Lorong itu seperti ruang hampa—sunyi, gelap, dan terlalu mewah untuk ukuran lantai kantor biasa. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan abstrak dalam bingkai perak, dengan cahaya lampu sorot yang hanya menerangi bagian tertentu, menciptakan bayangan-bayangan aneh di sepanjang sisi. Karpet merah tua di bawah langkah Kayla terasa empuk dan mahal, seolah setiap inci lantai ini mengandung rahasia yang hanya boleh disentuh oleh mereka yang terpilih.
Map cokelat di tangannya terasa berat tiba-tiba, seakan sadar bahwa ia berada di tempat yang salah. Tapi tidak ada alarm, tidak ada satpam yang menghentikannya. Lift di belakang telah menutup, dan pintu besar berwarna hitam legam di ujung lorong menarik langkahnya seperti magnet. Tidak ada papan nama, tidak ada suara. Hanya bisikan dalam pikirannya yang terus bertanya—tempat apa ini sebenarnya?
Ia ragu untuk mengetuk. Tapi waktu terus berjalan dan map yang ia bawa—entah berisi apa—menjadi satu-satunya alasan untuk tetap melangkah. Tangannya terangkat, gemetar ringan, lalu menyentuh permukaan pintu yang dingin dan mengilap seperti obsidian.
Ketukan pertama tak terdengar. Ketukan kedua pun hanya bergaung lemah di dalam dirinya sendiri. Namun sebelum sempat ia mencoba untuk ketiga kalinya, pintu itu terbuka… dengan sendirinya.
Dari celah pintu, muncul cahaya lembut kekuningan. Ruangan di baliknya luas, dengan jendela setinggi dinding yang memperlihatkan pemandangan langit Jakarta tanpa halangan. Meja kerja dari marmer hitam berdiri di tengah ruangan, bersih dan terorganisir sempurna. Tak ada tumpukan dokumen, tak ada kekacauan. Hanya ada satu kursi kerja yang membelakangi Kayla—dan seseorang yang duduk di sana.
Punggung itu tegak, jas hitam membalut tubuh tinggi dengan postur yang tak mengizinkan kelengahan. Suara AC nyaris tak terdengar, digantikan oleh dengungan halus jam dinding digital yang menunjukkan pukul 08.17.
Kayla tak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri di ambang pintu, napasnya tercekat, dan pikirannya berteriak: keluar. Tapi tubuhnya seolah tertahan, seperti kaki yang terperangkap dalam pasir hisap.
“Masuk,” ujar suara itu.
Satu kata, dalam nada datar. Namun cukup untuk membuat bulu kuduk Kayla berdiri. Suara itu dalam, dingin, dan memiliki kekuatan yang tak bisa ditolak. Bukan suara pria tua ramah seperti Pak Adrian. Ini adalah suara seseorang yang memimpin dengan ketegasan mutlak.
Dengan langkah kaku, Kayla masuk ke dalam ruangan. Pintu menutup otomatis di belakangnya, mengejutkan hingga ia hampir menjatuhkan map.
Pria di kursi itu berputar perlahan.
Wajahnya tajam. Mata gelap menatap lurus ke arah Kayla, seakan menelanjangi isi pikirannya dalam satu kedipan. Rahangnya tegas, alisnya membentuk garis kokoh, dan kulit wajahnya bersih nyaris tanpa ekspresi. Rambut hitam disisir rapi ke belakang, kontras dengan kemeja putih yang dipadukan dasi gelap. Tak ada senyum. Tak ada tanya.
Hanya tatapan.
Kayla mematung.
Ia tahu nama itu dari artikel, berita finansial, dan cerita para senior di kampus. Rayan Evandro. CEO termuda Evandro Corp, pewaris dinasti bisnis paling disegani di Asia Tenggara. Dikenal sebagai pria jenius dengan reputasi dingin dan tak berperasaan. Banyak yang mengaguminya, lebih banyak yang takut.
Dan sekarang, ia berdiri di depan orang itu. Tanpa izin. Tanpa undangan. Di ruangan yang seharusnya tak bisa diakses siapa pun kecuali karyawan dengan level direktur ke atas.
“Siapa kamu?” tanya Rayan.
Suara itu tenang. Tapi ketenangan yang mengandung ancaman halus.
Kayla membuka mulut, namun tak ada suara keluar. Napasnya tercekat, tenggorokannya kering. Ia mengangkat map cokelat sebagai perisai, seolah benda itu bisa menjelaskan semuanya.
