Ivanka melangkah pelan, memasuki sebuah bangunan dengan tiga lantai. Hari ini dia harus menjalani pekerjaannya yang lain, menjadi seorang guru tambahan di sebuah lembaga bimbingan belajar. Hal ini dilakukan karena dia yang membutuhkan begitu banyak uang. Tidak hanya untuk pengobatan sang kakak, tetapi Ivanka juga membutuhkan untuk keberlangsungan hidupnya. Dia membutuhkan makan dan juga biaya kuliah.
Namun, baru saja memasuki pintu kantor, dia mendengar seseorang berteriak memanggil namanya. Ivanka pun melangkah dengan cepat, menuju ke asal suara. Di sana sudah ada seorang wanita yang tampak begitu marah.
“Di mana guru bernama Ivanka itu?”
“Ini ada apa?” tanya Ivanka yang tampak bingung. Dia pun melangkah mendekat dan berdiri di hadapan wanita tersebut. Semua yang berada di ruangan terdiam.
Sang ibu yang sejak tadi marah-marah pun langsung menatap ke arah Ivanka. Dengan tegas dia bertanya, “Apa kamu yang bernama Ivanka?”
“Iya. Saya yang bernama Ivanka,” jawab Ivanka tanpa ragu.
“Oh, jadi ini dulu yang mengajar anakku? Aku benar-benar kecewa karena sudah mencari guru les sepertimu,” ucap sang wanita.
“Apa maksudnya?” Ivanka benar-benar dibuat bingung. Keningnya berkerut dalam, tidak mengerti dengan maksud ucapan wanita itu.
Wanita di hadapan Ivanka pun langsung melempar kertas di wajah Ivanka. Wanita itu berkata, “Anakku mendapat nilai buruk karenamu. Padahal aku sudah membayar mahal untuk biaya pelajaran tambahan, tetapi hasilnya sia-sia. Aku benar-benar dibuat merugi karenamu. Sekarang juga aku mau kamu mengembalikan uang yang sudah aku keluarkan!”
Ivanka yang semakin bingung pun hanya diam. Dia memungut kertas yang bertebaran di lantai, melihat nilai yang tertulis di sana. Anak wanita itu memang mendapat nilai yang cukup rendah.
“Kembalikan uang yang sudah saya berikan atau saya laporkan lembaga bimbingan ini supaya tidak ada yang mau masuk sini lagi,” ancam sang wanita.
“Aku rasa itu tidak ada di kesepakatan. Kita tidak perlu mengembalikan uang yang sudah kamu berikan untuk biaya pendidikan anakmu. Lagi pula, masalah nilai itu bukan aku. Aku sudah berusaha sebaik mungkin menjelaskan dan memberikan pelajaran tambahan untuk anakmu, tapi kalau hasilnya masih sama coba kamu tanyakan dengannya. Selama belajar, apa dia mendengarkan?” Ivanka mulai geram dengan wanita di depannya.
“Jangan banyak beralasan. Kalau kamu benar menjadi guru, anakku tidak akan mungkin begini. Dia begini karena kamu yang tidak tegas dalam mengajarinya,” sahut sang wanita tetap keras kepala.
Ivanka hendak menjawab, tapi sebuah tangan menahannya. Ivanka pun mengalihkan pandangan dan menatap ke arah wanita yang berdiri di sebelahnya. Dia melihat ada instruksi supaya diam, membuat Ivanka mengurungkan niat.
“Kamu pergi dulu saja. Biar aku yang mengurusnya,” ucap Della—teman satu kerja Ivanka.
Ivanka pun hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepala. Dia mulai melangkah pergi, menuruti ucapan Della. Dia hanya melirik sekilas ketika Della mulai pergi.
‘Ya Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja,’ batin Ivanka.
***
“Masuk.”
Ivanka yang baru mengetuk pintu pun langsung membukanya. Beberapa menit yang lalu Della yang merupakan teman kerja sekaligus atasannya menyuruhnya untuk datang ke kantor. Jujur, Ivanka takut dengan apa yang akan wanita itu bicarakan, tetapi mau tidak mau dia harus datang.
“Duduk sini, Ivanka,” ucap Della.
“Ada apa Ibu memanggilku?” tanya Ivanka terus terang. Sejak berjalan ke arah kantor wanita itu perasaannya sudah tidak tenang. Ivanka juga tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih dalam lagi.
Namun, Della tidak langsung menjawab. Wanita itu malah balik bertanya, “Apa kamu membuat masalah dengan seseorang?”
