mata secara otomatis menoleh. Parasnya cantik, langsing, dengan rambut lurus sebahu dan riasan halus. Ia mengenakan setelan kerja warna krem muda dengan pin kecil bergambar singa emas di dadanya.
“Pagi semuanya. Saya Vina Halim, sekretaris pribadi CEO. Saya diminta menyampaikan sambutan dari Pak Rayan untuk peserta magang batch ini,” katanya, suaranya lembut namun mengandung ketegasan.
Kayla membeku.
Itulah wanita yang menjemputnya dari Lantai 45 kemarin.
Mata mereka bertemu sekejap. Hanya sepersekian detik. Namun dalam tatapan singkat itu, Kayla menangkap sesuatu yang aneh: pengenalan. Vina ingat wajahnya. Tapi tidak ada sapaan. Hanya sorot mata tajam yang seolah memindai.
Vina berbicara profesional, menyampaikan harapan perusahaan dan filosofi kerja ala Rayan Evandro—tentang ketelitian, kecepatan, dan loyalitas. Di akhir sesi, ia menyebut bahwa beberapa peserta mungkin akan ditugaskan langsung membantu proyek internal yang akan ditentukan oleh kepala divisi masing-masing.
“Tunjukkan performa kalian. Pak Rayan menaruh perhatian besar pada hasil kerja anak magang. Kalian bisa jadi karyawan tetap… atau tidak sama sekali.”
Ia menutup presentasi dengan senyum kecil, namun matanya tetap menusuk saat melirik Kayla. Lalu keluar ruangan begitu saja.
Seusai sesi, anak-anak magang berkerumun di pantry kecil untuk istirahat. Kayla memilih duduk agak jauh, membuka bekal roti isi yang dibawanya dari rumah. Ia menahan diri dari ikut obrolan seputar networking dan kampus luar negeri. Saat beberapa anak lain membahas CEO yang misterius tapi karismatik, ia diam-diam menunduk.
“Aku dengar lantai 45 itu markas pribadi Pak Rayan,” kata seorang pria magang dari Melbourne sambil menyender santai ke kulkas kecil di pantry.
“Serem banget ya. Katanya nggak boleh sembarangan ke sana,” timpal teman laki-laki dari ITB yang duduk di dekat meja camilan.
“Kenapa? Emang Pak Rayan itu galak ya? Dan kenapa kita dilarang? Kan kita juga kerja di gedung yang sama,” kata perempuan dari UI, sambil membuka botol air mineral.
Pria dari Melbourne terkekeh pelan. “Bukan soal galak, tapi katanya… dia benci diganggu. Apalagi kalau bukan staf intinya. Lantai itu kayak… ruang kerajaan. Hanya orang tertentu yang boleh masuk.”
“Dan katanya…” ucap perempuan dari ITB, suaranya agak dikecilkan, “…ada satu anak magang angkatan dua tahun lalu yang nggak sengaja naik ke sana. Sejak itu, namanya langsung dicoret dari sistem.”
“Serius?!” serempak beberapa orang bereaksi.
“Serius. Nggak tahu dibuang atau resign sendiri, tapi setelah insiden itu, nama dia nggak pernah muncul lagi di database HRD.”
Kayla hampir tersedak rotinya. Ia buru-buru meneguk air putih tanpa berkata apa-apa. Perutnya terasa menghangat aneh, seakan informasi itu menampar langsung pengalaman pribadinya kemarin.
“Kalau kata seniorku di kantor lama,” lanjut pria dari ITB, “Pak Rayan itu lebih suka kerja sendirian. Dia itu… semacam perfectionist parah. Gagal sedikit, habis. Tapi kalau kamu sampai masuk radar dia—entah itu bagus atau buruk—hidupmu pasti berubah.”
“Jadi, kalau ketemu langsung dia…?” tanya si perempuan dari UI, nada suaranya terdengar ragu-ragu tapi penuh rasa ingin tahu.
“Kalau aku sih kabur,” sahut yang lain sambil tertawa. “Daripada dilihat aja udah dingin kayak freezer.”
Kayla masih diam. Ia pura-pura sibuk menutup kotak bekalnya. Pikirannya melayang ke sorot mata dingin lelaki itu kemarin—Rayan Evandro. Tatapan yang tajam namun entah kenapa tidak bisa ia lupakan. Tatapan yang membuat jantungnya berdebar tanpa sebab logis.
Saat obrolan semakin ramai, dan guyonan makin liar, Kayla bangkit perlahan.
“Aku ke toilet dulu, ya,” katanya sopan.
Ia meninggalkan pantry tanpa menoleh, tak ingin ada satu pun dari mereka menyadari bahwa cerita soal “anak magang yang salah naik ke Lantai 45” kini bukan hanya gosip… tapi realitas yang baru saja ia alami. Dan entah kenapa, Kayla merasa ia belum benar-benar keluar dari lantai itu—meski kakinya telah turun jauh ke bawah.
Setelah makan siang, Bu Lely datang menghampiri dengan selembar kertas.
“Kayla, kamu coba kerjakan ini, ya. Tugas ringan input data transaksi bulan lalu. Lihat formatnya, pelajari dulu, kalau bingung tanya Intan—staf tetap kami,” ujarnya sambil menyerahkan lembaran.
“Siap, Bu,” jawab Kayla pelan.
“Segera selesaikan ya. Itu file penting yang diminta oleh CEO kalau bisa sore ini sudah harus selesai ya, Kayla. Jika sudah selesai langsung bawa ke ruangan saya.”
“Siap, Bu, akan segera saya selesaikan.”
Ia segera membuka file di komputer, lalu mulai mengetik. Mata dan jemarinya bekerja dengan fokus penuh. Ia memeriksa dua kali sebelum menginput, memastikan tidak ada angka yang salah. Meskipun hanya tugas sederhana, ia mengerjakannya dengan sepenuh hati.
Di ruangan lantai atas, layar monitor CCTV menampilkan rekaman dari beberapa sudut Divisi Keuangan.
Rayan Evandro berdiri di depan layar besar di ruang kerjanya yang remang-remang. Tangannya menyelip di saku celana, matanya menatap diam. Salah satu kamera menunjukkan sosok Kayla, duduk tenang di sudut ruangan, mengetik serius dengan wajah penuh konsentrasi.
“Dia?” gumam Nathan Dirgantara yang berdiri di samping Rayan, dengan dahi mengernyit.
“Dia bukan dari universitas unggulan, dan bukan anak orang berpengaruh. Tapi… kau terus pantau dia?”
Rayan tidak menjawab. Hanya satu kata yang menggantung di pikirannya:
Wajah itu.
Dan sesuatu dalam dirinya berkata, gadis itu bukan hanya ‘magang biasa’.