“S-saya… disuruh staf… membawa ini… ke ruang pelatihan,” gumamnya akhirnya, nyaris tak terdengar.
Rayan menyipitkan mata. Ia tak bergerak dari tempat duduknya, namun tatapannya mengunci Kayla seperti panah yang melesat lurus.
“Ruang pelatihan tidak ada di lantai ini.”
“Saya… saya tidak tahu, Pak. Di map tertulis ‘45’, jadi saya pikir—”
“Siapa namamu?”
“Kayla. Kayla Arindya. Saya… magang baru di Divisi Keuangan.”
Ia mengutuk dirinya dalam hati. Ini jelas kesalahan. Fatal. Tak masuk akal ada staf menyuruh magang mengantar map ke lantai 45, apalagi jika lantai ini bukan bagian dari operasional umum.
Kayla menunduk, menanti kemarahan, teguran, atau bahkan pengusiran. Tapi yang datang justru keheningan.
Rayan tak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan dari kursinya, tinggi menjulang, dan melangkah menuju jendela. Siluet tubuhnya membingkai pemandangan Jakarta yang sibuk, namun seluruh ruangan terasa membeku.
“Siapa yang menyuruhmu ke sini?” tanyanya lagi, kali ini tanpa menoleh.
“Saya… tidak tahu namanya. Hanya staf yang lewat tadi… dia tampak terburu-buru.”
Hening lagi.
Rayan mengangkat tangan dan memencet sebuah tombol di sisi mejanya. Tak lama, suara interkom terdengar.
“Vina,” ujarnya.
“Ya, Pak Rayan?” jawab suara wanita dari speaker.
“Ada magang baru nyasar ke lantai 45. Kirim seseorang ke sini. Sekarang.”
“Baik, Pak.”
Klik.
Ia berbalik, kembali menatap Kayla.
“Map itu. Letakkan di meja.”
Kayla buru-buru maju, meletakkan map dengan dua tangan, lalu mundur seolah baru saja menaruh barang suci di altar.
Rayan tidak membuka map itu. Ia hanya berdiri menatapnya beberapa detik, sebelum akhirnya berkata pelan, “Keluar.”
Suara itu bukan bentakan. Tapi juga bukan permintaan.
Kayla membungkuk kecil, berusaha mengucapkan maaf walau bibirnya nyaris tak bisa digerakkan. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu, namun sebelum sempat menyentuh gagangnya, pintu sudah terbuka—dan seorang wanita cantik berpenampilan elegan muncul di sana.
“Kayla Arindya?” tanya wanita itu datar. Rambut panjangnya terikat rapi, dan ID card bertuliskan Vina Halim – Executive Secretary tergantung di leher.
“Ya…” jawab Kayla pelan.
“Ke lift. Ikuti saya.”
Tanpa memberi waktu bicara, Vina berbalik dan melangkah cepat, seolah membawa seorang tersangka pelanggaran serius. Kayla mengejar, menunduk sepanjang jalan.
Begitu mereka masuk lift, Vina menekan tombol menuju lantai 20. Tidak berkata sepatah kata pun.
Di dalam lift, Kayla mencuri pandang ke arah wanita itu. Cantik, tajam, dingin. Entah mengapa, ia bisa merasakan penilaian dalam tatapan Vina meski wanita itu tidak menatap langsung ke arahnya.
Setibanya di lantai 20, Vina hanya berkata, “Pastikan lain kali kamu tahu ke mana harus pergi. Jangan asal naik.”
“Maaf, saya benar-benar tidak tahu…”
“Tidak semua kesalahan bisa dimaafkan dengan ketidaktahuan, Nona Kayla. Tapi… beruntung kamu tidak langsung dipecat.”
Vina berlalu tanpa menoleh lagi.
Kayla berdiri di lorong lantai 20, mencoba menenangkan napasnya. d**a masih berdebar. Tangannya dingin. Tapi lebih dari itu—ada sesuatu dalam tatapan Rayan Evandro yang tak bisa ia lupakan.
Tatapan yang seolah mengenali dirinya. Bukan sekadar orang asing yang nyasar, tapi seolah… ada yang tertinggal di dalam dirinya, dan pria itu melihatnya.
Ia tak tahu apa.
Tapi firasatnya berkata: pertemuan itu bukan yang terakhir.