[8] Dia Kekasihku!

1081 Kata
Di sinilah Ivanka kali ini, duduk di pinggir ranjang mengenakan lingerie yang sudah Kenzo siapkan. Raut wajahnya berubah menjadi cemas, menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Di sana ada Kenzo yang sedang membersihkan tubuh. Membayangkan seperti apa dia akan menjalani malam ini membuatnya semakin takut. ‘Ya Tuhan, apakah aku salah melakukan ini?’ batin Ivanka mulai ragu. Dia takut kalau setelah ini Kenzo akan menyakitinya. Pintu kamar mandi terbuka. Ivanka yang sejak tadi melamun pun langsung tersentak kaget. Dia mengalihkan pandangan, menatap ke arah Kenzo berada. Pria itu hanya mengenakan handuk hangat nutupi bagian bawahnya, membuat otot dadanya terlihat jelas. “Sudah selesai mengagumi tubuhku?” tanya Kenzo yang sejak tadi memperhatikan Ivanka. Ivanka yang mendengar pun langsung mengalihkan pandangan dan menelan saliva pelan. Wajahnya mulai memerah, merasa malu karena tertangkap basah. Padahal dia bukan wanita yang m***m, tetapi entah kenapa setelah melihat otot di bagian d**a Kenzo membuat pikirannya melayang. ‘Dasar,’ gerutu Ivanka dalam hati. Sedangkan Kenzo yang melihat Ivanka hanya diam pun langsung melangkahkan kaki. Ruangan yang sunyi membuat auranya tampak begitu menyeramkan. Ditambah tetapan Kenzo yang begitu dalam, membuat Ivanka yang sadar itu semakin mendekat pun memilih menundukkan kepala. “Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?” tanya Kenzo dengan suara berat. Melihat penampilan Ivanka membuatnya semakin b*******h. Ivanka yang ditanya tidak langsung menjawab. Dia masih cukup bingung dengan keputusannya kali. Dia masih ragu, takut kalau nantinya tidak bisa melepaskan diri dari pria di hadapannya. Hingga Kenzo yang tidak sabar pun mulai memegang dagu Ivanka dan mendongakkan, sehingga mata keduanya saling bersitatap. “Aku bertanya denganmu, Ivanka,” ucap Kenzo dengan penuh penekanan. “Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu? Apa kamu tidak akan menyesal? Selain itu, aku masih cukup ingat. Bukannya kamu pernah menolak tawaran ini? Kenapa sekarang malah menawarkan diri?” “Aku … aku membutuhkan uang,” jawab Ivanka dengan nada gugup. Kenzo yang mendengar hal itu pun langsung tertawa sinis. Dengan tatapan mengejek dia berkata, “Kamu sama saja dengan wanita di luar sana, Ivanka. Mata duitan.” “Terserah apa yang kamu katakan, tapi aku memiliki satu syarat sebelum kamu benar-benar menjadikanku simpanan,” ucap Ivanka. Kedua tangannya meremas sprei, berusaha untuk menenangkan hatinya. “Apa syaratnya?” tanya Kenzo. Kali ini pria itu sudah menundukkan tubuh, meletakkan kedua tangan di sisi Ivanka dan menatap lekat. Jarak keduanya tampak begitu dekat. Bahkan Ivanka bisa merasakan deru napas pria tersebut. “Aku mau kamu memenuhi semua keinginanku,” jawab Ivanka cukup hati-hati. “Aku pasti akan memenuhi semua keinginanmu asal kamu melayaniku di ranjang dengan baik.” Setelah mengatakan itu, Kenzo pun langsung mendorong tubuh Ivanka, membuat wanita itu berbaring dengan kaki menjuntai. Dia langsung melancarkan aksinya, mengecup setiap bagian tubuh wanita itu. Bahkan tidak ada yang terlewat sama sekali. Ivanka hanya bisa diam ketika mendapatkan perlakuan tersebut. Bukannya dia ingin, tapi kali ini Ivanka sedang menahan hatinya. Dia menekan dalam-dalam rasa sakit hati karena perbuatan Kenzo. Ini adalah keinginannya. Jadi, dia tidak bisa menyalahkan siapapun. “Puaskan aku malam ini dan aku akan memberimu banyak uang,” bisik Kenzo. Dia pun langsung mendekat dan mengecup bibir Ivanka. Kenzo meluapkan semua hasrat yang selama ini terpendam. Sedangkan Ivanka hanya bisa diam, merasa bingung harus membalas atau tidak. Kedua matanya pun terpejam dengan. Dalam hati dia berbisik, ‘Ya Tuhan, Maafkan hambamu ini. Aku membutuhkan uang untuk biaya pengobatan kakakku.’ *** Matahari mulai menyinari ruangan yang tampak begitu sunyi, membuat sang pemilik kamar merasa cukup terganggu. Ivanka yang masih terlelap langsung memiringkan tubuh, mencoba menghindari sinar yang sedikit mengenai wajahnya. Namun, saat baru meraih guling di sebelahnya, Ivanka terdiam. Tangannya meraba dengan pelan. Dia merasakan ada otot tubuh yang begitu kekar. Bukannya berhenti, tangan Ivanka malah semakin meraba turun. Hingga sebuah tangan menghentikannya, membuat Ivanka langsung membuka mata. “Jangan membuatnya terbangun, Ivanka,” peringat Kenzo. Ivanka yang mendengar pun langsung terkejut. Dia menatap ke arah tangan yang hendak memegang bagian sensitif tubuh Kenzo. Hingga dia yang terkejut pun langsung menarik tangan dan berkata, “Maaf, aku tidak bermaksud begitu.” Ivanka pun langsung duduk dengan raut wajah takut. Kenzo yang melihat ekspresi Ivanka hanya diam. Ketakutan Ivanka bukanlah urusannya. Dengan tenang dia duduk dan bersandar dengan kepala ranjang. Tangannya meraih dompet di sebelahnya dan mengambil sebuah kartu. “Di sini ada sepuluh juta. Kamu bisa menggunakannya,” ucap Kenzo. Ivanka benar-benar seperti wanita malam yang habis digunakan lalu dibayar. Tapi, dia membutuhkan uang. Hanya saja, kalau hanya sepuluh juta, itu akan kurang. “Kamu tidak mau?” tanya Kenzo karena Ivanka uang yang tidak juga mengambilnya. Ivanka uang mendengar hal itu langsung tersentak kaget. Tangannya pun refleks mengambil ATM di depannya. Hal yang membuat Kenzo langsung tersenyum sinis. “Kamu benar-benar berbeda dari dulu, Ivanka. Aku pikir kamu adalah gadis baik-baik dan tidak terlalu mata duitan. Tapi nyatanya kamu sama saja dengan wanita-wanita di luar sana. Selalu tunduk dengan uang dan bahkan rela menjual diri demi bisa terlihat mewah,” ucap Kenzo dengan nada merendahkan. “Kamu mengingatku?” tanya Ivanka dengan tatapan lekat. Dia terkejut karena Kenzo yang ternyata masih mengenali dirinya. Dia pikir perlakuan Kenzo yang semena-mena seperti ini karena pria itu yang lupa dengan dirinya. Kenzo pun turun dari ranjang, meraih kimono tidur di dekatnya dan mengenakan. Dia menjawab, “Aku ingat. Kami Ivanka, adik dari Sammy. Musuh bebuyutanku waktu di bangku sekolah.” Setelah mengatakan itu, Kenzo pun langsung melangkah pergi. Sedangkan Ivanka yang mendengar hanya terdiam, mematung dengan perasaan tidak karuan. Dia pendudukan kepala dan tertawa kecil. “Aku pikir dia memperlakukanku seperti ini karena tidak mengenaliku, Tapi siapa sangka dia masih mengingat,” gumam Ivanka miris. Namun, saat air matanya hendak jatuh, Ivanka langsung mendongakkan kepala. Dia berkata dengan diri sendiri, “Jangan menangis, Ivanka. Sejak awal dia memang tidak begitu dekat denganmu. Jadi, hal wajar kalau dia memperlakukanmu dengan buruk.” Suara bentakan terdengar. Ivalan yang mencoba menenangkan diri sendiri pun langsung tersentak kaget. Dengan cepat dia mengenakan kimono tidur di sebelahnya dan keluar kamar. Dia tidak memperhatikan sekitar. Hingga dia yang berada di lantai dasar pun berhenti. Pandangannya tertuju ke arah wanita yang berdiri di hadapan Kenzo. Melihat keduanya bertengkar, Ivanka pun langsung membalikkan tubuh. “Tunggu.” Ivanka yang hendak pergi pun langsung menghentikan langkah. Dia menutupi diri sendiri karena terlalu penasaran dengan masalah orang lain. Hingga dia kembali memutar tubuh dan menatap ke arah keduanya. “Katakan denganku, Kenzo. Dia siapa?” Kenzo yang ditanya pun langsung tersenyum sinis. Sebelah bibirnya terangkat dan menjawab, “Dia kekasihku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN