Pulang Ke Indonesia

1050 Kata
Frans pulang ke apartemennya dengan memboyong buku sketsa yang telah berisi wajah Paula. Ia tersenyum sendiri dan merasa puas karena berhasil mengabadikan wajah perempuan itu, meski tidak tahu siapa namanya. Frans masih teringat sikap perempuan itu yang dingin dan ketus, tapi entah kenapa, justru hal itulah yang membuat Frans jatuh cinta. Tunggu, apa Frans baru saja mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Paula? Ah, ternyata cinta benar-benar bisa melesat lebih cepat dari pada kilat. Dzzzz… Dzzzz… Ponsel Frans berdering, panggilan masuk dari mamanya, Nyonya Richardson. Sambil melepaskan jaketnya, Frans pun mengangkat panggilan itu. “Halo, Ma! Ada apa?” “Frans, pulanglah sekarang, Nak!” “Kenapa, Ma? Ada apa? Apa mama sakit? Atau papa yang sakit?” Frans tampak khawatir mendengar permintaan sang mama. “Ya, kondisi kesehatan Papamu memang menurun belakangan ini. Tiga hari yang lalu dia juga sudah dirawat di rumah sakit. Frans, sepertinya papamu sudah tidak sanggup lagi memimpin perusahaan.” Frans menelan ludahnya, ia sudah tahu pembicaraan itu akan berujung ke mana. “Tapi aku tidak bisa memimpin perusahaan, Ma. Aku punya mimpi sendiri di sini.” “Frans, kamu adalah pewaris tunggal Geoff Company. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan mewarisi perusahaan? Frans, Charley semakin akrab dengan papamu. Sekarang ia menjadi wakil CEO di perusahaan. Mama tidak ingin papamu menyerahkan perusahaan padanya. Ia sama sekali tidak berhak. Kamu lebih berhak, Nak,” terang Nyonya Richardson. Frans menelan ludah untuk yang kedua kalinya begitu mendengar nama Charley. Charley adalah anak yang diadopsi Tuan Richardson semenjak sepuluh tahun yang lalu. Berbeda dengan Frans, Charley memang lebih patuh dan penurut. Bahkan Frans pun merasa bahwa Tuan Richardson lebih menyayangi Charley dari pada Frans. Terkadang, Frans justru merasa dirinya lah yang anak angkat, sementara Charley adalah anak kandung. “Mama tidak perlu khawatir jika perusahaan diberikan papa pada Charley. Aku akan membiayai kebutuhan mama setiap bulannya. Kalau perlu, Mama bisa tinggal denganku di London. Aku sudah berencana untuk membuka galeri di sini, Ma,” ujar Frans. “Bukan itu masalahnya, Frans. Ini bukan masalah harta mama. Tapi ini tentang hak kamu. Mama tidak akan rela jika perusahaan menjadi milik Charley. Sampai mati, mama tidak akan rela Frans.” Suara Nyonya Richardson terdengar bergetar ketika mengatakan hal itu. Frans paham maksudnya mamanya. Sang mama punya tujuan yang baik terhadapnya. Tapi, Frans tetap punya pilihan hidup sendiri. “Frans, jika kamu tidak pulang dan memimpin perusahaan, maka mama akan merasa gagal sebagai seorang ibu,” cetus Nyonya Richardson lagi. “Kamu tahu, Frans, Charley bukanlah sekadar anak pungut. Dia adalah anak haram hasil perselingkuhan ayahmu dengan wanita lain. Selama ini mama sudah mengalah. Mama tidak ingin mengalah lagi untuk hal satu ini. Kamu harus memenangkan mama kali ini, Frans.” Frans tersentak mendengar pernyataan sang mama. Telinganya langsung memerah. Ia tidak pernah menduga hal itu sebelumnya. “Frans, kamu harus membalaskan dendam mama. Kamu harus memimpin Geoff Company,” tegas Nyonya Richardson lagi. Sampai panggilan itu berakhir, Frans tidak bersuara. Ia terhenyak di tempat tidurnya, masih tidak percaya dengan kenyataan yang didengarnya. Bagaimana mungkin sang ayah yang sangat ia percayai selama ini justru telah mengkhianatinya dari sekian lama? Jika Frans saja sebagai anak terluka mendengarnya, lantas bagaimana dengan perasaan Nyonya Richardson