Langit pagi masih berwarna kelabu saat Kayla Arindya menjejakkan kakinya di lobi Evandro Corporation untuk hari keduanya. Gedung raksasa itu berdiri setegas kemarin, dingin dan megah, seolah tak mengenal kata lelah. Tapi kali ini, langkah Kayla sedikit lebih ringan meski tetap berhati-hati. Di dalam map-nya yang tertutup rapi, tak ada lagi berkas lamaran. Hanya selembar ID magang yang baru dicetak kemarin—tertulis nama lengkap dan divisi tempat ia ditempatkan: Finance – Intern.
Berbeda dari kemarin, security di depan pintu utama tidak lagi memandangnya dengan curiga. Mereka bahkan mengangguk kecil saat melihat ID di d**a kirinya. Perubahan kecil itu cukup membuat dadanya terasa hangat. Setidaknya, ia kini resmi menjadi bagian dari tempat ini—meskipun hanya setetes di antara samudra.
Lift membawanya naik ke lantai 20, tempat pusat pelatihan dan administrasi magang. Saat pintu terbuka, ruangan yang terang dan modern menyambutnya. Barisan kursi disusun rapi menghadap ke layar proyektor besar. Di sudut ruangan, beberapa pemuda dan pemudi berpakaian rapi sudah duduk sambil berbincang ringan. Suara tawa dan candaan terdengar, diselingi obrolan soal kampus, IPK, dan pengalaman lomba internasional.
Kayla menelan ludah pelan. Ia berjalan pelan ke kursi kosong di deretan belakang dan duduk diam. Blazer abu-abu pinjaman masih tampak sedikit kedodoran di bahu, tapi wajahnya berusaha tenang. Senyum dilemparkan ke siapa pun yang menoleh, meski balasannya hanya anggukan singkat.
“Kayla Arindya?” Suara wanita paruh baya memanggil dari dekat layar proyektor.
Kayla langsung berdiri. “Iya, Bu.”
Wanita itu mendekat sambil tersenyum ramah. “Saya Bu Lely, Kepala Subdivisi Keuangan. Mulai hari ini kamu di bawah pengawasan saya. Kalau ada apa-apa, langsung lapor ke saya atau staf saya ya.”
Kayla mengangguk cepat. “Baik, Bu. Terima kasih.”
Bu Lely berambut sebahu, mengenakan blazer biru tua dan sepatu hak rendah. Sorot matanya tajam, tapi senyumannya memberi sedikit kelegaan. Sosoknya tidak menakutkan, tapi juga bukan tipe yang bisa disepelekan.
Beberapa menit kemudian, briefing dimulai. Seorang trainer muda memaparkan SOP kerja di Evandro Corp: sistem presensi digital, etika komunikasi via email, hingga aturan berpakaian. Semua disampaikan dengan ritme cepat dan penuh singkatan, membuat beberapa anak magang dari universitas ternama pun terlihat kebingungan.
Kayla menyalin semua poin penting ke buku catatan kecil, tanpa henti. Tangannya bergerak cepat, matanya mengikuti proyektor seakan takut tertinggal.
Di sampingnya, seorang gadis berambut panjang menoleh. “Cepat juga nulisnya,” bisiknya.
Kayla tersenyum kecil. “Takut lupa.”
“Dari kampus mana?”
“Politeknik Negeri Depok.”
“Oh…” Gadis itu mengangguk, tapi tak menyambung obrolan. Tatapannya kembali ke layar, seolah jawaban Kayla cukup membuatnya kehilangan minat.
Di sela-sela penjelasan, beberapa staf dari HR dan perwakilan tiap divisi mulai berdatangan, memperkenalkan struktur organisasi dan jalur karier. Salah satu dari mereka adalah seorang wanita tinggi semampai dengan rambut hitam bergelombang, mengenakan rok pensil dan blouse satin putih. Wajahnya cantik—terlalu cantik untuk ruangan pelatihan yang penuh wajah gugup. Ia berdiri anggun di dekat pintu masuk, tak berkata sepatah kata pun, tapi langsung menyita perhatian.
Tatapan Kayla terpaku sejenak. Wanita itu…
Itu dia. Wanita yang semalam membawanya turun dari lantai 45.
Namanya Vina Halim. Sekretaris pribadi Rayan Evandro. Nama itu disebut dalam e-mail cc internal, dan bisik-bisik peserta magang sudah menyebutnya sejak pagi. Sosok ‘dingin cantik’ yang katanya menjadi penghubung langsung ke CEO dan hanya bicara pada orang-orang penting.
