‘Kenapa aku malah terjebak di keadaan seperti sekarang?’
Ivanka yang masih duduk di ruang makan hanya diam. Sudah hampir sepuluh menit dia hanya mengaduk makanannya saja, tidak berniat sama sekali untuk menyentuh sarapan di depannya. Dia hanya melirik ke arah Kenzo dan Vega secara bergantian.
“Kenapa kamu tidak makan sarapan, Sayang? Apa menu makanan hari ini kurang enak?” tanya Kenzo dengan nada suara lembut.
Ivanka yang ditanya pun langsung mengerutkan kening dalam. Tidak biasanya Kenzo berbicara lembut dengannya. Semalam saja pria itu masih bertingkah angkuh dan merendahkannya.
Vega yang melihat perhatian Kenzo langsung memutar bola mata pelan. Dengan nada sini dia berkata, “Aku tidak percaya kalau dia adalah kekasihmu, Kenzo.”
“Percaya atau tidak, aku tidak peduli karena bagaimanapun Ivanka tetaplah kekasihku,” sahut Kenzo dengan enteng.
‘Apa dia gila?’ Ivanka benar-benar ingin berteriak di depan Kenzo. Dia hanya wanita lemah dan tidak memiliki kekuasaan apapun. Melihat tampilan Vega benar-benar membuat Ivanka insecure. Dia tidak akan berani melawan wanita di depannya. Apakah sekarang Vega sedang mengamatinya dalam-dalam.
“Meski kamu kekasih Kenzo, tetapi aku yakin kalau kalian tidak akan pernah mendapat restu dari orang tuanya,” ucap Vega dengan nada serius dan penuh penekanan. Pandangannya tertuju lurus, tidak beralih sama sekali.
Ivanka melirik ke arah Kenzo, meminta bantuan pria tersebut. Tapi sayangnya, Kenzo terlihat tidak peduli. Pria itu tetap sibuk dengan sarapan. Jelas terlihat kalau Kenzo memang ingin mempersulitnya.
“Ivanka, aku harus peringatkan kamu. Lebih baik jauhi Kenzo sekarang sebelum kamu merasakan sakit hati karena aku yakin, orang tuanya tidak akan menerimamu. Mereka tidak akan mau memiliki menantu dari keluarga yang tidak jelas asal-usulnya, seperti kamu,” tegas Vega dengan serius.
“Ak—”
“Kalau kamu sudah selesai bicaranya, silahkan pergi. Aku tidak menerimamu di rumah ini,” sela Kenzo dengan cepat. Tangannya bahkan menunjukkan jalan keluar di rumahnya.
Vega yang mendengar hal itu pun menatap kesal, tidak terima karena Kenzo yang membela Ivanka. Dia pun langsung bangkit dan melangkahkan kaki. Terdengar jelas berantakan yang menunjukkan kemarahan dari wanita itu.
“Kamu tidak mengejarnya?” tanya Ivanka ketika Vega melangkah semakin jauh.
“Kamu habiskan makan dan kita pergi ke kampus bersama,” ucap Kenzo setelah Vega pergi.
“Kamu ke kampus lagi? Memang masih ada urusan di sana?” Ivanka tampak terkejut dengan ucapan Kenzo. Dia pikir pria itu hanya sekali datang ke kampusnya.
“Bukannya di kampus mah sedang ada seminar? Akulah pematerinya,” jawab Kenzo.
Apa? Mata Ivanka sedikit melebar, tidak menyangka jika Kenzo adalah pematerinya. Pasalnya di banner kampus bukan foto pria itu yang tertera. Memang, nama pun dirahasiakan. Pihak kampus mengatakan itu sebagai kejutan untuk para mahasiswa.
‘Kalau tahu dia, aku tidak akan mendaftar,’ batin Ivanka.
***
“Kamu tidak mau turun?”
Ivanka yang sejak tadi celingukan pun langsung mengalihkan pandangan. Dia menatap ke arah Kenzo yang duduk di sebelahnya. Pria itu tampak tenang, seperti tidak ada yang dipikirkan sama sekali. Hal yang membuat Ivanka menjadi kesal. Pasalnya sekarang dia sedang bingung harus bagaimana. Kenzo mengantarnya ke kampus. Kalau sampai ketahuan teman-temannya, apa yang akan mereka bicarakan?
“Kenapa kamu suka sekali melamun, Ivanka? Apa otakmu ini tidak bisa fokus sama sekali?” Kenzo yang mulai geram langsung berkata kasar, menatap Ivanka dengan kesal. “Aku sedang banyak urusan. Kalau kamu gak mau turun, lebih baik kamu di sini saja dan ikut denganku.”
“Gak mau,” sahut Ivanka dengan cepat, “aku akan turun sekarang.”