sebagai seorang istri. Wanita itu pasti terluka berkali-kali lipat. Frans mengepalkan tangannya. Ia juga jadi tidak rela jika perusahaan diwariskan pada Charley yang jelas-jelas adalah anak dari perempuan yang telah menyakiti Nyonya Richardson, mamanya sendiri. d**a Frans naik turun karena menahan emosi. Isi kepalanya terasa berkecamuk. Apa ia harus pulang ke Indonesia? Lantas bagaimana dengan pendidikannya? Bagaimana dengan semua mimpi-mimpinya di London? *** Setelah menghabiskan waktu delapan belas jam di dalam pesawat, Frans pun akhirnya tiba di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Ia belum memberi tahu kepulangannya pada siapapun, termasuk mamanya sendiri. Frans merasa butuh waktu untuk menenangkan diri dan menyusun strategi baru untuk ke depannya. Ia telah mengorbankan semua mimpinya di London. Semua pengorbanan itu tidak boleh berakhir sia-sia. Dengan menaiki sebuah taksi, ia langsung menuju sebuah kompleks perumahan elite di kawasan Jakarta Selatan. Sebelum memutuskan pulang ke Indonesia, ia telah membeli sebuah rumah mewah di kompleks itu terlebih dahulu. Frans tidak ingin tinggal seatap dengan Charley, karena itu hanya akan membuatnya ingin membunuh manusia satu itu. Frans memasuki sebuah rumah mewah bernuansa Eropa dengan cat putih yang telah menjadi miliknya sendiri. Rumah itu memang masih kosong, belum banyak furniture dan perabotan. Frans juga sudah tidak punya tenaga untuk beres-beres terlebih dahulu, apalagi membeli furniture untuk kelengkapan rumah barunya. Tubuhnya lelah karena perjalanan dadakan selama delapan belas jam dari London ke Jakarta. Berhubung juga sudah malam, Frans hanya ingin tidur dan beristirahat. Kriiiinggg! Tap! Frans mematikan alarm. Ah, sial, kenapa juga ia harus menyetel alarm untuk bangun pagi. Padahal tubuhnya masih butuh adaptasi dengan segala perbedaan atmosphere London dan Jakarta. Tapi, Frans memang harus bangun pagi, banyak hal yang harus ia lakukan hari itu. Pria yang memiliki bulu d**a itu menggeliat di tempat tidurnya. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, ia sudah melangkah ke kamar mandi. Kucuran air hangat yang memancar dari shower membuat matanya sempurna terbuka. Sekitar lima menit kemudian, ia ke luar dari kamar mandi. Sembari menunggu rambutnya kering, pria itu menggigit sepotong roti, sisa tadi malam. Ia membuka lemari es: kosong. Untuk membasahi tenggorokannya, pria itu pun memasukkan kopi sachet ke dalam botol air mineral, juga sisa semalam. Setelah mengocoknya tidak lebih tiga kali, pria itu pun meneguk minuman tersebut. “Ah! Benar-benar tidak enak!” Terang saja, kopi yang semestinya diseduh dengan air panas di dalam cangkir keramik, justru ia campurkan dengan air mineral yang dijual eceran di mini market. Pria itu mengambil baju di lemari, satu-satunya baju yang sengaja ia gantungkan agar tidak kusut berantakan. Setidaknya dunia tidak perlu tahu betapa malang nasibnya pagi itu. Dzzzzz….! Dzzzz…! Ponselnya berdering, mengantarkan panggilan masuk dari Nyonya Richardson, mamanya. “Frans, apa benar kamu sudah pulang ke Indonesia?” tanya Nyonya Richardson langsung begitu panggilan itu terhubung. “Mama tahu dari mana?” sahut Frans heran. “Mama hubungi apartemenmu tapi petugas di sana mengatakan kau sudah pulang ke Indonesia. Kenapa tidak mengabari mama terlebih dahulu, hah?” “Tidak sempat, Ma.” “Apanya yang tidak sempat?” Nyonya Richardson heran dengan jawaban putranya itu. “Sekarang kamu di mana? Menginap di hotel mana? Kirim alamat kamu, biar Mama suruh Anwar menjemput kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN