bc

Cinta Rahasia Sang Pewaris Tahta

book_age18+
496
IKUTI
1.9K
BACA
badgirl
drama
no-couple
genius
city
enimies to lovers
first love
lonely
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Frans Geoff Richardson, seorang pewaris tunggal Geoff Company terjebak cinta terlarang dengan Paula Alexandra Connely, seorang PSK tanpa mucikari. Paula adalah cinta pertama pertama Frans saat kuliah di London, dan mereka tidak sengaja bertemu kembali di Indonesia saat Frans pindah ke rumah barunya dan ternyata Paula adalah tetangganya. Frans yang telah menikahi Gritte, diam-diam melakukan perselingkuhan dengan Paula. Akan tetapi, lama-kelamaan Gritte pun mengetahui perselingkuhan tersebut.

Lantas, siapakah yang akan dipilih oleh Frans? Apakah Frans akan memilih Paula? Apakah Frans akan merelakan reputasinya hancur sebagai pewaris tunggal Geoff Company?

Ikuti kisahnya dalam novel berjudul Cinta Rahasia Sang Pewaris Tahta.

chap-preview
Pratinjau gratis
London Love Story
Namanya Frans Geoff Richardson, dia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Universitas London. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Tuan dan Nyonya Richardson, pemilik salah satu perusahaan properti ternama di Jakarta. Frans digadang-gadangkan akan mewarisi Geoff Company, perusahaan ayahnya. Tapi, ia tidak menyukai dunia bisnis. Frans justru lebih tertarik dengan seni lukis. Dari kecil ia sudah menunjukkan bakat melukisnya, seperti memenangkan berbagai lomba tingkat sekolah sampai nasional, meski bagi orang tuanya bakat tersebut seolah tidak ada artinya. Begitu berusia dua puluh tahun, Frans memberanikan diri untuk kuliah seni lukis di salah satu Universitas ternama di London. Hal tersebut sempat mendapatkan penolakan dari kedua orang tuanya. Bahkan, Tuan Richardson mengancam untuk tidak akan menyerahkan Geoff Company pada Frans. Akan tetapi, keputusan Frans sudah bulat, ia tetap ingin memperjuangkan cita-citanya sendiri untuk menjadi seorang pelukis terkenal. Terhitung sudah tujuh tahun Frans di London. Ia telah menyelesaikan program bachelornya dan sedang fokus dengan studi magisternya. Kemampuan melukisnya pun semakin terasah. Ia bahkan sering ikut serta dalam pameran-pameran lukisan ternama di London. Lukisannya pernah dihargai hingga lima puluh ribu dollar. Frans sudah bertekad untuk membangun galeri lukisan sendiri di London begitu studi magisternya selesai. Lantas, bagaimana dengan haknya sebagai pewaris tunggal Geoff Company? Frans bahkan tidak pernah mengkhawatirkan hal itu. Sore itu, Frans datang ke Hyde Park, salah satu taman terindah di London, dengan membawa buku sketsanya. Ia memang sering mengunjungi tempat-tempat menarik di London untuk mencari inspirasi. Jika sudah berada di tempat asing itu, Frans sama sekali tidak terlihat seperti turis atau pendatang. Parasnya lebih mirip dengan orang Eropa. Kulitnya putih, hidungnya mancung dan matanya berwarna coklat. Frans juga terlihat lebih gagah dengan sedikit berewok di sekitar dagunya hingga ke pangkal telinga. Ya, Frans memang masih punya darah Eropa. Ayahnya adalah keturunan Inggris dan ibunya merupakan keturunan Indo-Belanda. Maka tak heran jika orang-orang di London sering mengiranya sebagai warga lokal. Tapi Frans selalu bisa membedakan orang Asia lainnya di London, apalagi orang Indonesia. Seperti sore itu, ia mendengarkan seorang perempuan bercakap-cakap di telepon menggunakan bahasa Indonesia. “Iya, Ma, akan aku usahakan,” ucap perempuan yang duduk persis di belakangnya. Frans memerhatikan gadis yang mengenakan outer panjang berwarna coklat itu. Rambutnya lurus panjang, berwarna hitam dengan sedikit tambahan warna coklat di bagian atasnya. Perempuan itu menyisipkan rambutnya ke belakang daun telinga saat meminum kopi yang digenggamnya. Reaksi itu membuat Frans dapat melihat lebih jelas wajah perempuan tersebut. Ternyata perempuan itu sangat cantik. Hidungnya mancung dengan kombinasi bibir mungil tapi berisi. “Hei, apa kau orang Indonesia?” Frans memberanikan diri untuk menegur. Perempuan itu mendelik dengan tatapan datar pada Frans. Mata hazel perempuan itu bertemu dengan mata coklat milik Frans, menciptakan sebuah sengatan