Ivanka langsung membalikkan tubuh, bersiap untuk keluar. Tapi, di saat yang sama, Kenzo meraih pergelangan tangannya. Dengan kasar pria itu menarik tubuh Ivanka, membuat Ivanka langsung terjatuh di d**a bidangnya.
“Ingat, jangan dekat dengan pria manapun karena aku tidak suka apa yang menjadi milikku disentuh sembarang orang,” bisik Kenzo tepat di telinga Ivanka.
Ivanka yang merasakan embusan napas pria itu pun merasa merinding. Dengan cepat dia menarik tubuh dan keluar dari mobil. Tanpa menoleh, dia melangkah lebar. Dalam benaknya hanya ingin pergi sejauh mungkin dari Kenzo.
“Astaga, memangnya dia siapa sampai menyuruhku menjauhi semua orang? Dasar aneh,” gumam Ivanka.
“Ivanka, kenapa kamu ngomong sendiri?”
Ivanka yang mendengar teguran itu pun langsung menghentikan langkah. Kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk senyum dan menjawab, “Tidak ada. Cuma kesal karena tadi ada hama.”
“Oh, aku pikir kamu kenapa. Kalau begitu, ayo ke kelas.”
Ivanka yang diajak Justin yang merupakan sahabatnya pun langsung mengangguk. Dia melangkahkan kaki, sesekali berbincang dengan Justin.
Di tempat yang sama, Kenzo yang melihat itu pun hanya terdiam. Tapi, tatapannya begitu dalam dengan raut wajah datar. Hingga dia mengalihkan pandangan dan berkata, “Cari tahu siapa pria itu.”
***
Vega menghentikan mobil di depan rumah keluarga Kenzo. Dia menatap sekitar, mengamati mobil yang masih lengkap berada di parkiran. Itu menandakan kalau kedua orang tua Kenzo masih berada di rumah.
Vega menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Berulang kali dia melakukan hal itu, mencoba menenangkan diri sebelum memulai dramanya. Hingga dia yang sudah merasa siap pun membuka pintu dan turun. Ekspresi yang semula kesal kini berubah menjadi memelas. Kedua matanya juga mulai mengeluarkan air mata.
“Tante Rosalind,” panggil Vega dengan suara serak.
Rosalind yang saat itu sedang menyiram tanaman pun langsung mengalihkan pandangan, ke arah Vega yang mendekat ke arahnya. Melihat wanita itu meneteskan air mata, Rosalind pun langsung meletakkan selang. Dengan raut wajah cemas dia mendekat ke arah Vega.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Rosalind dengan nada cemas. Dia pun mendudukkan Vega di kursi taman.
“Apa ada yang menyakitimu?” Rosalind kembali bertanya. Kedua tangannya memegang jemari Vega, mencoba untuk menenangkan wanita itu.
Vega yang terus ditanya pun menarik napas dalam dan membuang secara perlahan. Dia mencoba menghentikan tangis. Beberapa kali dia mendongakkan kepala, memulai kebohongan yang begitu jelas. Sayangnya, Rosalind yang sudah terlanjur menyukai Vega tidak mempedulikannya.
“Vega, sebenarnya kenapa?” Rosalind tampak tidak sabar menunggu jawaban Vega.
“Aku rasa, pertunanganku dan Kenzo harus dibatalkan, Tante,” jawab Vega dengan suara lirih.
“Kenapa?” Rosalind tampak terkejut.
“Tadi aku ke rumah Kenzo. Terus di sana ada wanita lain. Saat aku tanya, Kenzo bilang kalau itu kekasihnya,” jawab Vega.
“Apa?” Rosalind tidak pernah mendengar masalah Kenzo yang memiliki kekasih. Hal ini benar-benar mengejutkan.
“Tapi, aku tidak masalah sama sekali, Tante. Biarkan Kenzo bersama dengan orang yang dicintainya. Terpenting dia bahagia. Ya, meski aku harus berusaha mati-matian untuk merelakan Kenzo dengan wanita lain. Aku tidak masalah,” ucap Vega dengan kepala tertunduk. Dia kembali membuang napas kasar dan mendongak, menatap ke arah Rosalind dan menunjukkan senyum dipaksakan. Dia kembali melanjutkan, “tapi Tante. Kalau aku dan Kenzo tidak jadi menikah, aku masih boleh main ke sini, kan? Aku ingin melihat kondisi Tante dan Om.”
Rosalind benar-benar merasa kasihan dengan kondisi Rosalind. Dia pun menggenggam punggung tangan Vega dengan erat dan berkata, “Kamu jangan takut. Apa pun yang terjadi, kamu akan menikah dengan Kenzo. Kami tidak menerima menantu selain kamu.”