Saat Vina melangkah perlahan ke depan, suasana ruangan seolah ikut menegang. Beberapa anak magang menegakkan punggung, berusaha tampak profesional. Tapi hanya Kayla yang memperhatikan sesuatu yang lain—cara mata Vina menatap sekeliling, sekejap menahan pandangannya saat bertemu wajah Kayla.
Tatapan itu dingin. Tidak sekadar sinis. Lebih dalam—penuh pertanyaan.
Vina tak berkata apa-apa. Ia hanya menyerahkan sebuah dokumen ke meja staf HR lalu melirik jam tangan, kemudian berbalik keluar ruangan.
Namun sebelum pintu menutup, ia sempat menoleh lagi. Tatapannya terarah tepat ke arah Kayla. Seolah ingin memastikan sesuatu. Tapi detik berikutnya, ia menghilang di balik pintu.
Kayla menunduk. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
⸻
Sesi pelatihan berakhir menjelang makan siang. Beberapa peserta keluar ruangan dan membentuk kelompok kecil. Obrolan mereka kembali ringan—tentang restoran mahal di seberang gedung, dosen killer, atau pekerjaan orang tua.
Kayla berjalan pelan di belakang, tak tahu harus bergabung ke kelompok mana. Ia mengambil kotak makan dari tas dan duduk di bangku kecil dekat jendela.
Pemandangan dari lantai dua puluh memperlihatkan sebagian kota Jakarta yang sibuk. Mobil-mobil kecil seperti mainan, bergerak lambat di antara kemacetan. Tapi dari atas sini, semuanya terlihat rapi dan terkendali. Tidak seperti hidupnya.
“Hai.”
Seseorang menghampiri. Seorang pria bertubuh tinggi, mengenakan ID bertuliskan Intern – IT Division.
“Kamu sendirian?”
Kayla mengangguk.
“Boleh duduk di sini?”
“Tentu.”
Namanya Adi. Ia dari salah satu universitas swasta terkenal. Obrolannya ringan, sopan, dan tidak menyombongkan diri. Kayla sedikit lega. Setidaknya masih ada satu orang yang tak membuatnya merasa seperti alien.
Usai makan, mereka kembali ke ruangan dan mulai dibagi berdasarkan divisi. Kayla digiring ke ruang kerja divisi keuangan, bersama dua peserta magang lain. Salah satunya adalah gadis bernama Livia yang sejak awal tampak cuek pada Kayla.
Ruangan itu cukup besar, dengan meja-meja panjang, komputer, dan beberapa papan whiteboard berisi grafik. Aroma kopi dan toner printer bercampur, memberi suasana khas kantor.
Bu Lely menyambut mereka kembali. “Hari ini kalian akan mulai dari yang ringan dulu. Kayla, kamu bisa mulai dari input data laporan transaksi harian bulan lalu. Livia, tolong bantu Ario cek ulang laporan tagihan vendor. Semua file ada di shared folder.”
Kayla mengangguk. Ia segera duduk di salah satu komputer, membuka file yang dimaksud, dan mulai bekerja. Deretan angka, tabel, dan kode transaksi memenuhi layar. Tangannya bergerak pelan tapi pasti, matanya fokus dan tekun. Sesekali ia mencatat kode yang janggal, menyilang angka yang terlihat tak sinkron.
Waktu berjalan cepat. Ia bahkan tidak sadar jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
Dari kejauhan, Bu Lely melirik ke arah meja Kayla, lalu menghampiri.
“Sudah selesai?”
“Sebagian besar, Bu. Tapi saya menemukan beberapa duplikasi di file 27B dan 29A. Saya tandai pakai highlight.”
Bu Lely mengambil alih mouse, memeriksa file yang dimaksud. Ekspresinya berubah—kagum sekaligus heran.
“Hmm… bagus. Tidak semua orang langsung sadar detail seperti ini.”
Kayla tersenyum kecil. “Saya terbiasa bantu Ibu jualan pulsa dan bayar tagihan tetangga, Bu. Jadi lumayan peka sama angka.”
Kalimat itu membuat Bu Lely tertawa kecil. “Bagus. Tetap teliti seperti ini ya.”
⸻
Sementara itu, di tempat lain—lantai 45 yang gelap dan sunyi—sebuah layar monitor menampilkan ruangan divisi keuangan. Salah satu feed CCTV memfokuskan pada meja paling ujung, tempat Kayla duduk, masih menginput data dengan tatapan serius.
Seseorang duduk di kursi kulit, menatap layar tanpa bicara. Jari-jarinya menyentuh bibir, seolah berpikir.
Tatapannya tidak sekadar memperhatikan kerja.
Ia sedang menilai.