[12] Jangan Melawanku!

1088 Kata
“Aku harap hukuman ini bisa membuatmu ingat dengan apa-apa saja yang aku larang, Ivanka.” Ivanka yang mendengar hal itu pun hanya terdiam. Pandangannya tertuju lurus ke arah Kenzo yang sedang mengenakan pakaian. Pria itu tampak begitu tenang, tidak ada rasa bersalah sama sekali. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sama sekali, tetapi kedua tangannya mengepal, menggenggam selimut dengan cukup erat. “Kamu harus ingat, Ivanka. Kamu jangan pernah bermain-main denganku. Kamu tahu? Aku tidak suka dibantah. Kalau kamu masih tidak mau mendengarkan ucapanku, aku pastikan keluarga sahabatmu itu akan hancur.” Kenzo menekankan setiap kalimatnya, menatap tajam penuh intimidasi. Mendengar itu, Ivanka yang semula terdiam langsung melebarkan kedua mata. Dengan cepat dia berkata, “Aku akan menurutimu, Kenzo. Tapi, jangan kamu libatkan sahabatku. Mereka tidak bersalah.” “Libatkan atau tidak itu tergantung kerjamu. Kalau kamu menjadi anak yang baik dan penurut, aku pastikan keluarga mereka aman. Kalau sampai kamu membangkang, mereka akan menerima akibatnya,” sahut Kenzo tanpa belas kasih. Ivanka hanya menganggukkan kepala, tahu jika kebebasannya sudah tidak lagi ada. Dia benar-benar sepenuhnya berada dalam genggaman Kenzo. Kali ini, Ivanka benar-benar merasa tidak berdaya. Lepas dari Kenzo tidak akan semudah itu, mengingat pria itu yang begitu dominan dan penuh kuasa. Hingga suara pintu tertutup dengan keras, membuat Ivanka ya sejak tadi melamun langsung tersentak kaget. “Ya Tuhan, aku benar-benar salah mengambil keputusan. Seharusnya aku tidak menyerahkan diri dengan Kenzo,” gumam Ivanka penuh penyesalan. Dia benar-benar terjebak dalam keputusannya sendiri. Ivanka turun dari ranjang, mengenakan kimono dan melangkah ke arah meja rias. Di sana dia melihat begitu banyak bekas yang Kenzo tinggalkan. “Kalau begini, bagaimana harus menutupinya?” Ivanka bener-bener merasa frustasi. Kenzo selalu seenaknya sendiri. Malam ini, pria itu bahkan memasukinya tanpa henti. Entah sudah berapa kali Ivanka dibuat tidak berdaya oleh setiap permainan Kenzo. Ivanka sendiri menjadi penasaran, kenapa Kenzo bisa sekuat itu? Namun, belum juga Ivanka mendapat jawaban, suara pintu terbuka. Ivanka pun langsung mendongak, menatap ke arah Kenzo yang sedang melangkah masuk. Pria itu tampak dingin dengan tatapan mematikan. Hingga Kenzo berdiri di depannya, meraih tangan dan menggenggam erat. “Kenzo, aku melakukan kesalahan apa lagi?” tanya Ivanka dengan raut wajah cemas. Dia baru saja mendapat hukuman, tidak mungkin kalau Kenzo akan menghukumnya dengan hal yang sama, kan?” “Tidak perlu banyak tanya. Sekarang berdiri dan ikut aku keluar,” jawab Kenzo dengan penuh penekanan. Tangannya pun menarik tangan Ivanka dengan kasar. Mau tidak mau, Ivanka memilih untuk menurut. Dia bangkit dan melangkah dengan tergesa-gesa. Apalagi kimono tidurnya belum terpasang dengan rapi. Hanya sebelah tangan yang terbebas dan dia gunakan untuk merapikan kimononya. Sampai dia berhenti di ruang makan dan melebarkan kedua mata. ‘Apa maksudnya ini?’ batin Ivanka. Dia menelan saliva pelan, merasa tenggorokannya mulai mengering. Sedangkan Rosalind dan Vega yang saat itu sedang asyik berbincang pun langsung mengalihkan pandangan. Keduanya menatap ke arah Kenzo dan Ivanka berada. Kali ini Rosalind lebih dulu bereaksi. Wanita itu langsung bangkit, menatap ke arah Ivanka dengan sorot mata tajam. “Apa-apaan ini, Kenzo? Kenapa kamu membawa wanita jalang ini?” tanya Rosalind sembari menunjuk ke arah Ivanka berada. Ivanka yang mendengar ucapan itu pun hanya bisa terdiam. Meski dia merasa sakit hati, tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ivanka sadar dengan posisinya sekarang. Wajar kalau Rosalind menyebutnya sebagai w************n. Pasalnya, dia berada di rumah Kenzo juga karena pria itu yang memberinya uang. Ivanka juga merasa begitu hina karena sadar bahwa dia sudah menjual tubuhnya. Namun, hal berbeda ditunjukkan oleh Kenzo. Pria itu malah tersenyum sinis, menatap ke arah sang Mama dengan raut wajah mengejek. Melihat Rosalind tidak menyukai kehadiran Ivanka semakin membuatnya bahagia. Dia pun menarik kasar Ivanka, membuat wanita itu berdiri tepat di sebelahnya. Dengan sengaja, Kenzo merangkul Ivanka. “Sudah aku bilang kalau aku memiliki kekasih dan dia adalah kekasihku. Jadi, wajar kalau aku mengajaknya ke sini,” ucap Kenzo dengan enteng. Rosalind yang mendengar langsung melebarkan kedua mata. Bukan hanya wanita itu, Ivanka berdiri di sebelah Kenzo pun langsung mengalihkan pandangan. Dia benar-benar tidak terima dengan ucapan Kenzo kali ini. Kalau di depan Vega, Mungkin dia masih bisa menerima. Tapi sekarang, dia di hadapan Rosalind, Ivanka tidak ingin kembali berbohong. Di perjanjian, Kenzo juga tidak menyebutkan mengenai dirinya yang harus menjadi kekasih pria itu. Namun, saat akan mengatakan yang sebenarnya, Kenzo mencengkram buat lengan Ivanka. Ivanka yang sadar bahwa dirinya sudah tidak memiliki kebebasan apapun kembali diam. Dia tidak ingin kembali mendapat hukuman seperti sebelumnya. Kenzo semakin bahagia ketika melihat Ivanka menurun dengannya. Dia menatap ke arah sang mama dan kembali berkata, “Kalau Mama tidak suka, Mama bisa pergi. Bawa juga Vega karena aku tidak membutuhkannya.” Rosalind terdiam. Pandangannya masih tertuju ke arah Ivanka berada. Dia melihat ketakutan dari ekspresi wanita itu, tetapi Rosalind mengabaikannya. Dia memilih menatap ke arah Vega yang masih duduk diam di ruang makan. “Sarapan hari ini, mama batalkan. Mama harus pulang karena mama tidak mau makan satu meja dengan w************n,” ucap Rosalind dan langsung melangkahkan kaki. Dia pun mengambil tas di dekat Vega dan melanjutkan ucapannya, “kita pulang sekarang, Vega. Di sini terlalu bau.” Kenzo cukup mengerti dengan sindiran sang mama, tetapi dia tidak peduli sama sekali. Dia hanya menatap puas ke arah sang mama dan Vega yang mulai melangkah pergi. Hingga dorongan keras terasa, membuat Kenzo mengalihkan pandangan. “Aku tidak suka kamu mengatakan kalau aku kekasihmu, Kenzo. Dalam perjanjian kita, kamu hanya menjadikanku selingkuhan dan bukan kekasih,” ucap Ivanka dengan tegas. Dadanya tampak naik-turun, menahan emosi yang siap meledak. Sayangnya, Kenzo tidak menganggap hal itu serius. Wajahnya tampang biasa saja, tidak takut ataupun marah. Bahkan raut wajah Kenzo bisa terbilang datar dan tenang. Kakinya pun melangkah, mendekat ke arah Ivanka berada. “Jangan dekati aku,” ucap Ivanka dengan suara bergetar karena takut. Namun, bukan Kenzo namanya kalau dia menurut. Pria itu malah semakin melangkah, mendekat ke arah Ivanka. Ivanka yang melihat pun refleks memundurkan langkah. Dia menjadikan tangannya sebagai tameng supaya Kenzo tidak mendekatinya. Hingga dia membalikkan tubuh dan siap kabur. Dalam pikiran Ivanka, dia akan kembali ke kamar dan menguncinya. Dengan begitu, dia akan terbebas dari Kenzo. Sayangnya, apa yang Ivanka rencanakan tidaklah berjalan dengan lancar. Baru saja dia memunggungi Kenzo, pria itu sudah langsung meraih pergelangan tangannya. Kenzo juga langsung melangkah lebar, menarik Ivanka dalam dekapannya dalam sekali gerakan. “Kenzo, lepas!” teriak Ivanka dengan wajah memucat. Kenzo yang mendengar hal itu malah menundukkan tubuh. Dia berhenti tepat di belakang telinga Ivanka dan berbisik, “Jangan coba melawanku, Ivanka. Kalau kamu melawan, kamu akan tahu akibatnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN