Bertemu Kembali

1062 Kata
Setelah mematut diri di depan kaca dan memastikan bahwa dirinya terlihat baik-baik saja, Frans pun ke luar dari kamar. Ia menuruni tangga. Sepatunya yang berharga ratusan juta itu menyuarakan nada yang terdengar merdu saat menyentuh ubin. Ia pun berada di beranda rumah mewah itu. Anwar, supir pribadi keluarganya telah dalam perjalanan untuk menjemputnya. Sembari menunggu Anwar, Frans memerhatikan lingkungan tempat tinggal barunya yang tampak asri dan lebih tenang, seperti terisolasi dari hiruk pikuk Jakarta. Frans merasa yakin untuk tinggal di sana. Pandangan Frans beralih pada rumah yang bersebelahan dengan rumahnya. Rumah tersebut juga bernuansa Eropa, arsitekturnya hampir mirip meski tidak sama persis. Halaman rumah tersebut tampak terawat dengan berbagai kembang aneka warna. Frans dapat menduga bahwa pemiliknya pastilah orang yang menyukai keindahan. Tiba lama berselang, seorang wanita ke luar dari rumah bercat putih itu. Ia masih mengenakan setelan piyama dengan rambut yang diikat sekenanya. Namun anak rambutnya yang berserakan menyentuh telinga hingga leher jenjangnya justru membuat Frans terpana. Wanita itu telah beralih menyirami Anggrek dan Monstera, namun Frans masih terpaku di tempatnya berdiri. Frans yakin wanita itu pasti jauh lebih cantik dari pada aneka kembang yang ada di sebelahnya. Barangkali karena merasa diperhatikan, perempuan itu pun memutar tubuhnya dan menoleh pada Frans. Frans menyipitkan matanya untuk mengamati sosok yang berada sekitar delapan meter darinya itu. Lantas pupil mata Frans kontan membundar ketika menyadari bahwa perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan yang ditemuinya di London beberapa hari yang lalu. Frans benar-benar tersentak tidak percaya, namun sosok itu hanya bereaksi datar, lantas kembali memasuki kediamannya. Seiring dengan itu juga, Anwar pun tiba di halaman rumah Frans. Ia langsung membukakan pintu dan mempersilakan majikannya itu memasuki mobil. Di dalam mobil, Frans masih terpikirkan dengan perempuan tadi. Ia tersenyum sendiri karena ternyata bertetanggan dengan perempuan yang dicintainya. Jodoh memang tidak ke mana, pikir Frans. “Frans, mama sangat merindukanmu, Nak!” Nyonya Richardson langsung memeluk Frans ketika sang putra semata wayang menampakkan paras di hadapannya. “Mama senang sekali kau pulang ke Indonesia.” “I miss you too, Ma. Semua demi mama,” balas Frans. Nyonya Richardson tersenyum, di matanya menggenang air mata haru. Ia benar-benar bahagia. “Ayo, masuk, Nak. Papamu sudah menunggu.” Frans memasuki rumah megah tempat ia menghabiskan masa kecilnya itu. Di meja makan, hidangan sarapan sudah tersaji. Tuan Richardson duduk di kursi utama. Charley juga berada di meja yang sama. Frans mengabaikan Charley. Ia langsung mendekati Tuan Richardson dan mencium punggung tangan sang papa. “Bagaimana kesehatan papa?” tanyanya. “Sudah jauh lebih baik begitu melihat kedatanganmu,” balas Tuan Richardson. Frans tersenyum. “Senang bertemu denganmu kembali, Adikku,” ujar Charley pada Frans. Frans justru menyunggingkan senyum sinis. “Aku rasa aku adalah anak pertama di rumah ini, maksudku anak satu-satunya,” balas Frans tajam. Atmosphere ruangan itu langsung berubah, tak lagi hangat, melainkan panas dan membakar. “Kenapa kau tiba-tiba pulang ke Indonesia, Frans? Apa studi s2-mu telah selesai?” tanya Tuan Richardson di sela-sela sarapan. “Aku mendengar papa sedang sakit. Jadi aku langsung berinisiatif untuk pulang. Kupikir, papa akan butuh bantuanku untuk memimpin perusahaan,” jawab Frans. Tuan Richardson tersenyum. “Aku senang mendengarnya. Tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan