“Ivanka.”
Ivanka yang baru saja melangkah pun langsung berhenti. Dia mengalihkan pandangan, menatap ke arah Safira yang tengah berlari ke arahnya. Dia pun menunggu gadis yang tampak begitu ceria.
“ Selamat pagi,” sapa Safira dengan raut wajah ceria.
“Pagi,” sahut Ivanka. “Aku lihat hari ini kamu begitu bersemangat, Safira. Ada apa? Apa ada hal baik yang terjadi denganmu?”
“Tidak ada. Hanya saja hari ini aku cukup bersemangat karena ada tamu undangan di mata kuliah kita hari ini. Mereka bilang kalau tamu hari ini adalah orang penting dan juga memiliki begitu banyak usaha. Katanya juga dia seorang pria. Makanya aku bersemangat untuk datang,” jelas Safira.
Ivanka yang mendengar hanya bisa tertawa kecil. Sahabatnya memang selalu seperti itu, ceria. Dia jarang sekali melihat Safira menunjukkan raut wajah sedih. Apalagi jika sudah menyangkut seorang pria. Safira bukanlah seorang wanita pemain. Dia hanya menunjukkan reaksi berbeda ketika mendengar ada seorang pria yang tampan.
“Ivanka, kira-kira Kamu sudah tahu siapa tamu undangannya?” tanya Safira.
Ivanka pun menggelengkan kepala dan menjawab, “Tidak. Sepertinya tamu kali ini cukup rahasia.”
“Aku jadi semakin penasaran. Apa dia benar-benar tampan atau hanya rumor saja?” Safira memasang raut wajah berpikir, mencoba mencari jawaban untuk rasa penasarannya.
“Sudah, jangan dipikirkan. Nanti juga kamu akan tahu. Lebih baik sekarang masuk karena sebentar lagi mata kuliah akan dimulai,” ucap Ivanka mengingatkan.
Safira pun hanya bergumam pelan. Keduanya langsung memasuki ruang belajar, mencari tempat untuk duduk. Meski di dalam ruangan sudah mulai riuh karena semua membicarakan topik yang sama. Kamu undangan untuk pembicara mata kuliah kali ini. Sebenarnya Ivanka pun juga penasaran, seperti apa sosok yang begitu dinantikan para mahasiswa.
“Ivanka, sudah datang.”
Ucapan Safira membuat lamunan Ivanka buyar. Dia pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke arah yang sama dengan teman sekelasnya. Tepat saat manik matanya melihat sosok yang begitu dikenal, membuatnya langsung membeku.
‘Kenzo,’ gumam Ivanka dengan perasaan tidak karuan. Dia pun menelan saliva, membasahi tenggorokan yang tiba-tiba saja kering.
Sedangkan Kenzo yang melihat Ivanka hanya diam. Dia masih teringat dengan ucapan gadis itu yang akan bersikap tidak mengenalnya. Kejadian yang berada di depan ruang kelas pun berhenti, menuliskan nama dan kembali menatap ke arah para mahasiswa.
“Nama saya Kenzo. Saya yakin kalian semua sudah mengenal saya. Jadi, sepertinya saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Selama pelajaran, kalian bisa memanggilku dengan nama saja. Bagaimanapun jarak usia kita juga tidak terpaut jauh,” ucap Kenzo dengan penuh percaya diri.
Ivanka yang melihat Kenzo berdiri di hadapannya pun hanya bisa terdiam, sesekali mengalihkan pandangan. Entah kenapa saat manik matanya bertemu dengan pandangan pria itu, hatinya kembali tidak karuan. Ivanka menyadari, masih ada cinta yang tertinggal untuk pria itu. Hal yang tidak boleh dibiarkan begitu saja.
“Kak, apa kamu sudah memiliki kekasih?”
“Kekasih?” Kenzo langsung mengalihkan pandangan, menatap ke arah Ivanka berada. Tanpa mengalihkan pandangan dia kembali melanjutkan ucapannya, “mengenai pertanyaan ini, saya akan menjawab setelah kelas berakhir. Sekarang kita akan fokus dengan pembahasan kali ini.”
Ivanka yang ditatap begitu dalam pun hanya bisa terdiam. Ingatannya kembali mengulang kejadian beberapa hari yang lalu, di mana Kenzo menyentuh tubuhnya. Pria itu juga yang pertama mengambil kesuciannya. Mengingat semua itu membuat Ivanka merasa tidak karuan.
“Ivanka, kenapa wajahmu memerah?” tanya Safira yang sejak tadi memperhatikannya.
Ivanka pun mengalihkan pandangan dan langsung menjawab, “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa suasana di sini sedikit panas.” Dia pun mulai mengipas wajahnya dengan tangan, berusaha menormalkan detak jantung dan juga raut wajahnya. Ivanka benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena sudah mengingat kejadian panas yang seharusnya dia lupakan.
“Mahasiswi yang mengenakan baju hitam.”
Ivanka benar-benar tidak fokus sama sekali. Saat Kenzo memanggilnya, dia bahkan tidak mendengar. Dia masih sibuk mengupas wajahnya.
Safira yang melihat pun langsung menyikut sang sahabat, membuat Ivanka menatap ke arahnya.
“Kamu dipanggil,” ucap Safira pelan.
Ivanka yang sadar jika sejak tadi tidak memperhatikan pelajaran pun mulai bangkit, menatap ke arah Kenzo takut. Sesekali dia mengalihkan pandangan, menatap teman sekelas yang mulai memperhatikannya. Dia benar-benar malu dan memilih menundukkan kepala.
“Siapa namamu?” tanya Kenzo.
“Ivanka Fradella,” jawab Ivanka pelan.
“Apakah hari ini sarapanmu tidak enak sampai suaramu begitu lirih?”
Ivanka yang mendapat sindiran itu pun kembali berkata, “Ivanka Fradella.” Kali ini dia menyebutkan namanya dengan cukup keras.
“Ivanka. Apa pendapatmu tentang pembahasan yang baru saja saya terangkan? Apa kamu setuju?”
“Setuju,” jawab Ivanka. Sebenarnya dia tidak mendengarkan Kenzo dari tadi.
Kenzo yang mendengar jawaban itu pun tersenyum sinis. Dia meletakkan selembar kertas di meja dan berkata, “Saya bahkan belum menjelaskan apapun. Itu menandakan kalau selama saya berdiri di sini, kamu tidak mendengarkan sama sekali. Apa yang kamu sibukkan di belakang? Melamun, mengobrol?”
Ivanka benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya tertutup rapat dengan kepala ditundukkan. Ini adalah pertama kalinya dia dipermalukan di dalam kelas.
“Kalau begitu, saya ingin bertanya. Zaman semakin sulit, seseorang juga rela mengorbankan apapun hanya demi uang. Jika itu anda, mengalami kesulitan, apa yang akan ada korban? Kerja keras, keringat atau moralitas?”
Mendengar pertanyaan itu semakin menusuk hati Ivanka. Dia yakin Kenzo sengaja menanyakan hal itu dengannya. Pria itu sedang menyindirnya, membuat Ivanka semakin terdiam. Bisikan di belakang membuat Ivanka benar-benar tidak bisa mengangkat kepala. Lidahnya terasa kelu dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
“Lain kali, jangan melamun ketika ada yang menjelaskan. Silakan duduk dan kita lanjutkan pelajaran,” ucap Kenzo pada akhirnya.
***
“Ivanka, bagaimana kondisi kakakmu? Apa belum ada perubahan?” tanya Safira yang berjalan di sebelah Ivanka. Dia yang melihat sahabatnya hanya diam sepanjang pelajaran merasa ada yang janggal.
Ivanka mengalihkan pandangan, menatap ke arah Safira dan menjawab, “Belum. Keadaannya masih sama.”
“Aku harap kakakmu segera membaik.”
Ivanka hanya menganggukan kepala. Pikirannya masih terfokus dengan ucapan Kenzo beberapa menit yang lalu. Padahal kelas sudah berakhir. Sekarang saja Ivanka sedang menuju ke arah pintu gerbang kampus.
“Ivanka, apa kamu mengenal Pak Kenzo?” tanya Safira.
“Kenapa kamu tanya begitu?” Ivanka balik bertanya, merasa aneh karena sahabatnya tiba-tiba menanyakan hubungannya dan Kenzo.
“Waktu di kelas tadi, entah kenapa aku merasa kalau kalian sudah mengenal sebelumnya. Apa itu benar?”
Ivanka hendak menjawab. Dia baru membuka mulut, tetapi niatnya terhenti ketika seseorang berhenti di depannya. Ivanka pun menatap ke arah sang pelaku, membuatnya terdiam dan membeku.
“Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu, Ivanka. Jadi, bisa kita bicara empat mata?”