“Aku rasa tidak,” jawab Ivanka. “Memangnya kenapa, Bu?”
“Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa banyak orang yang komplain dengan pekerjaanmu. Entah sudah berapa orang tua wali murid yang datang ke sini dan menuntut. Padahal sebelumnya pekerjaanmu begitu baik. Banyak dari mereka yang berprestasi dan juga menghasilkan nilai sempurna.”
Mendengar hal itu, Ivanka pun terdiam, merasa bingung dengan masalahnya kali ini. Dia pikir ini adalah wali murid pertama yang datang, tetapi siapa sangka bahwa sudah ada beberapa wali murid yang datang dan mengadu. Padahal selama ini Ivanka merasa tidak memiliki salah apapun.
“Ivanka, sebenarnya aku senang kamu bekerja di sini. Anak-anak juga menyukaimu, tetapi aku tidak bisa egois. Aku tidak bisa mengorbankan begitu banyak karyawan di sini. Jadi, dengan berat hati aku mengatakan kalau mulai hari ini kamu berhenti,” ucap Della.
Deg.
Ivanka yang mendengar pun langsung melebarkan kedua mata dengan mulut sedikit terbuka. Dia tidak menyangka akan ada hari seperti ini. Padahal dia masih memiliki begitu banyak tanggungan yang harus diselesaikan.
“Tolong pertimbangkan lagi, Bu. Pastikan setelah ini tidak akan ada kejadian seperti ini lagi,” kata Ivanka memohon.
“Aku pun ingin mempertahankanmu, Ivanka. Tapi semua karyawan di sini, termasuk pimpinan kita sudah membuat keputusan. Jadi, aku benar-benar minta maaf karena yang satu ini aku tidak bisa menolongmu. Semoga setelah ini kamu mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik,” sahut Della. Tampak jelas penyesalan dan juga kesedihan di wajahnya.
Ivanka yang sudah tidak memiliki kesempatan itu pun hanya bisa membuang nafas lirih. Dengan lemas Dia berkata, “Baik, Bu. Terima kasih untuk kesempatannya.”
***
“Sekarang, aku harus mencari uang ke mana lagi?” tanya Ivanka dengan diri sendiri. Raut wajahnya tampak begitu lemas, tidak memiliki semangat. Bagaimana dia bisa bersemangat? Hari ini dia baru saja kehilangan salah satu pekerjaan sampingannya. Meski masih ada pekerjaan lain, tetapi Ivanka merasa jika dari satu sumber saja tidak cukup.
Ivanka mengusap peluh yang mulai membasahi wajah. Dia mengamati sekitar, perhatikan satu persatu restoran yang ada di depannya. Sebenarnya dia juga lapar dan haus, tetapi ditahan. Hingga dia melihat ada seseorang menempelkan selebaran di dinding, membuat Ivanka langsung mendekat.
“Lowongan pekerjaan?” gumam Ivanka.
Ivanka yang melihat hal itu pun langsung meraih kertas yang baru saja ditempel dan tersenyum lebar. Dia melangkah masuk, berharap jika dia bisa bekerja hari ini juga. Dalam hati dia berterima kasih karena Tuhan memberikan jalan keluar untuk masalahnya.
Sedangkan di tempat lain Kenzo masih diam, duduk dengan tumpukan dokumen yang begitu tinggi. Sejak pagi dia sudah disibukkan dengan pekerjaan yang terasa tidak ada habisnya sama sekali. Hingga seseorang mengetuk pintu, membuat Kenzo mengalihkan pandangan.
“Kenapa kalian ke sini?” tanya Kenzo ketika melihat siapa yang datang.
Namun, Atlas dan Alvaro yang merupakan sahabat Kenzo tidak menjawab sama sekali. Keduanya malah melangkah masuk dan duduk di sofa, membuat Kenzo kembali memasang raut wajah masam. Kedatangan kedua sahabatnya membuatnya begitu kesal.
“Seharusnya kamu tersenyum karena sahabatmu ini sudah datang, Kenzo,” ucap Alvaro.
Sayangnya Kenzo masih tetap tidak bereaksi apapun. Sedangkan Atlas sejak tadi diam mulai penasaran dengan map yang ada di atas meja. Tidak biasanya Kenzo meletakkan dokumen di meja, membuatnya langsung mengambil dan membukanya.
“Ivanka Fradella,” gumam Atlas. Dia pun menatap ke arah Kenzo dan bertanya, “Kenapa ada data diri Ivanka? Bukannya dia adik dari musuh bebuyutanmu. Sammy.”