listrik yang hanya bisa dimengerti oleh Frans sendiri. “Aku tadi mendengar kau berbicara dalam bahasa Indonesia,” terang Frans. “Kau tahu menguping pembicaraan orang adalah tindakan yang tidak sopan?” balas perempuan itu. Nadanya dingin sekali. “Oups, sorry.” Frans pindah duduk ke sebelah perempuan itu lantas mengulurkan tangannya. “Aku Frans, aku orang Indonesia juga.” Perempuan itu hanya menatap dingin pada telapak tangan Frans tanpa tergerak untuk menjabatnya. Frans pun menarik tangannya kembali. “Uh, baru kali ini aku ketemu dengan orang Indonesia yang … sombong,” sindir Frans. “Kenapa kau berani mencapku seperti itu? Kau bahkan belum mengenalku. Kau tidak berhak menilaiku, apalagi mengata-ngataiku.” “Itu sebabnya aku mengajakmu berkenalan, Nona. Sekadar menyebutkan nama saja apa susahnya, sih.” Perempuan itu menyunggingkan senyum sinisnya, tapi bagi Frans senyuman itu justru terlihat seperti senyuman maut, mematikan. “Aku bahkan tidak yakin kau orang Indonesia juga. Bahkan kau tidak terlihat seperti orang Asia.” “Ya, aku memang masih keturunan Inggris. Kakekku orang Inggris. Tapi, kedua orang tuaku menetap dan tinggal di Indonesia. Aku juga tumbuh besar di Indonesia,” terang Frans panjang lebar. Perempuan itu mendengus. Ia sangat tidak tertarik meladeni orang yang suka berbasa-basi seperti Frans. Lagipula, tujuannya datang ke Hyde Park bukanlah untuk mencari kenalan. Perempuan itu pun bangkit berdiri, bersiap pergi. “Hei, kau mau ke mana, Nona? Aku bahkan belum tahu namamu,” cegah Frans. “Aku akan menyebutkan namaku jika kita bertemu di Indonesia,” balas perempuan itu, tetap dengan nada dingin andalannya. “Ah, sayang sekali, sepertinya kita tidak akan bertemu di Indonesia,” desah Frans. “Ya, sudah, selamat melanjutkan aktivitasmu, Nona. Maaf karena telah mengganggu.” Frans membungkukkan badannya sebelum pergi meninggalkan perempuan cantik itu. Frans memboyong kembali buku sketsanya dan mencari tempat lain untuk melukis. Begitu Frans pergi, si perempuan justru memerhatikan Frans sampai punggung laki-laki itu menghilang dari pandangan. Baginya, sikap Frans itu aneh, menyisakan rasa penasaran. Perempuan itu sendiri bernama Paula Alexandra Connely. Ia memang orang Indonesia. Ia datang ke London hanya untuk berlibur dan menenangkan diri. Tapi, ternyata Paula tidak bisa benar-benar menikmati liburannya. Karena hampir setiap jam selalu ada yang meneleponnya, entah rentenir yang menagih hutang, atau mamanya yang minta dikirimkan uang untuk kebutuhan hidup. Tahun lalu, bisnis fashion milik mamanya bangkrut karena penipuan. Karena itu juga, sang mama jadi terlilit banyak hutang dan dikejar-kejar rentenir. Sebagai anak satu-satunya, Paula-lah yang bertanggung jawab untuk membiayai hidup sang mama dan turut membantu melunasi hutang-hutang tersebut. Namun, Paula selalu menyayangkan sikap sang mama yang tidak mau mengubah pola hidup. Ia tetap konsumtif, suka berbelanja ini itu, dan tidak mau terlihat seperti orang yang sedang terlilit hutang. Itulah yang membuat Paula semakin merasa tertekan. Sementara papanya, ah, Paula bahkan tidak pernah tahu seperti apa paras ayahnya itu. Bahkan namanya saja, Paula tidak pernah tahu. Baru saja Paula kembali duduk di kursi taman itu, ponselnya sudah kembali berdering. Panggilan dari mamanya lagi. “Paul, mama lupa mengabarkan, tagihan kartu kredit mama juga sudah jatuh tempo,” ujar Margareth, mamanya. “Mama bayarkan dululah, Ma, pakai uang bulanan yang Paula kirim kemarin,” sahut Paula. “Tapi uang kemarin juga sudah mama belikan ke tas branded, Sayang.” Paula menghela napas. Sang mama memang tidak pernah mau memahami keadaannya. Ia justru merasa diperas oleh mamanya sendiri. “Berapa tagihan kartu kredit mama?” “Lima ratus juta.” “Lima ratus juta?” Paula benar-benar terbelalak mendengarnya. Ia geleng-geleng kepala. Rahangnya mengeras. Ia bergegas mengakhiri panggilan itu sebelum ia mengeluarkan kata-kata kasar pada sang mama yang akan membuatnya terlihat seperti anak durhaka. Usai menghela dan menghembuskan napas jengah, Paula kembali bangkit berdiri. Sepertinya ia memang tidak punya waktu untuk berlibur.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook