“Akhirnya aku kenyang,” ucap Ivanka setelah selesai makan. Raut wajahnya tampak begitu puas dengan bibir tersenyum lebar.
Justin yang melihat hal itu pun ikut tersenyum. Manik matanya menatap ke arah Ivanka lekat. Gadis di depannya tampak begitu ceria. Justin bahkan enggan untuk mengalihkan pandangan. Dia malah berpangku tangan, memperhatikan Ivanka dalam-dalam.
“Justin, terima kasih untuk traktiran hari ini. Sekarang sudah sore dan aku harus pulang,” ucap Ivanka kembali.
“Kalau begitu, aku akan mengantar,” sahut Justin.
Namun, Ivan yang mendengar menggelengkan kepala. Dengan cepat dia berkata, “Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”
“Tidak masalah, Ivanka. Aku akan mengantarmu. Lagi pula sebentar lagi akan malam. Aku khawatir kalau nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di jalan,” kata Justin kembali.
Ivanka kembali bingung. Dia tidak mungkin mengajak Justin untuk mengantarnya ke rumah Kenzo. Pria itu pasti akan bertanya-tanya dan merasa curiga. Ivanka juga tidak ingin rahasianya yang menjadi simpanan Kenzo terungkap. Bisa-bisa dia menjadi bahan bullyan seisi kampus.
“Ivanka, kenapa diam? Ayo, aku akan mengantarmu pulang,” kata Justin kembali. Pria itu pun sudah bangkit.
Ivanka yang tidak memiliki jawaban lain pun mulai membuang nafas lirih. Ekspresi yang semula begitu khawatir, kini berubah menjadi sendu. Dengan kepala tertunduk Ivanka berkata, “Maaf, Justin. Tapi aku rasa aku ingin pulang sendiri. Aku cukup berterima kasih untuk kepedulianmu, tapi hari ini aku ingin menenangkan diri. Melihat kondisi kakakku yang tidak juga membaik benar-benar membuatku ingin merenung. Jadi, bisa aku pulang sendiri saja?”
“Aku mohon,” imbuh Ivanka ketika melihat Justin yang akan menyela.
Justin yang hendak menyahut hanya bisa membuang nafas lirih. Dia tidak tega melihat raut wajah memelas Ivanka. Hingga dia menganggukan kepala, tidak berani memaksa sahabatnya itu.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih untuk traktiran hari ini,” kata Ivanka. Dia pun langsung bangkit dan melangkah pergi.
“Kalau ada apa-apa hubungi aku,” ujar Justin masih merasa tidak tenang.
Ivanka hanya bergumam pelan. Kakinya terus melangkah, keluar dari restoran. Ada perasaan lega ketika sudah menjauh dari sahabatnya tersebut.
“Untung dia percaya,” gumam Ivanka, berulang kali mengelus dadanya.
Ivanka langsung melangkah lebar. Secepat mungkin dia harus mencari taksi untuk kembali ke rumah Kenzo. Dia pun membuka kunci ponsel untuk melihat jam. Tapi, siapa sangka kalau sudah banyak panggilan tidak terjawab dari Kenzo.
“Sial. Aku lupa mengganti pengaturan dering,” gumam Ivanka. Raut wajahnya berubah menjadi cemas. Dia takut kalau Kenzo akan marah dan menghukumnya.
Ivanka semakin mempercepat langkah, mencari taksi untuk pulang. Sayangnya, tidak ada taksi yang mau berhenti. Hal yang membuat Ivanka semakin takut.
Namun, tepat saat itu, sebuah mobil berhenti di depannya. Ivanka pun menghentikan langkah, melihat Siapa pemilik mobil tersebut. Hingga kaca terbuka, menghadirkan Arga dengan sorot mata dingin.
“Cepat naik, Nona,” perintah Arga.
Ivanka langsung menurut. Kali ini dia duduk di sebelah Arga. Menurutnya, status dia dan Arga adalah sama. Sama-sama orang yang dikendalikan Kenzo. Selain itu, Arga juga tidak menolak hal tersebut, membuat Ivanka merasa mengambil keputusan yang benar.
“Seharusnya Nona tidak pulang semalam ini,” ucap Arga sembari menjalankan mobil.
Ivanka hanya diam. Padahal dia masih menunjukkan pukul tujuh malam. Bagi Ivanka itu belum terlalu malam. Setidaknya masih dikategorikan, wajar.
“Setelah sampai rumah nanti, Saya harap Nona tidak semakin membuat Tuan marah,” ucap Arga.
“Apa Kenzo marah?” tanya Ivanka. Mendengar kalau Kenzo marah semakin membuat Ivanka takut. Jemarinya pun langsung saling bertaut dan meremas.
“Tidak marah, hanya saja kesal dan kecewa,” jawab Arga.
Bukannya mendapat jawaban yang menenangkan, Arga malah semakin membuatnya takut. Ivanka benar-benar seperti ingin berhenti bernafas saat ini juga. Padahal dia hanya keluar sampai jam tujuh malam, tetapi Kenzo sudah terdengar seperti begitu marah.
Beberapa menit setelah perjalanan, mobil yang dinaikinya berhenti. Ivanka menatap rumah yang tampak begitu sunyi. Padahal banyak anak buah yang berjaga, tetapi rumah itu seperti tidak berpenghuni. Ivanka pun seperti enggan turun dari mobil.
“Silahkan turun, Nona. Jangan semakin mempersulit diri sendiri,” kata Arga mengingatkan.
Mau tidak mau, Ivanka terpaksa membuka pintu dan keluar. Meski begitu, dia tidak langsung melangkah masuk. Berulang kali dia menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Ivanka mencoba menenangkan diri sendiri. Setelah dia merasa tenang, kakinya pun mulai terayun, memasuki rumah biar tampak begitu menyeramkan.
Ivanka menaiki satu persatu anak tangga menuju ke arah kamar. Dia yakin di sana Kenzo sudah menunggunya. Bayangan tentang kejadian semalam masih tercatat jelas dalam ingatannya. Degup jantung yang begitu keras membuat wanita semakin merasa tidak tenang. Hingga dia sudah sampai di depan pintu kamar, membuka secara perlahan dan melihat Kenzo sudah duduk dengan sorot mata tajam.
“Kenzo,” gumam Ivanka. Wajahnya sudah memucat. Tangannya juga berkeringat dingin. Entah sudah berapa puluh kali Ivanka menelan ludah, membasahi tenggorokan yang tiba-tiba saja mengering.
“Kamu mau berdiri di sana atau masuk, Ivanka?” Kenzo yang mulai tidak sabar pun langsung menegur Ivanka.
Dengan perasaan takut, Ivanka memilih masuk. Dia menutup pintu dan mendekat ke arah Kenzo berada. Tatapannya tidak beralih meski tubuhnya sudah melemah. Kalau saja tidak ada Kenzo di depannya, mungkin Ivanka sudah terduduk tak berdaya.
“Duduk di sini,” perintah Kenzo sembari menepuk paha.
Ivanka sebenarnya enggan, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Hari ini Kenzo tampak begitu menyeramkan, membuat nyali Ivanka mulai meredup. Dia pun duduk di pangkuan Kenzo dengan wajah tertekan.
Kenzo yang melihat hal itu pun tidak berusaha mengubah ekspresi. Dia malah menyapit pipi Ivanka dan memaksa wanita itu menatap ke arahnya.
“Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak dekat dengan pria di luar sana?” Kenzo bertanya dengan penuh penekanan.
Ivanka sulit untuk menjawab, membuatnya menganggukan kepala. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Melihat Kenzo yang tampak begitu menyeramkan benar-benar membuat Ivanka semakin takut.
“Kalau begitu, kenapa kamu masih bersama dengan pria selain aku?” Kenzo mulai menunjukkan foto Ivanka dan Justin yang berjalan bersama.
“Dia hanya sahabatku,” jelas Ivanka dengan suara tidak jelas.
Kenzo yang kesal pun langsung melepas gapitan dengan kasar. Dia langsung menurunkan Ivanka dari pangkuan, menarik kasar dan meletakkan di ranjang.
“Aku tidak mau dengar alasan apa pun, Ivanka. Meskipun dia sahabatmu, tetap tidak boleh. Aku tidak mengizinkanmu bersahabat dengan seorang pria,” ucap Kenzo dengan tegas.
“Tapi sahabat lamaku, Kenzo,” kata Ivanka.
“Terserah. Kalau aku bilang tidak suka, kamu tidak boleh mendekatinya. Meskipun itu sahabatmu sejak lama, kamu harus menjauhinya. Ingat, kamu sudah menjual tubuhmu denganku dan kamu tidak memiliki hak apapun dengan tubuh ini,” ujar Kenzo mengingatkan.
Ivanka yang mendengar ucapan Kenzo mulai merasa sakit hati. Dia merasa kalau cinta yang dulu tumbuh untuk pria itu perlahan berubah menjadi benci. Semua tindakan Kenzo yang mengekangnya membuat Ivanka tidak bisa melakukan apapun. Hingga Kenzo mendorong tubuhnya, membuat Ivanka terlentang di ranjang. Pria itu bahkan dengan kasar mencengkram rahangnya, membuat Ivanka hanya bisa menahan rasa sakit.
“Malam ini, puaskan aku, Ivanka,” bisik Kenzo.