“Apa kegiatanmu hari ini, Ivanka?”
Ivanka yang baru saja menyendok makanan pun langsung berhenti. Dengan sorot mata dingin dia menatap ke arah Kenzo berada. Semalam, pria itu sudah menyiksanya dengan menidurinya tanpa belas kasih. Rasa kesal, menyesal dan kecewa mulai bercampur menjadi satu. Sayangnya dia tidak bisa lepas dari pria di depannya. Dulu, Ivanka menganggap Kenzo seperti malaikat, tetapi sekarang pria itu benar-benar seperti iblis yang mematikan. Hal yang membuat Ivanka tanpa sadar mengeraskan rahang dan menggenggam sendok dengan erat.
“Ivanka, aku bertanya denganmu,” tegur Kenzo karena Ivanka yang tidak juga menjawab.
Ivanka yang mendengar suara Kenzo mulai meninggi pun langsung tersentak kaget. Lamunannya buyar. Perasaan takut mulai menjalar karena sorot mata Kenzo yang begitu tajam, membuat Ivanka langsung menundukkan kepala.
“Aku hanya ingin ke kampus dan juga perpustakaan mencari beberapa buku,” jawab Ivanka.
Bukannya puas karena mendapat jawaban, Kenzo malah tampak kesal. Dia pun langsung mencondongkan tubuh ke arah Ivanka. Sebelah tangannya langsung meraih dagu wanita itu dan mengangkat secara perlahan, membuat kedua mata Ivanka saling bersitatap dengan Kenzo.
“Kalau aku mengajakmu bicara, jangan menunduk, Ivanka,” ucap Kenzo dengan tegas.
“Maaf,” ucap Ivanka lirih. Bayangan tentang hukuman Kenzo semalam masih tercetak jelas dalam ingatannya. Dia benar-benar takut kalau sampai Kenzo menidurinya seperti semalam.
Namun, Kenzo yang memang tidak memiliki kelembutan hanya melepas genggamannya dengan kasar. Dia kembali melanjutkan makan, membiarkan Ivanka terduduk dengan perasaan campur aduk.
Ruang makan berubah menjadi hening. Ivanka dan Kenzo menyelesaikan sarapan masing-masing. Sesekali Ivanka melihat ke arah Kenzo yang terlihat begitu berbeda. Dulu, pria itu begitu lembut dan juga tampak penyayang. Tapi sekarang, Kenzo tampak begitu beringas.
‘Selama tidak bertemu, apa yang terjadi sampai mengubahmu sampai seperti ini,’ batin Ivanka.
Dering ponsel terdengar. Ivanka yang sadar kalau itu dering ponselnya pun langsung mengambil ponsel di meja. Melihat nama Justin tertera di layar membuatnya langsung menyembunyikan ponselnya.
“Blokir nomornya,” ucap Kenzo dengan dingin.
Ivanka pun langsung menatap ke arah Kenzo. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan dan dengan tegas berkata, “Kamu tidak bisa melarangku, Kenzo. Dia sahabatku dan aku tidak akan pernah memblokirnya.”
“Aku tidak suka orang membangkang, Ivanka,” tegas Kenzo dengan sorot mata memperingatkan.
Namun, Ivanka sudah muak dengan tingkah Kenzo yang selalu melarangnya untuk tidak melakukan ini dan itu. Dia pun langsung bangkit dan meraih tas. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia membalikkan tubuh dan melangkah pergi.
“Sekali lagi kamu melangkah pergi dan belum memblokir namanya, kamu akan tahu akibatnya, Ivanka,” ucap Kenzo dengan tenang. Pria itu juga sudah menghabiskan sarapannya. Perlahan, Kenzo memundurkan tubuh dan bersandar dengan punggung kursi. Manik matanya menatap ke arah Ivan yang diam terpaku, “aku peringatkan kamu sekali lagi, Ivanka. Jangan coba membantah dan melawanku,” imbuhnya serius.
Ivanka tertawa kecil mendengar ucapan itu. Dia pun langsung membalikkan tubuh dan kembali menatap Kenzo. Pria yang dulu dia idam-idamkan sekarang sudah tidak lagi dia inginkan. Kenzo yang dicintainya bukanlah pria yang suka mengekang seperti ini. Hingga dia yang sudah terlampau kesal pun memilih membanting ponsel.
Prak.
“Aku muak denganmu, Kenzo. Aku membencimu,” ucap Ivanka. Setelah itu dia langsung mengembalikan tubuh dan melangkah lebar. Air matanya kembali mengalir, merasa kecewa dan juga sedih dengan kehidupan yang tidak berpihak padanya.
***
Ivanka menghapus air mata yang sejak tadi mengalir. Ponsel itu adalah benda penting baginya, tetapi sekarang dia sudah tidak memilikinya lagi. Padahal Ivanka sendiri tidak memiliki uang untuk membeli ponsel, membuatnya merasa frustasi. Dia harus mendengar kabar penyembuhan kakaknya setiap waktu. Kalau tidak ada ponsel, dia harus mendengar kabarnya lewat apa?
Ivanka yang sejak tadi duduk di taman pun hanya terdiam dengan kepala tertunduk. Sekarang dia sudah tidak memiliki kebebasan apapun. Dia juga tahu mengenai permusuhan kakaknya dan juga Kenzo, tetapi dia tidak menyangka kalau Kenzo masih mendendam. Sebenarnya dia juga bertanya-tanya, apakah Kenzo mengenalnya dan menganggap dirinya sebagai pengganti kakaknya? Itu sebabnya dia bertingkah kurang ajar. Hingga sebuah tisu disodorkan, membuat Ivanka mengalihkan pandangan.
“Justin,” gumam Ivanka.
“Tadi aku gak sengaja lewat dan melihatmu di sini. Itu sebabnya aku mampir sebentar,” ucap Justin.
Ivanka yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis. Dia mengambil tisu yang diberikan Justin dan mengusap air mata yang sejak tadi membasahi wajahnya. Dia mencoba menenangkan diri, mengendalikan emosi dan tidak terbawa suasana. Ivanka hanya tidak ingin sahabatnya tahu mengenai masalah yang sedang dihadapi.
“Kenapa menangis? Merindukan kakakmu?” tanya Justin.
Namun, lagi-lagi Ivanka hanya mengulas senyum tipis. Wanita itu tidak mencoba menjelaskan apapun. Dia hanya memilih diam dan menatap sekeliling. Hal itu bukan tanpa sebab. Ivanka hanya merasa takut kalau tiba-tiba ada Kenzo di sekitarnya.
Sayangnya Justin tidak mengerti hal itu. Justin pun dengan santai berkata, “Aku tahu perasaanmu, Ivanka. Tapi, aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja. Kakakmu pasti akan segera bangun dan kalian bisa bersama lagi. Kamu tenang saja, aku akan selalu berada di dekatmu. Kalau kamu membutuhkan apa, kamu bisa katakan denganku.” Setelah mengakhiri ucapannya, Justin menepuk pundak Ivanka pelan.
Ivanka pun langsung sedikit menjauh. Dia hanya mengagukan kepala dan berkata, “Terima kasih.”
Melihat tingkah Ivanka yang berbeda, Justin mulai curiga. Dia merasa kalau Ivanka sedikit menjaga jarak darinya. Hal yang membuat Justin bingung, apa dia membuat kesalahan?
“Ivanka, kenap—”
“Justin, aku harus ke kampus. Aku duluan,” sela Ivanka dengan cepat. Dia pun langsung bangkit dan melangkah lebar.
Justin yang melihat Ivanka begitu terburu-buru langsung mengerutkan kening dalam. Dia bertanya-tanya, “Dia kenapa?”
Sedangkan di sisi lain, Kenzo yang awalnya ingin mengikuti Ivanka hanya memperhatikan dari seberang jalan. Tatapannya tampak tidak suka dengan kedekatan Ivanka dan juga Justin. Sorot matanya tajam. Di bibirnya juga tidak terlihat senyum sama sekali.
“Apa kita mau mengikutinya, Tuan?” tanya Arya yang sejak tadi berada di belakang kemudi.
Namun, Kenzo hanya diam. Dia masih memperhatikan Justin yang berada tidak jauh darinya, mengamati pria itu dalam-dalam. Hingga dia yang sudah merasa puas pun mengalihkan pandangan dan menjawab, “Kita ke kantor.”
“Baik.”
Arya langsung menjalankan mobil, meninggalkan taman yang tidak jauh dari kampus Ivanka. Sesekali dia melihat Kenzo dari kaca spion. Melihat wajah dingin sang atasan membuatnya tidak berani membuka suara.
“Suruh satu orang mengikuti Ivanka. Beritahu aku apapun yang dia lakukan,” perintah Kenzo.
“Baik, Tuan,” sahur Arya, “tapi kalau saya boleh bertanya, kenapa anda mengawasinya?”
“Karena aku tidak suka wanitaku disentuh orang lain,” jawab Kenzo dengan penuh penekanan.