perusahaan Frans, Charley mengelolanya dengan sangat baik selama papa sakit,” ucapnya dengan sedikit lirikan mata pada Charley. Terang saja pernyataan itu membuat lubang hidung Charley jadi mengembang. Sementara Frans mendengus sinis. Ia kembali memusatkan pandangan pada sang ayah. “Melihat kondisi kesehatan papa sekarang, bukankah lebih baik jika papa pensiun saja?” ujar Frans. “Ya, kau benar. Papa memang sudah memikirkan itu. Tapi, masih banyak yang harus papa pertimbangkan. Papa tidak bisa melepas perusahaan begitu saja. Papa masih punya tanggung jawab yang besar atas perusahaan.” “Papa tidak perlu khawatir. Aku sudah ada di sini. Aku siap memimpin perusahaan kapanpun papa butuhkan,” ucap Frans. Tuan Richardson tersenyum arti. Ia membasahi tenggorokannya dengan air putih. “Memimpin perusahaan bukanlah hal yang mudah, Frans. Banyak hal yang harus kamu pelajari. Papa tentu tidak bisa memberikan perusahaan begitu saja padamu.” Rahang Frans mengeras, ia merasa tersinggung. “Apa Papa meragukanku?” “Bukan meragukan, tapi pada kenyataannya kau memang tidak siap. Kau tidak tahu dan tidak mengerti dengan perusahaan,” tandas Tuan Richardson. “Tapi Frans tetap punya hak mutlak untuk melanjutkan perusahaan, Pa. Lagipula anak kita, Frans bukanlah anak yang bodoh. Ia pasti bisa belajar dengan cepat,” ujar Nyonya Richardson untuk membela Frans. “Aku paham maksudmu, tapi kita tetap tidak bisa mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Aku harus melihat kemampuan Frans terlebih dahulu, setelah itu baru aku bisa tenang mewarisi perusahaan untuk Frans,” balas Tuan Richardson pada istrinya, lantas ia memutar kepala menghadap Frans. “Kau harus menjadi bagian dari perusahaan terlebih dahulu sehingga kau bisa belajar lebih cepat, Frans.” Frans tidak menjawab. Ia sibuk mengendalikan emosinya. Lagi-lagi ia selalu diremehkan oleh ayahnya sendiri. “Pa, saya harus berangkat ke kantor terlebih dahulu. Ada meeting dengan klien dari Australia pagi ini,” ujar Charley. “Kita berangkat bersama,” balas Tuan Richardson sambil turut berdiri. Tuan Richardson dan Charley pun berangkat ke kantor, meninggalkan Frans dan sang mama di meja makan itu. “Kau lihat bagaimana ayahmu mendewakan anak haram itu, Frans,” ujar Nyonya Richardson. “Aku sudah pulang ke Indonesia dengan mengorban semua pencapaianku di London. Aku tidak akan menyia-nyiakan semuanya begitu saja, Ma. Mama tenang saja, Geoff Company hanya akan menjadi milikku,” balas Frans. Ia pun turut bangkit berdiri dan menyusul Tuan Richardson dan Charley. “Kau mau ke mana, Frans?” tanya Tuan Richardson ketika melihat Frans juga menyusulnya ke halaman. “Aku akan ikut ke kantor, Pa. Bukankah aku harus mempelajari perusahaan? Maka aku rasa, aku harus memulainya dari sekarang,” jawab Frans. “Bagus. Mari berangkat bersama.” Mereka berempat: Frans, Charley, Tuan Richardson serta Anwar sebagai supir. Charley melirik Frans dengan sinis. Kedatangan Frans tentu akan membuat posisi Charley terancam. Terlebih Frans adalah anak kandung Tuan Richardson dari pernikahan sah Tuan dan Nyonya Richardson. Sementara Charley sendiri hanya diakui sebagai anak angkat kendati ia juga mewarisi darah Tuan Richardson. Mobil mewah itu pun melaju di jalanan, berpacu dengan kendaraan lainnya, hingga mengantarkan mereka ke Geoff Company, sebuah perusahaan properti ternama di Indonesia. Kedatangan Frans ke perusahaan itu benar-benar mencuri perhatian semua orang. Bagaimana tidak, parasnya yang tampan dan statusnya sebagai pewaris tunggal Geoff Company membuat semua orang ingin menjalin relasi dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN