“Setelah ini, kamu mau ke mana, Ivanka? Apa kamu mau ke rumah sakit menjenguk kakakmu?”
Ivanka yang ditanya pun langsung menggelengkan kepala. Dia menjawab, “Aku mau pergi ke suatu tempat, Justin. Lagi pula urusan kakakku sudah selesai semua. Aku juga sudah mengirimnya ke luar negeri untuk berobat. Dokter bilang kalau ada dokter yang bisa menyembuhkannya di luar negeri.”
“Kamu tidak ikut?” Justin menatap lekat.
Lagi-lagi Ivanka menggelengkan kepala. “Kalau aku ikut ke sana, akan semakin banyak biaya yang dikeluarkan. Jadi, sepenuhnya Aku menyerahkan urusan kakakku dengan dokternya,” jawabnya.
Justin yang mendengar penjelasan Ivanka hanya menganggukkan kepala. Dia cukup mengetahui kondisi wanita itu. Selama ini Ivanka juga tidak pernah menutupi hal apapun dari dia dan juga Safira. Semua diceritakan. Itu sebabnya Justin mengetahui segala permasalahan yang dihadapi Ivanka.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kamu gak kerja, kan?” Justin kembali tampak antusias.
Namun, Ivanka tidak langsung menjawab. Dia masih teringat dengan ucapan Kenzo yang melarangnya untuk dekat dengan seorang pria. Tapi, Justin adalah sahabatnya. Ivanka mengenal Justin jauh lebih lama ketimbang kenal dengan Kenzo. Hingga akhirnya Ivanka menganggukkan kepala.
“Ayo. Tapi, kamu harus traktir aku,” jawab Ivanka tidak kalah ceria. Bibirnya pun tersenyum lebar.
“Tenang saja, aku pasti akan mentraktirmu,” sahut Justin penuh percaya diri.
Ivanka tersenyum, menunjukkan kebahagiaan. Dia pun tanpa sadar menggenggam jemari Justin dan melangkah lebar. Langkahnya terasa begitu ringan, menuju ke arah restoran biasa mereka makan.
Namun, ada hal yang tidak diketahui Ivanka. Dari kejauhan, Kenzo sudah mengamati dalam-dalam. Setiap ekspresi Ivanka sudah terekam jelas dalam benaknya.
“Apa kamu sudah mengetahui siapa pria itu?” tanya Kenzo tanpa mengalihkan pandangan. Tatapannya masih tertuju ke arah Ivanka berada, mengamati kekasih keranjangnya.
“Dia adalah Justin. Anak tunggal dari keluarga Mehram, sekaligus penerus Rehan kelak,” jawab Arya.
“Kalau begitu, katakan dengan keluarga Mehram supaya putra tunggalnya tidak mendekati Ivanka lagi,” perintah Kenzo dengan tegas.
Arya yang mendengar hal itu pun hanya terdiam, tetapi ada keterkejutan yang dia rasakan. Tidak biasanya sang atasan begitu peduli dengan seorang wanita. Apalagi ini adalah wanita yang menjual diri dan hanya memikirkan uang. Biasanya Kenzo selalu menjauhi wanita seperti itu. Tetapi sekarang terasa beda. Kenzo seperti posesif terhadap Ivanka.
‘Apa Tuan Kenzo mulai menyukainya?’ batin Arya dengan raut wajah berpikir.
Dering ponsel terdengar. Kenzo langsung mengalihkan pandangan, menatap arah benda pipih dalam genggamannya. Melihat nama sang Mama tertera di layar, Kenzo memilih mengabaikan. Dia sudah tahu apa yang akan wanita itu katakan. Hingga dia menatap ke arah Arya dan berkata, “Kita kembali ke rumah. Ada yang mau bertamu hari ini.”
“Baik, Tuan.”
***
“Kenzo.”
Kenzo yang sedang duduk di ruang keluarga pun hanya diam. Kakinya disilang, menatap ke arah sang Mama yang baru saja masuk dengan pandangan sinis. Sepuluh menit yang lalu, Kenzo baru saja sampai rumah. Dia menebak, setelah panggilan mamanya dia, mamanya pasti akan datang. Benar saja, wanita itu sekarang sudah berdiri di hadapannya dengan raut wajah kesal.
“Kenapa tidak mengangkat panggilan mama?” tanya Rosalind mencoba untuk tetap tenang.
“Aku sedang malas berdebat dengan Mama,” jawab Kenzo dengan santai. Kali ini kedua tangannya mulai disedekapkan, menatap sang mama dengan sorot mata mengejek.
Rosalind jelas terpancing emosi. Dia ingin sekali memaki putra tunggalnya tersebut, tetapi dia masih bisa untuk menahan. Kali ini Rosalind memilih duduk dan berhadapan dengan Kenzo.
“Kenapa tiba-tiba Mama ke sini?” tanya Kenzo.
“Mama baru saja mendapat laporan kalau kamu memiliki kekasih,” jawab Rosalind.
“Pasti dari Vega, kan?” Kenzo sudah bisa menebak setiap langkah yang akan Vega lakukan. Sebelum mengakui bahwa Ivanka adalah kekasihnya, Kenzo sudah tahu kalau Vega pasti akan mengadu.
“Kenzo, Mama bukannya tidak setuju dengan pilihanmu. Tapi, menurut mama Vega adalah wanita yang tepat untukmu. Dia baik dan dari keluarga yang setara dengan keluarga kita. Selain dia, tidak ada wanita baik dan tulus sepertinya yang bisa kamu dapatkan,” ucap Rosalind dengan suara lembut. Padahal beberapa menit yang lalu dia ingin sekali marah dengan putra tunggalnya, tetapi Rosalind sadar, keras kepala Kenzo tidak mungkin akan dulu kalau dia ikut keras kepala.
“Itu menurutmu, Ma. Tapi menurutku berbeda. Aku tidak ingin menikah dengan Vega apapun yang terjadi,” tegas Kenzo.
“Apa alasanmu?”
“Karena aku tidak menyukainya saja.”
Segampang itu Kenzo menjawab. Dia bahkan tidak memiliki alasan khusus untuk menolak perjodohan mereka. Rosalind yang mendengar hal itu pun hanya bisa menghela nafas, kembali menahan emosi dan tetap bersabar.
“Kalau begitu, kenalkan wanita yang kamu sukai. Kalau memang dia sesuai dengan kriteria keluarga kita, mama dan papa pasti akan menerimanya.”
“Kriteria?” Kenzo ingin sekali tertawa mendengar apa yang baru saja mamanya katakan. Dia pun melanjutkan ucapannya, “aku bahkan tidak memiliki kriteria apapun. Aku juga merasa tidak perlu memenuhi ekspektasi keluarga ini tentang wanita yang aku cinta. Kalau aku merasa nyaman, aku akan menikahinya. Kalau aku tidak nyaman, aku tidak akan menikahinya. Sesimpel itu. Mama juga tidak bisa memaksakannya. Lagi pula Vega itu wanita yang berisik. Aku tidak menyukainya.”
Rosalind benar-benar kehabisan ide untuk membujuk putranya. Kenzo keras kepala dan tidak pernah takut akan apapun. Apalagi sekarang pria itu merupakan pemegang saham terbesar di perusahaan. Kenzo jelas tidak takut akan apapun. Hingga sebuah ide terlintas dalam benaknya, membuat Rosalind menatap putranya lekat.
“Bukannya kamu bilang kalau Vega itu wanita yang berisik, kan? Jadi, mama merasa memiliki ide yang bagus. Kamu bisa menjalin hubungan dengan Vega dalam enam bulan. Kalau kamu masih tetap tidak nyaman dengannya, kamu bisa mengatakan dengan mama dan Papa. Kami akan menggagalkan rencana pertunangan kalian. Saham mama di perusahaan juga akan menjadi milikmu,” ucap Rosalind.
Kenzo yang mendengar tawaran kali ini diam. Memang cukup menggiurkan. Dia tidak perlu lagi menentang keinginan kedua orangtuanya. Dia tidak perlu mendapat desakan. Papanya juga tidak akan terus-menerus memarahinya. Selain itu, dia akan semakin memiliki banyak saham di perusahaan. Hingga dia membuang napas lirih.
“Cukup menarik. Kalau begitu aku terima tawaranmu, Ma,” ucap Kenzo mantap.
“Tapi kalau kamu mulai memiliki rasa dengan Vega, kamu harus menikahinya. Selain itu, kamu juga harus menjauhi wanita yang menjadi kekasihmu. Bukan hanya itu, Kenzo. Kamu harus membuang jauh-jauh wanita itu dan jangan pernah lagi berhubungan dengannya,” tegas Rosalind serius. Dia mengulurkan tangan, tersenyum menatap putra tunggalnya. “Deal or no deal?”
Kenzo yang saat itu tidak curiga dengan mamanya pun langsung meraih tangan sang mama dan berkata, “Deal.”